Sigma Meluncurkan Kamera Full-frame FP2 dengan Sensor “Partially Stacked”, Kemampuan Video 6K, dan Bodi yang Ringkas

Kamera Sigma FP2. (Foto: Gizmochina)

Sukoharjonews.com – Sigma telah meluncurkan kamera “full-frame” L-mount generasi kedua, yaitu Sigma FP2. Model baru ini tetap mempertahankan desain ringkas seperti seri FP pendahulunya, dengan bobot 376 gram (tanpa baterai dan kartu memori) atau 460 gram (dengan baterai dan kartu memori), serta ketebalan sekitar 4 cm.

Dilansir dari Gizmochina, Kamis(29/10/2026), FP2 menggunakan sensor “back-illuminated” 24,5 MP dengan desain “partially stacked” (berlapis sebagian). Artinya, sebagian sirkuit pembacaan data ditempatkan di sekeliling tepi sensor, alih-alih menambahkan lapisan penuh di belakang sensor. Pengaturan ini membantu meningkatkan kecepatan pembacaan data tanpa menambah kompleksitas seperti pada sensor yang sepenuhnya berlapis (fully stacked).

Kecepatan pembacaan data yang lebih tinggi juga memberikan manfaat praktis untuk fotografi. FP2 mendukung sinkronisasi lampu kilat hingga 1/50 detik—yang menurut Sigma hampir dua kali lebih cepat dibandingkan seri FP sebelumnya. Kamera ini juga mampu memotret secara beruntun (burst) hingga 20 fps, dengan kapasitas “buffer” yang cukup untuk menampung sekitar 200 gambar JPEG atau 180 berkas DNG RAW. Sigma menyatakan bahwa sistem autofokus kini lebih cepat, dan untuk pertama kalinya, kamera ini mampu mengenali objek burung.

FP2 mendukung perekaman “open-gate” 6K hingga 60p, sementara untuk resolusi 4K, kamera ini mampu merekam hingga 60p menggunakan seluruh lebar sensor, atau 120p dengan mode “crop” (pemotongan area sensor). Kamera ini dapat merekam video 10-bit secara internal dan mendukung profil L-Log dari Leica.

Tampilan depan bodi kamera ringkas Sigma FP2 yang memperlihatkan dudukan lensa (lens mount). Kamera ini juga mendukung perekaman ProRes RAW hingga resolusi 6K/30p. Namun, fitur ini memerlukan SSD eksternal karena laju data (bitrate) mencapai 5.800 Mbps, yang tidak dapat ditangani oleh slot kartu memori UHS-II.

FP2 dilengkapi dengan layar miring (tilting display) berukuran 3,2 inci dengan resolusi 2,1 juta titik, serta memiliki penyimpanan internal sebesar 70 GB. Kamera ini menyediakan dua port USB-C; satu port beroperasi dengan kecepatan USB 2.0 untuk daya dan aksesori, sementara port lainnya mendukung transfer data 10 Gbps dan dapat dihubungkan ke SSD eksternal. Sigma juga telah mengganti konektor micro HDMI yang ada pada model FP sebelumnya dengan port HDMI ukuran penuh (full-size).

Kamera ini tidak memiliki jendela bidik (viewfinder) bawaan. Meski demikian, Anda dapat menggunakan EVF-21—yang dilengkapi panel OLED dengan resolusi 5,76 juta titik—yang bisa dipasang pada port USB-C bagian atas. Kamera ini juga mendukung aksesori hotshoe HU-21, yang kompatibel dengan protokol lampu kilat (flash) dari OM System dan Panasonic. Selain itu, perangkat ini juga mendukung mikrofon hotshoe dari Panasonic, yang memungkinkan FP2 untuk merekam audio dengan format 32-bit float.

Sigma juga memperkenalkan lensa prima 50mm F1.4 DG Contemporary dalam pilihan warna perak dan hitam. Lensa ini dirancang untuk bodi kamera dengan dudukan lensa (mount) tipe L dan Sony E, serta memiliki bobot 375 gram. Sigma belum mengumumkan harga untuk lensa ini.

Harga dan ketersediaan
Sigma FP2 akan mulai dijual pada tanggal 11 November dengan harga USD2.199 atau Rp38,8 jutaan untuk bodi kamera saja. Paket yang menyertakan jendela bidik EVF-21 dibanderol seharga USD2.749 atau Rp50,7 jutaan; dengan harga yang sama (USD2.749 atau Rp49,7 jutaan), Anda juga bisa mendapatkan bodi kamera yang dipaketkan dengan lensa baru seri-I, yaitu Sigma 50mm F2 DG.

Jika Anda mencari bodi kamera “full-frame” L-mount yang ringkas, Panasonic menawarkan LUMIX S9 dengan harga USD1.499 atau Rp27,1 jutaan di Amerika Serikat, yang juga mampu merekam dalam format “open gate” 6K. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar