Sukoharjonews.com – Siswa SMP Muhammadiyah Program Khusus (SMP Muhammadiyah PK) Kottabarat Solo menginap di rumah warga Desa Ketitang, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali. Program “home stay” tersebut diikuti 124 siswa kelas 7 selama tiga hari. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengajarkan karakter kearifan lokal.
“Program unggulan sekolah berupa “home stay” memang didesain untuk mengajak para siswa belajar di masyarakat. Kegiatan tersebut untuk memperkuat karakter kearifan lokal para siswa seperti kemandirian, rasa syukur, dan gaya hidup sederhana,” ujar Kepala SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Muhdiyatmoko, dalam rilis yang diterima Sukoharjonews.com, Senin (13/11/2023).
“Kegiatan home stay rutin dilakukan setiap tahun dan wajib diiikuti siswa kelas 7. Para siswa kita titipkan di rumah orang tua asuh selama tiga hari dua malam untuk mengikuti kegiatan bersama orang tua tersebut seperti mengolah sawah, mencari pakan ternak, membantu memasak, keberihan di rumah, dan sebagainya,” sambungnya.
Muhdiyatmoko melanjutkan, hari pertama home stay, para siswa melakukan ramah tamah dengan orang tua asuh, mengenal profil keluarga, dan mengenal lingkungan masyarakat sekitar. Selain itu, para siswa mengajar santri dan menggelar ragam perlombaan di TPA Masjid Taqwa. Perlombaan tersebut seperti lomba azan, lomba hafalan surat, mewarnai, lomba tafidz, murrotal, dan mewarnai. Agar melatih percaya diri tampil di depan publik, setiap selesai sholat berjamaah secara bergiliran para siswa melakukan ceramah kultum.
Hari kedua, para siswa diajak untuk belajar ke home industri di Desa Pilang. Terdapat home industri pembuatan tempe dan rambak. Mereka naik kereta kelinci sembari menikmati suasana sejuk persawahan. Pemilik home industri pembuatan tempe, Pak Agus, mengaku senang menerima kedatangan para siswa. Pak Agus mengajak para siswa melihat proses pembuatan tempe. Hal serupa juga disampaikan Bu Yuli, pemilik home industri pembuatan rambak. Ia mengajak para siswa praktik memotong adonan rambak.
“Saya jelaskan kepada anak-anak bagaimana cara membuat rambak dari mempersiapkan tepung terigu, tepung tapioka, bumbu ketumbar, membuat adonan hingga memotong adonan rambak,” ungkap Yuli, pengusaha rambak.
Sementara itu, Takmir Masjid At Taqwa, Pilang, Supriyatno, mengaku senang dan bahagia karena suasana desa menjadi seperti kampung santri. Biasanya suasana sepi, sekarang mendadak desa menjadi ramai aktivitas anak-anak.
Hari terakhir home stay diisi dengan kegiatan pengajian dan bakti sosial. Pengajian akbar digelar di Masjid Taqwa Pilang dengan pembicara Ustadz Muhammad Muslih. Peserta pengajian adalah warga masyarakat desa. (nano)
Tinggalkan Komentar