Simak di Sini, Berikut Ini 7 Sifat Buruk dalam Nafsu Amarah

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Sukoharjonews.com – Nafsu amarah merupakan salah satu tingkatan nafsu yang cenderung kepada tabiat jasmani, kelezatan duniawi, dan kenikmatan sementara. Menurut KH. Sholeh Darat dalam kitab Syarh Hikam, nafsu ini memiliki tujuh sifat buruk yang menjadi penghalang manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dikutip dari Bincang Syariah, Kamis (9/4/2026), ketujuh sifat ini harus diperangi agar manusia dapat mencapai kehidupan yang lebih mulia dan diridhai-Nya.

Sifat pertama adalah syahwat yang merupakan dorongan untuk memenuhi keinginan fisik tanpa kendali, baik dalam makan, minum, maupun hubungan dengan sesama. Syahwat yang tidak terkendali dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa. KH. Sholeh Darat menekankan pentingnya melatih diri (riyadhah) dan menjauhi pergaulan saat makan dan minum untuk memadamkan syahwat ini.

Sifat kedua adalah ghadhab atau amarah yang berlebihan. Nafsu ini mendorong seseorang untuk marah, membenci, bahkan mencederai orang lain. Amarah yang tidak terkendali akan menutup akal sehat dan menghancurkan hubungan antar manusia. Solusi untuk sifat ini adalah melatih diri menjadi lapang dada dan selalu bersikap tenang dalam menghadapi situasi yang memancing emosi.

Sifat ketiga adalah takabbur, yakni merasa diri lebih baik dari orang lain. Takabbur adalah akar dari sifat buruk lainnya, seperti meremehkan orang lain dan menolak kebenaran. Untuk mengatasi takabbur, seseorang harus menanamkan sifat tawadhu (rendah hati) dan menyadari bahwa segala kelebihan adalah pemberian Allah semata.

Dengki merupakan sifat keempat dalam nafsu amarah. Dengki adalah rasa tidak senang atas keberhasilan atau kenikmatan yang diperoleh orang lain, disertai keinginan agar nikmat tersebut hilang darinya. Untuk membunuh sifat dengki, manusia harus meyakini bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu, dan Dia memberikan nikmat sesuai kehendak-Nya.

Sifat kelima adalah sombong, baik sombong secara jasmani maupun rohani. Sombong jasmani tampak dalam kebanggaan atas fisik, sedangkan sombong rohani meliputi ilmu, ibadah, dan amal kebaikan. Qana’ah, yakni sikap menerima apa yang telah diberikan Allah, menjadi obat untuk sifat ini.

Rakus, sifat keenam, adalah keinginan berlebihan terhadap duniawi, seperti harta dan kekuasaan. Nafsu rakus ini membuat manusia lupa akan hakikat kehidupan akhirat. Melatih diri untuk merasa cukup (qana’ah) menjadi kunci untuk mengatasi sifat ini, sehingga manusia dapat hidup dengan penuh rasa syukur.

Terakhir, riya’, yakni melakukan amal kebaikan untuk dipuji atau dilihat orang lain. Riya’ merupakan penyakit hati yang paling halus, namun sangat berbahaya. Untuk memadamkan riya’, seseorang harus meluruskan niatnya menjadi ikhlas hanya untuk Allah.

Sholeh Darat mengingatkan bahwa perjuangan melawan ketujuh sifat buruk ini adalah kewajiban yang harus dilakukan sebelum ajal menjemput. Dengan membunuh sifat-sifat buruk tersebut, manusia akan mendekat kepada Allah dan hidup dalam keberkahan. Wa Allahu A’lam bis Shawab. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar