Sukoharjonews.com – Kaprahnya, azan dan iqamah dikumandangkan ketika kita hendak menunaikan shalat fardhu secara ada’ (di waktunya). Sementara pada saat shalat fardhu secara qadha’, jarang kita mengumandangkan adzan dan iqamah terlebih dahulu. Sebenarnya, apakah qadha shalat harus adzan menurut ulama?
Dilansir dari Bincang Syariah, rabu (21/10/2026), azan dan iqamah disunnahkan untuk dikumandangkan dalam setiap shalat fardhu, baik yang dilakukan secara ada’ maupun qadha’. Oleh sebab itu, jika kita hendak menunaikan shalat fardhu’ secara qadha’, maka seyogyanya kita mengumandangkan adzan dan iqamah terlebih dahulu karena keduanya termasuk perkara yang disunnahkan.
Hal ini sebagaimana keterangan Syekh Zakaria Al-Anshari dalam kitabnya Fathul Wahhab Juz I halaman 39;
«سن أذان وإقامة لرجل ولو منفردا لمكتوبة ولو فائتة
Artinya; “Disunnahkan adzan dan Iqamah bagi laki-laki ketika hendak shalat lima waktu, walaupun shalatnya dilakukan secara qadha’ atau sendirian.”
Dikisahkan dalam suatu hadis bahwa kanjeng Nabi dan para sahabat pernah mengalami bangun kesiangan ketika hendak melakukan shalat subuh. Begitu akan menunaikan shalat subuh secara qadha’, Nabi memerintahkan Bilal agar mengumandangkan azan.
Hadis ini kemudian menjadi dalil bahwa kesunnahan adzan juga berlaku saat hendak melakukan shalat fardhu’ secara qadha’. Hadis yang dimaksud adalah hadis berikut ini:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سِرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً، فَقَالَ: بَعْضُ القَوْمِ: لَوْ عَرَّسْتَ بِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: أَخَافُ أَنْ تَنَامُوا عَنِ الصَّلاَةِ قَالَ بِلاَلٌ: أَنَا أُوقِظُكُمْ. فَاضْطَجَعُوا. وَأَسْنَدَ بِلاَلٌ ظَهْرَهُ إِلَى رَاحِلَتِهِ، فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ فَنَامَ. فَاسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَدْ طَلَعَ حَاجِبُ الشَّمْسِ، فَقَالَ: يَا بِلاَلُ، أَيْنَ مَا قُلْتَ؟ قَالَ: مَا أُلْقِيَتْ عَلَيَّ نَوْمَةٌ مِثْلُهَا قَطُّ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ قَبَضَ أَرْوَاحَكُمْ حِينَ شَاءَ، وَرَدَّهَا عَلَيْكُمْ حِينَ شَاءَ، يَا بِلاَلُ، قُمْ فَأَذِّنْ بِالنَّاسِ بِالصَّلاَةِ! فَتَوَضَّأَ، فَلَمَّا ارْتَفَعَتِ الشَّمْسُ وَابْيَاضَّتْ، قَامَ فَصَلَّى
Dari Abdullah ibn Abi Qatadah dari ayahnya berkata: “Kami pernah melakukan perjalanan (yang melelahkan) bersama Nabi SAW, hingga pada suatu malam. Sebahagian orang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa Anda tidak istirahat sebentar bersama kami?” Beliau menjawab, “Aku khawatir kalian tertidur sehingga terlewatkan shalat (subuh).” Bilal berkata, “Aku akan membangunkan kalian.”
Maka mereka pun berbaring, sedangkan Bilal bersandar pada hewan tunggangannya. Namun ternyata rasa kantuk mengalahkannya dan akhirnya Bilal pun tertidur.
Ketika kanjeng nabi terbangun, ternyata matahari telah mulai menampakkan sinarnya, maka beliau pun berkata, “Wahai Bilal, mana janji yang kau ucapkan?”
“Aku belum pernah sekalipun merasakan kantuk seperti ini sebelumnya,” jawab Bilal. Beliau lalu bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT memegang ruh-ruh dari kalian menurut kehendak-Nya, dan mengembalikan mereka kepada kalian, juga sebagaimana kehendak-Nya. Wahai Bilal, berdirilah dan Adzanlah (umumkan) kepada orang-orang untuk shalat! “Rasulullah Saw. pun berwudhu. Begitu matahari meninggi dan tampak sinar putihnya, beliau pun berdiri melaksanakan Shalat.”
Dengan demikian menjadi jelaslah jawaban atas pertanyaan apakah qadha shalat harus adzan? Maka ulama mengatakan bahwa menunaikan shalat fardhu secara qadha kita disunnahkan mengumandangkan azan dan iqamah. Wallahu a’lam. (nano)
Tinggalkan Komentar