Review ‘Ibuku’: Drama Indonesia Bernuansa Mimpi yang Memikat tentang Penebusan Diri Seorang Ibu

“Ibuku”. (Foto: Variety)

Sukoharjonews.com – Film keempat karya penulis sekaligus sutradara Eddie Cahyono, yang berkompetisi di Busan, mengeksplorasi pergulatan pekerja migran melalui keluarga yang ditinggalkan.

Dilansir dari Variety, Senin (12/10/2026), hubungan yang penuh ketegangan antara seorang ibu dan anak perempuannya yang telah lama renggang menjadi sorotan utama dalam “Ibuku,” film keempat karya penulis sekaligus sutradara Indonesia, Eddie Cahyono. Meskipun judulnya menyiratkan sudut pandang orang pertama—yang berarti “ibu saya” dalam bahasa Indonesia—sebagian besar film ini justru dilihat dari sudut pandang Sumiati (Christine Hakim). Ia adalah seorang ibu yang baru saja menjanda dan berjuang mengumpulkan uang untuk mengunjungi putrinya, Sri (Ayushita Nugraha), yang sedang dipenjara di Arab Saudi.

Sebagian besar bobot emosional film, serta aspek sinematografinya, bertumpu pada wajah Hakim. Ekspresinya terekam melalui teknik kamera yang tenang dan observasional saat ia menjalani berbagai aktivitas—mulai dari memasak, berkumpul, menari, hingga menjelajahi gua—yang semuanya diliputi oleh duka atas kemungkinan kehilangan sang putri serta rasa tanggung jawabnya karena pernah membuat anaknya itu pergi meninggalkan rumah.

Tayang perdana dalam kompetisi di Festival Film Busan, film karya Cahyono ini paling memikat saat nuansa spiritualnya lebih terasa daripada sekadar terlihat, dan saat alur ceritanya terungkap melalui penampilan Hakim yang berlapis serta kompleks. Sang pembuat film pernah berbicara mengenai keterikatan pribadinya dengan materi cerita ini, yang didasari oleh pengalamannya sendiri saat meninggalkan desa demi kehidupan yang lebih baik dan untuk mengirimkan uang bagi keluarga di kampung halaman. Bukan berarti ini adalah autofiksi: “Ibuku” berpijak pada isu eksploitasi pekerja migran di masa kini, sembari menelusuri akar tragedi yang dialami kelompok ini hingga ke kampung halaman mereka.

Meski kisah “Ibuku” sebagian besar dituturkan dari sudut pandang Sumiati, film ini dibuka dengan perspektif putrinya, Sri. Bayangan sosok Sumiati mengelilingi Sri layaknya di dalam kurungan, sementara Sri mengungkapkan keinginannya untuk bisa membenci sang ibu—sebuah perasaan rumit yang bermula dari rasa ditinggalkan saat ia terjebak dalam pernikahan paksa yang penuh kekerasan. Saat adegan kembali ke ruangan tersebut, Sri menjelaskan bahwa pengalaman itulah yang mendasari keputusannya untuk pergi dan bekerja di Arab Saudi. Konteks kegagalan peran orang tua ini membayangi keseluruhan film “Ibuku”; setiap tindakan Sumiati dihantui oleh penyesalan karena gagal melindungi putrinya dari para pelaku kekerasan, baik di kampung halaman maupun di negeri orang.

Kita baru mendengar kabar tentang Sri lagi bertahun-tahun kemudian, ketika Sumiati mengetahui bahwa putrinya telah dijatuhi hukuman mati karena membunuh majikannya yang hendak memerkosanya. Akibat utang judi mendiang suaminya, ia tidak memiliki biaya untuk pergi menjenguk, sehingga terpaksa meminjam uang dari warga desa demi bisa menemui sang putri. Situasi yang menyedihkan ini bisa saja terasa begitu berat, bahkan kejam, namun pengamatan Cahyono terhadap pergulatan hidup Sumiati tetap humanis dan penuh empati. Ia menyoroti hubungan antara berbagai tekanan sosial dan eksploitasi patriarkis, sekaligus mengakui peran Sumiati dalam praktik-praktik tersebut yang kini disesalinya: pernikahan paksa Sri merupakan langkah putus asa sang ibu untuk melunasi utang melalui uang mahar.

Sumiati adalah mantan penampil “Jathilan”—sejenis tarian Jawa (yang juga dikenal sebagai Kuda Lumping) di mana para penarinya mengalami kondisi kesurupan, dengan ritual yang diiringi oleh dukun serta musik perkusi. Nuansa pertautan batin semacam itu juga tercermin dalam gaya sinematografi “handheld” yang intim garapan Cahyono; saat kamera tidak sedang menyorot Hakim, ia membingkai rumah serta berbagai penanda lokasi di desa itu seolah-olah Sri dan suaminya masih ada di sana—di mana tekstur film yang agak kasar dan nuansa berkabut nan surealis seakan menghadirkan kembali kehadiran mereka secara nyata.

Lokasi-lokasi pengambilan gambarnya sering kali memukau, terutama pada bagian akar pohon yang menjalar jauh ke dalam gua tempat Sumiati menjelajah demi mencari air dan kemudian berupaya memasang saluran pipa yang berfungsi. Air tersebut direkam dengan sapuan cahaya oranye, dan citra visualnya memancarkan kekuatan spiritual yang selaras dengan penampilan Hakim yang penuh penghayatan dan duka—saat Sumiati secara halus memohon ampunan kepada arwah keluarganya yang telah tiada, dan juga kepada warga desa. Sosok desa itu sendiri diwakili oleh kepala desa Djatmiko (Landung Simatupang)—pribadi yang baik hati namun memikul beban berat—yang juga harus menghadapi kemungkinan adanya pelanggaran batas antara dirinya dan Sumiati.

Dampaknya agak memudar saat Cahyono beralih ke penggunaan citra yang kurang subtil dan lebih terang-terangan bernuansa surealis. Pada satu momen, sosok mendiang suami Sumiati tampak mengawasi dalam diam dari pohon tempat ia pernah menggantung diri; di momen lain yang terasa lebih kacau, tubuh Sumiati melayang di udara karena ditarik kabel tak kasat mata setelah ia nekat ikut serta dalam sebuah pertunjukan tari tanpa izin. Untungnya, tidak ada penjabaran lebih lanjut mengenai elemen-elemen tambahan tersebut, yang sebenarnya terasa agak kasar jika dibandingkan dengan gaya keseluruhan film ini. Adegan pembuka yang memukau—yang menampilkan siluet Sri dengan latar belakang rekaman tarian ibunya—sudah cukup untuk menunjukkan betapa kuatnya kemampuan komunikasi yang dimiliki medium visual ini. Penonton tidak lagi memerlukan penjelasan tambahan untuk menangkap pesannya. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar