Simak di Sini, Bagaimana Cara Mandi Junub dan Haid Bersamaan?

Ilustrasi. (Dok Kemenag)

Sukoharjonews.com – Salah seorang perempuan bertanya cara bersuci dari haid yang juga sekaligus junub. Konteksnya, ia sedang haid lalu lantaran satu dan lain hal ia keluar mani yang mana mewajibkan atas seseorang untuk mandi wajib. Lalu bagaimanakah cara mandi junub dan haid yang bersamaan? Apakah mandi wajib untuk junubnya kemudian setelah haidnya selesai ia mandi wajib lagi untuk bersuci dari haidnya?

Dilansir dari Bincang Syariah, Minggu (31/5/2026), berkaitan dengan persoalan bagaimana cara mandi junub dan haid bersamaan, Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm juz 1 halaman 61 secara gamblang menjelaskan bahwa perempuan yang mengalami junub dan belum sempat mandi wajib lalu datang haid, maka bersucinya cukup sekali yaitu mandi wajib atau bersuci lantaran haidnya nanti ketika selesai.

(قَالَ الشَّافِعِيُّ): إذَا أَصَابَتْ الْمَرْأَةَ جَنَابَةٌ ثُمَّ حَاضَتْ قَبْلَ أَنْ تَغْتَسِلَ مِنْ الْجَنَابَةِ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا غُسْلُ الْجَنَابَةِ وَهِيَ حَائِضٌ؛ لِأَنَّهَا إنَّمَا تَغْتَسِلُ فَتَطْهُرُ بِالْغُسْلِ وَهِيَ لَا تَطْهُرُ بِالْغُسْلِ مِنْ الْجَنَابَةِ وَهِيَ حَائِضٌ فَإِذَا ذَهَبَ الْحَيْضُ عَنْهَا أَجْزَأَهَا غُسْلٌ وَاحِدٌ.

“Apa bila perempuan mengalami junub kemudian haid sebelum sempat mandi wajib maka perempuan itu tak perlu mandi janabah sementara ia haid. Karena perempuan itu hanya mandi dan suci dengan mandi sementara ia tidak bisa suci dari janabah sebab ia sedang haid. Maka ketika haidnya selesai maka perempuan itu cukup mandi wajib sekali untuk bersuci dari semuanya”.

Tak jauh beda, Syekh Muhammad Khatib al-Syarbini menjelaskan dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj juz 1 halaman 223 bahwa perempuan yang punya dua hadas semisal junub dan haid maka mandi wajib untuk salah satunya sudah dianggap cukup.

وَمَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ فَرْضَانِ كَغُسْلَيْ جَنَابَةٍ وَحَيْضٍ كَفَاهُ الْغُسْلُ لِأَحَدِهِمَا، … وَلَا يَضُرُّ التَّشْرِيكُ … لِأَنَّ مَبْنَى الطَّهَارَاتِ عَلَى التَّدَاخُلِ كَمَا مَرَّ

“Barang siapa yang wajib dua fardu semisal mandi junub dan haid maka cukup mandi sekali untuk salah satunya. Dan tidak ada efek dalam penyatuan mandi tersebut. Karena pijakan bersuci adalah saling masuk satu sama lain sebagaimana yang lalu”.

Bedanya keterangan di atas dengan Imam Syafi’i, Syekh Khatib al-Syarbini secara tasyri dan tegas menyatakan kecukupan mandi wajib itu, baik untuk junub atau haid. Sementara Imam Syafi’i seolah mandi haid yang mencukupi. Kendatipun substansinya sama.

Ketentuan-ketentuan tersebut kemudian dihimpun dalam salah satu kaidah fikih yang membawahi berbagai kasus yang serupa. Sebagaimana Imam al-Suyuthi mencatat dalam kitab al-Asybah al-Nadza’ir halaman 126.

الْقَاعِدَةُ التَّاسِعَةُ: إذَا اجْتَمَعَ أَمْرَانِ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ وَلَمْ يَخْتَلِفْ مَقْصُودُهُمَا دَخَلَ أَحَدُهُمَا فِي الْآخَرِ غَالِبًا

“Kaidah Kesembilan: Apabila berkumpul dua perkara dari satu jenis sementara tujuan sama maka salah satunya include pada yang lain”.

Imam al-Suyuthi mencontoh beberapa kasus yang ada di bawah kaidah tersebut.

فَمِنْ فُرُوعِ ذَلِكَ إذَا اجْتَمَعَ حَدَثٌ وَجَنَابَةٌ، كَفَى الْغُسْلُ عَلَى الْمَذْهَبِ، كَمَا لَوْ اجْتَمَعَ جَنَابَةٌ وَحَيْضٌ

“Di antara cabang kaidah itu adalah apabila berkumpul hadas dan junub maka cukup sekali bersuci menurut mazhab sebagaimana bila berkumpul antara junub dengan haid”.

Dari keterangan di atas, maka untuk menjawab kebingungan yang bertanya tentang Bagaimana cara mandi junub dan haid sekaligus di atas maka jawabannya cukup mandi sekali saja. Baik niatnya adalah junub atau haid asalkan dilakukan setelah haidnya selesai. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar