
Sukoharjonews.com – Kamar yang gelap adalah tempat terbaik untuk tidur. Namun, pada jam-jam sebelum tidur, warna cahaya yang lebih hangat, seperti kuning dan jingga, lebih baik daripada cahaya yang lebih dingin, seperti cahaya biru dari perangkat elektronik. Ini karena cahaya memainkan peran penting dalam mengatur tidur dan terjaga kita.
Bagaimana Cahaya Mempengaruhi Tidur?
Dikutip dari Sleepfoundation, Rabu (11/12/2024), cahaya memengaruhi jam biologis alami tubuh yang berlangsung selama 24 jam yang mengatur waktu tidur, komponen penting dari ritme sirkadian setiap orang. Saat cuaca cerah, tubuh tahu bahwa sudah waktunya untuk bangun, dan saat cuaca gelap, tubuh bersiap untuk tidur.
Cahaya juga memengaruhi pelepasan melatonin, hormon alami yang membantu tidur. Kelenjar pineal di otak memproduksi melatonin sebagai respons terhadap kegelapan. Namun, jenis cahaya tertentu dapat mencegah produksi melatonin. Paparan cahaya terang dan warna bernada dingin, seperti cahaya biru dari ponsel, komputer, dan televisi, dapat menghambat produksi melatonin dan membuat seseorang tetap terjaga.
Namun, dalam beberapa kasus, cahaya buatan dapat digunakan untuk membantu orang dengan kondisi kesehatan yang mengganggu ritme sirkadian. Terapi cahaya bekerja dengan memaparkan seseorang pada cahaya buatan yang terang pada waktu-waktu tertentu sepanjang hari untuk mengatur ulang jam sirkadian. Terapi cahaya dapat menjadi pilihan pengobatan untuk insomnia, gangguan tidur ritme sirkadian, depresi musiman, dan bahkan jet lag.
Lampu Warna Terbaik Untuk Tidur
Warna-warna hangat seperti merah, jingga, dan kuning lebih baik untuk mempersiapkan pikiran dan tubuh untuk tidur. Bahkan, beberapa ahli menyarankan untuk beralih ke warna-warna hangat. Berbagai warna cahaya hangat dari merah hingga kuning dapat memengaruhi tubuh dengan cara yang unik.
Lampu merah
Lampu merah tidak memengaruhi ritme sirkadian, jadi lampu ini merupakan salah satu lampu terbaik untuk digunakan di malam hari. Penelitian telah menunjukkan bahwa paparan lampu merah dapat meningkatkan kualitas tidur. Paparan cahaya merah saat tidur dan saat bangun tidur dapat mengurangi kemungkinan merasa lelah dan bingung di pagi hari, yang dikenal sebagai inersia tidur. Namun, jika cahaya merah terlalu terang dapat menekan produksi melatonin.
Lampu Kuning dan Oranye
Lampu berwarna kuning dan jingga redup memiliki dampak kecil pada ritme sirkadian dan merupakan pilihan yang baik untuk digunakan di malam hari. Paparan cahaya ini dapat meningkatkan produksi melatonin, terutama jika dibandingkan dengan warna yang lebih dingin seperti cahaya biru.
Warna Cahaya Terburuk untuk Tidur
Cahaya yang terang dan berwarna dingin dapat mempersulit tubuh untuk beralih ke kondisi mengantuk. Berbeda dengan warna hangat yang dapat membantu tidur, warna yang lebih dingin memberi sinyal kepada tubuh bahwa sudah waktunya untuk bangun, Karena cahaya dingin mendorong perhatian dan kewaspadaan, cahaya tersebut dapat mengganggu tidur jika dilihat pada malam hari.
Cahaya Biru
Reseptor cahaya di mata yang mempengaruhi ritme sirkadian sangat sensitif terhadap cahaya biru. Cahaya biru tidak hanya menekan melatonin, tetapi juga mengaktifkan ritme sirkadian untuk membantu tubuh tetap waspada. Melihat cahaya biru secara teratur di malam hari meyakinkan tubuh bahwa saat itu masih siang hari, yang dapat mengganggu ritme sirkadian dan mengurangi kualitas tidur.
Cahaya biru dipancarkan dari banyak lampu buatan dan layar elektronik, seperti ponsel, komputer, dan televisi. Hindari penggunaan perangkat elektronik yang memancarkan cahaya biru setidaknya satu jam sebelum tidur. Selain itu, pertimbangkan untuk menggunakan kacamata pemblokir cahaya biru, yang telah terbukti dapat meningkatkan kualitas tidur pada penderita insomnia.
Lampu hijau
Mirip dengan cahaya biru, cahaya hijau juga mengurangi rasa kantuk dengan mengurangi produksi melatonin. Meskipun cahaya biru dapat mengurangi kadar melatonin dua kali lipat dari cahaya hijau, Anda mungkin tetap ingin menghindari menonton cahaya hijau sebelum tidur. (mg-03/nano)



Facebook Comments