Simak di Sini, Berikut Ini Hukum Mengqadha Shalat Tarawih

Ilustrasi. (Dok Kemenag)

Sukoharjonews.com — Pada saat Ramadhan Nabi menganjurkan kita untuk menghidupkan malamnya dengan membaca Al-Qur’an dan shalat tarawih. Adapun waktu shalat tarawih setelah shalat Isya sampai terbitnya fajar. Namun, ada seseorang tak sempat mengerjakan shalat tarawih pada waktu, lantas ia menqadha taraweh tersebut. Nah dalam fiqih Islam, bagaimana hukum mengqadha shalat tarawih?

Menurut Dar Ifta Mesir, mengatakan sunah hukumnya mengqadha shalat sunah tarawih. Maka bagi orang yang luput (tak sempat) atau kehabisan waktu mengerjakan shalat sunah tarawih, maka sunah baginya untuk mengqadhanya. Lembaga Fatwa Mesir mengatakan;

وعليه فمن فاتته صلاة التراويح ندب له قضاؤها على المفتى به

Artinya: bagi orang yang luput mengerjakan shalat tarawih, maka sunah baginya untuk mengqadha shalatnya. Begitulah fatwa hukum atas qadha shalat tarawih.

Namun, harus kita akui bahwa pendapat ini bukan ijmak (kesepakatan) para ulama empat mazhab. Para ulam sejatinya, berbeda pendapat terkait hukum mengqadha shalat tarawih bagi orang yang tak sempat melaksanakan. Mereka terbagi pada pelbagai macam pendapat terkait hukum mengqadha shalat tarawih.

Mengqadha Shalat Tarawih Menurut Mazhab Hanafi dan Hanbali
Adapun ulama dari kalangan Mazhab Hanafi dan Mazhab Hanbali mengatakan tidak ada qadha bagi shalat tarawih. Pasalnya, shalat tarawih bukan shalat sunat muakkad (Baca; An-Naflul Muaqqat, yaitu shalat sunah yang ada durasi waktu tertentu) bagi shalat sunah Magrib dan Isya.

Berangkat dari itu maka mazhab Hanafi dan Hanbali menyimpulkan tak ada qadha bagi shalat tarawih. Lembaga Fatwa Mesir itu mengatakan sebagai berikut;

إذا فاتت صلاة التراويح عن وقتها بطلوع الفجر، فقد ذهب الحنفية في الأصح عندهم والحنابلة في ظاهر كلامهم إلى أنها لا تقضى؛ لأنها ليست بآكد من سنة المغرب والعشاء، وتلك لا تقضى فكذلك هذه

Artinya: apabila luput (tak shalat tarawih) pada waktunya sebab terbit fajar, maka para ulama dari kalangan mazhab Hanafi dan ulama dari Mazhab Hanbali mengatakan bahwa tidak ada qadha tarawih. Pasalnya, tarawih tidak masuk pada muakkad dari shalat sunah Magrib dan Isya. Demikian alasan kuat tak ada qadha bagi shalat tarawih.

Mengqadha Shalat Tarawih Menurut Mazhab Syafi’i
Sementara itu, ulama dari kalangan Mazhab Syafi’i mengatakan boleh hukumnya mengqadha shalat tarawih. Pendapat ini sebagaimana termaktub dalam kitab Mughni Muhtaj, Jilid I, Halaman 457, karya Muhammad Khatib Asy-Syarbini. Imam Khatib Syarbini mengatakan bahwa mengqadha shalat sunah yang ada durasi waktu tertentu (naflu muaqqat) hukumnya adalah sunah.

Khatib Syarbini berkata;

(وَلَوْ فَاتَ النَّفلُ الْمُؤَقَّتُ) سُنَّتِ الْجَمَاعَةُ فِيهِ كَصَلَاةِ الْعِيدِ أَوْ لَا كَصَلَاةِ الضُّحَى (نُدِبَ قَضَاؤُهُ فِي الْأَظْهَرِ)

Artinya; Apabila luput waktu shalat sunah muaqqat (yang ada batasan waktu), seperti shalat sunah yang ada anjuran berjamaah seperti shalat hari raya atau tidak seperti shalat Dhuha, maka sunah mengqadha’nya menurut pendapat yang jelas.

Sunah hukum mengqadha shalat sunat tarawih juga merupakan pendapat Imam Nawawi. Pendapat itu termaktub dalam kitab Minhaj ath- Thalibin. Alasan kebolehan menqadha taraweh, bagi Imam Nawawi shalat tarawih tergolong shalat sunah yang ada batasan waktu (naflu muaqqat). Dalam Mazhab Syafi’i shalat sunat yang ada batasan waktu, maka hukum mengqadhanya adalah boleh dan disunatkan.

Imam Nawawi berkata;

لَوْ فَاتَ النَّفَلُ الْمُؤَقَّتُ نُدِبَ قَضَاؤُهُ فِي الأَظْهَرِ

Artinya; Jika luput (tidak sempat mengerjakan tarawih), maka sunah hukumnya untuk mengqadahnya menurut pendapat yang jelas dari mazhab syafi’i.

Dalil Kebolehan Mengqadha Shalat Tarawih
Dalil tentang kebolehan mengqadha shalat sunah tarawih itu sebagaimana terdapat dalam hadis baginda Nabi Muhammad. Dalam hadis tersebut terdapat keterangan bahwa Nabi mengqadha dua rakaat qabliyyah Subuh (shalat sunah sebelum Subuh) ketika beliau tertidur di daerah lembah Wadi dari shalat Subuh sampai matahari terbit. Berikut bunyi hadis Nabi Muhammad tersebut;

وَلِأَنَّهُ صلى الله عليه وسلم قَضَى رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ لَمَّا نَامَ فِي الْوَادِي عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ إلَى أَنْ طَلَعَتِ الشَّمْسُ

Artinya: Karena sesungguhnya Nabi Muhammad SAW, mengqadha shalat sunah fajar, ketika tertidur di lembah Wadi, dari shalat Subuh sampai terbit matahari.

Ada juga hadis lain yang bersumber dari Imam Bukhari dan Muslim. Dalam hadis shahih ini terdapat keterangan bahwa seorang yang lupa atau tertidur dan dia belum melaksanakan shalat, maka kata Nabi dia sunah untuk segera shalat apabila telah tersadar atau ingat. Nabi bersabda;

مَنْ نَامَ عَنْ صَلَاةٍ أَوْ نَسِيَهَا فَلْيُصَلِّهَا إذَا ذَكَرَهَا

Artinya: barang siapa yang tertidur dan lupa mengerjakan shalat, maka ketika ia terbangun dan ingat belum shalat, sunah untuk segera shalat.

Adapun para ulama dari kalangan Mazhab Maliki mengatakan tak ada anjuran mengqadha shalat sunah selain shalat sunat sebelum subuh. Pendapat ini sebagaimana dinukil dari kitab Hasyiyah as Shawi a’la Syarh as Shagir, karya Ahmad bin Muhammad AS Shawi al Maliki. Dalam kitab tersebut, Ahmad As Shawi dari kalangan Maliki menyebutkan tak ada suruhan qadha shalat sunah selain shalat sunah dua rakaat sebelum fajar.

Dalam Hasyiyah as Shawi a’la Syarh as Shagir dijelaskan;

وَلا يُقْضَى نَفْلٌ خَرَجَ وَقْتُهُ سِوَاهَا – أي: ركعتي الفجر-. انتهى

Artinya; tidak diqadha shalat sunah yang telah habis waktunya, selain shalat sunah dua rakaat fajar. Selesai.

Demikian penjelasan fiqih Islam terkait hukum mengqadha shalat sunah tarawih. Semoga bermanfaat. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar