Simak di Sini, Berikut 4 Cara Menenangkan Hati ala Imam al-Ghazali

Ilustrasi. (Dok Kemenag)

Sukoharjonews.com – Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan tentang cara menenangkan hati ala Imam Ghazali. Dalam tradisi tasawuf, banyak ulama menawarkan jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Salah satu yang paling membumi dan tetap relevan hingga kini adalah Imam al-Ghazali.

Dikutip dari Bincang Syariah, Jumat (16/1/2026), dalam karya-karya monumentalnya, terutama Ihya’ Ulumuddin, tidak hanya menyajikan teori, tetapi juga resep spiritual yang sederhana namun dalam maknanya—cara-cara yang bisa dipraktekkan sehari-hari untuk menenangkan hati dan ketenangan jiwa.

Berikut ini empat resep utama yang diajarkan Imam al-Ghazali:

1. Kurangi Bicara, Perbanyak Zikir
Menurut al-Ghazali, banyak bicara membuat hati kering dan mudah lalai. Sebaliknya, diam yang disertai dzikir menjadi pintu masuk cahaya ke dalam hati. Ia menulis:

“Barang siapa memperbanyak kata-kata, maka banyak pula kesalahannya. Dan barang siapa banyak salahnya, hatinya menjadi mati.” (Ihya’ Ulumuddin, Jilid 3, hlm. 128)

2. Makan Secukupnya, Jangan Berlebihan
Bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga ruhani. Makan yang berlebihan mengeraskan hati dan mematikan cahaya batin. Imam al-Ghazali mencontohkan Nabi Saw. yang bersabda:

“Tidak ada wadah yang lebih buruk dipenuhi anak Adam selain perutnya.” (Ihya’, Jilid 3, hlm. 106)

3. Bangun Malam, Walau Hanya Dua Rakaat
Qiyamul lail adalah waktu paling sunyi, tempat hati berbicara tanpa gangguan. Al-Ghazali menganjurkan agar walau sibuk, seseorang tetap menyempatkan tahajjud. Ia berkata,

“Rahasia kebaikan terletak pada malam. Siapa yang ingin hatinya hidup, maka bangunlah di sepertiga malam terakhir.” (Ihya’, Jilid 1, hlm. 314)

4. Menyepi Sejenak untuk Mengenal Diri
Sesekali menjauh dari keramaian bukan lari dari dunia, tetapi cara untuk menata batin. Al-Ghazali menyebut ini sebagai khalwah. Ia menulis:

“Barang siapa tak pernah menyendiri, ia tak akan pernah mengenal dirinya sendiri. Dan barang siapa tak mengenal dirinya, ia tak akan mengenal Tuhannya.” (Ihya’, Jilid 4, hlm. 221)

Penutup
Resep spiritual dari Imam al-Ghazali ini tidak memerlukan alat khusus atau tempat khusus. Yang dibutuhkan hanya niat yang jujur dan konsistensi yang tulus. Dalam dunia yang bising dan penuh distraksi seperti sekarang, ajaran ini terasa makin relevan—sebagai pengingat bahwa ketenangan tidak harus dicari di luar, tapi dibangun dari dalam. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar