Simak 7 Pengaruh Makanan Berminyak bagi Tubuh Anda

Pengaruh makanan berminyak bagi tubuh (Foto: Doctor Kiltz)

Sukoharjonews.com – Tinggi kalori, lemak, dan garam, serta rendah nutrisi sehat, makanan berminyak memiliki efek kesehatan jangka pendek dan jangka panjang. Makanan berminyak tidak hanya ditemukan di kedai makanan cepat saji tetapi juga di tempat kerja, restoran, sekolah, dan bahkan rumah Anda.

Dikutip dari healthline, Minggu (01/12/2024), kebanyakan makanan yang digoreng atau dimasak dengan minyak berlebih dianggap berminyak. Makanan tersebut termasuk kentang goreng, keripik kentang, pizza deep-dish, cincin bawang, burger keju, dan donat. Makanan-makanan ini cenderung tinggi kalori, lemak, garam, dan karbohidrat olahan tetapi rendah serat, vitamin, dan mineral.

Meskipun makanan tersebut dapat menjadi suguhan yang menyenangkan pada acara-acara khusus, makanan berminyak dapat berdampak negatif terhadap tubuh dan kesehatan Anda baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Berikut 7 dampak makanan berminyak bagi tubuh Anda

1. Dapat menyebabkan kembung, sakit perut, dan diare
Di antara makronutrien karbohidrat, lemak, dan protein lemak adalah yang paling lambat dicerna. Karena makanan berminyak mengandung banyak lemak, makanan ini memperlambat pengosongan lambung. Pada gilirannya, makanan menghabiskan lebih banyak waktu di perut Anda, yang dapat menyebabkan kembung, mual, dan sakit perut. Pada orang dengan keluhan pencernaan, seperti sindrom iritasi usus besar (IBS), pankreatitis kronis, atau sakit perut, makanan berlemak dalam jumlah tinggi dapat memicu sakit perut, kram, dan diare.

2. Dapat merusak mikrobioma usus Anda
Makanan berminyak diketahui membahayakan bakteri sehat yang hidup di usus Anda. Kumpulan mikroorganisme ini, juga disebut mikrobioma usus, mempengaruhi hal-hal berikut:
• Pencernaan serat. Bakteri di usus Anda memecah serat untuk menghasilkan asam lemak rantai pendek (SCFA), yang memiliki efek anti-inflamasi dan dapat melindungi dari gangguan pencernaan.
• Respon imun. Mikrobioma usus berkomunikasi dengan sel kekebalan untuk membantu mengontrol respons tubuh Anda terhadap infeksi.
• Pengaturan berat badan. Ketidakseimbangan bakteri usus dapat menyebabkan penambahan berat badan.

• Kesehatan usus. Gangguan mikrobioma usus dikaitkan dengan perkembangan IBS, sementara probiotik mikroorganisme hidup dan sehat yang ditemukan dalam makanan tertentu dapat membantu memperbaiki gejala.
• Kesehatan jantung. Bakteri usus yang sehat dapat membantu meningkatkan kolesterol HDL (baik) yang melindungi jantung, sementara spesies berbahaya dapat menghasilkan senyawa yang merusak arteri yang berkontribusi terhadap penyakit jantung.
• Pola makan tinggi lemak, seperti makanan berlemak, dapat merusak mikrobioma usus dengan meningkatkan jumlah bakteri usus yang tidak sehat dan menurunkan jumlah bakteri sehat.

3. Dapat menyebabkan penambahan berat badan dan obesitas
Makanan berminyak, yang dimasak dengan banyak lemak, dapat menyebabkan penambahan berat badan karena jumlah kalorinya yang tinggi. Misalnya, kentang panggang berukuran kecil (3,5 ons atau 100 gram) mengandung 93 kalori dan 0,1 gram lemak, sedangkan kentang goreng dalam jumlah yang sama mengandung 312 kalori dan 15 gram lemak. Studi observasi menghubungkan asupan tinggi gorengan dan makanan cepat saji dengan peningkatan tingkat penambahan berat badan dan obesitas. Obesitas dikaitkan dengan banyak kondisi kesehatan negatif, termasuk penyakit jantung, diabetes, stroke, dan kanker tertentu.

4. Dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke
Makanan berminyak mempunyai beberapa dampak negatif terhadap kesehatan jantung. Misalnya, makanan yang digoreng telah terbukti meningkatkan tekanan darah, menurunkan kolesterol HDL (baik), dan menyebabkan penambahan berat badan dan obesitas, yang semuanya berhubungan dengan penyakit jantung. Sebuah studi observasional besar pada 6.000 orang di 22 negara mengaitkan makan gorengan, pizza, dan camilan asin dengan peningkatan risiko stroke sebesar 16%.

5. Dapat meningkatkan risiko diabetes
Makanan berminyak dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Mengonsumsi makanan cepat saji, yang tidak hanya mencakup makanan berminyak tetapi juga minuman manis, menyebabkan asupan kalori tinggi, penambahan berat badan, kontrol gula darah yang buruk, dan peningkatan peradangan. Faktor-faktor ini pada gilirannya meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik sekelompok kondisi yang meliputi obesitas, tekanan darah tinggi, dan gula darah tinggi.

6. Dapat menyebabkan jerawat
Banyak orang mengaitkan makanan berminyak dengan jerawat. Faktanya, penelitian mengaitkan pola makan Barat, yang kaya akan karbohidrat olahan, makanan cepat saji, dan makanan berminyak, dengan jerawat. Beberapa peneliti berpendapat bahwa pola makan yang buruk dapat memengaruhi ekspresi gen dan mengubah kadar hormon sehingga memicu timbulnya jerawat.

Pola makan orang Barat dengan rasio asam lemak omega-6 dan omega-3 yang tinggi juga dapat menyebabkan peningkatan peradangan yang menyebabkan jerawat. Omega-3 terdapat pada ikan berminyak, alga, dan kacang-kacangan, sedangkan omega-6 ditemukan pada minyak nabati, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Minyak yang digunakan untuk menggoreng makanan berminyak mengandung omega-6 yang tinggi sehingga dapat menyebabkan ketidakseimbangan rasio ini.

7. Dapat mengganggu fungsi otak
Pola makan yang kaya akan makanan berminyak dan berlemak dapat menyebabkan masalah pada fungsi otak. Pertambahan berat badan, tekanan darah tinggi, dan sindrom metabolik yang terkait dengan makanan berminyak juga dikaitkan dengan kerusakan pada struktur, jaringan, dan aktivitas otak Anda. Dua penelitian besar pada 5.083 dan 18.080 orang, masing-masing, mengaitkan pola makan tinggi makanan berminyak dan gorengan dengan penurunan kemampuan belajar dan memori, serta peningkatan peradangan. Selain itu, pola makan tinggi lemak trans telah dikaitkan dengan gangguan fungsi otak.

Cara menghindari makanan berminyak
Ada beberapa cara untuk mengurangi atau menghindari asupan makanan berminyak. Hal ini tidak hanya mencakup metode memasak yang lebih sehat tetapi juga pilihan gaya hidup.

1. Gunakan metode memasak yang lebih sehat
Makanan berminyak sering kali digoreng, artinya dimasak dengan banyak minyak. Metode yang tidak menggunakan banyak minyak antara lain:

– Menggoreng dalam oven
Ini melibatkan pemanggangan pada suhu yang sangat tinggi (450°F atau 232°C), yang memungkinkan makanan menjadi renyah dengan sedikit atau tanpa minyak. Teknik ini sangat cocok digunakan pada kentang sebagai pengganti kentang goreng.

– Menggoreng udara
Mesin penggorengan udara mengalirkan udara panas ke sekitar makanan, membuatnya renyah di luar namun lembut di dalam. Metode ini menggunakan minyak 70–80% lebih sedikit dibandingkan metode penggorengan tradisional, yang berarti makanan Anda tidak akan berminyak.

– Mengukus
Cara ini menggunakan uap dari air panas dan tidak memerlukan minyak. Ini adalah alternatif yang bagus saat memasak makanan seperti pangsit, ikan, dan sayuran. Memanggang. Anda tidak membutuhkan terlalu banyak minyak untuk memanggang. Teknik ini sangat berguna untuk daging dan sayuran. (mg-03/nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar