Review ‘Chainsaw Man-The Movie: Reze Arc’, Sebuah Tontonan Anime yang Indah, Gelap, dan Imersif

‘Chainsaw Man-The Movie: Reze Arc’. (Foto: Tangkapan layar)

Sukoharjonews.com – Cerita tentang Denji (Kikunosuke Toya), seorang anak laki-laki berhati iblis, menjadi Chainsaw Man dan bergabung dengan para Pemburu Iblis di Special Division 4. Di suatu hari hujan, ia bertemu dan jatuh cinta pada Reze (Reina Ueda), seorang gadis yang lembut dan menawan. Namun, di balik penampilannya yang lembut terdapat koneksi berbahaya dengan dunia perburuan iblis Denji yang penuh kekerasan, yang membawanya ke pertempuran paling berbahaya yang pernah ada.

Dikutip dari Timesofindia, Selasa (30/9/2025), para penggemar anime masih terpukau dengan tontonan visual Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba: Infinity Castle. Film aksi fantasi gelap animasi Jepang ini, yang diadaptasi dari serial manga ChainsawMan karya Tatsuki Fujimoto, hadir tak lama setelahnya dan menghadirkan pengalaman memukau lainnya, yang menggabungkan animasi terbaik, aksi yang memukau, dan narasi yang berlapis. Film ini juga merupakan sekuel langsung dari musim pertama serial televisi anime tersebut.

Banyak film rilisan teatrikal yang dipotong dari alur cerita atau sekuelnya melewatkan latar belakang cerita, yang dapat mengurangi pengalaman menonton. Chainsaw Man juga melakukan hal yang sama, meskipun para pembuatnya berhasil menjadikan narasinya sebagai film tunggal yang menegangkan.

Bagi yang belum tahu: Denji, yang bekerja sebagai Pemburu Iblis untuk melunasi utang mendiang ayahnya, dikhianati dan dibunuh oleh yakuza (sindikat kejahatan terorganisir). Di saat-saat terakhirnya, anjing iblis bertenaga gergaji mesinnya yang setia, Pochita, menyelamatkan tuannya dengan menyatu dengannya untuk menciptakan Chainsaw Man. Yang terjadi selanjutnya dalam film ini adalah perang brutal antara iblis, pemburu, dan musuh lainnya, dengan kemunculan Reze yang mengubah nasib Denji.

Sesuai dengan akar fantasi gelapnya, film ini tidak menghindar dari penggambaran yang meresahkan. Dari lidah yang digigit hingga Iblis Bom yang meledakkan kepalanya sendiri, adegan berdarahnya sangat kentara. Dengan segudang kejutan, film ini juga seringkali membuat penonton tegang.

Namun, yang membuat Chainsaw Man benar-benar menonjol adalah bagaimana ia menyeimbangkan nada. Ada humor dalam interaksi canggung Denji di masa remaja, romansa lembut dalam momen-momen singkat dengan Reze, dan pertempuran yang memacu adrenalin yang meletus dengan intensitas yang mendalam. Komposer Kensuke Ushio memperkuat setiap emosi dengan lagu-lagu seperti Typhoon Devil dan opera Bomb.

Adegan-adegannya memukau—mulai dari pantulan yang berkilauan di tetesan air hujan hingga kembang api yang menerangi langit malam saat Denji dan Reze berciuman, atau bidikan sudut rendah pesawat saat Bomb Devil secara brutal mengalahkan musuh bebuyutannya. Gaya filmnya pun berubah. Dimulai dengan pesona yang terinspirasi komik yang digambar tangan sebelum terjun ke wilayah yang lebih gelap dan berdarah.

Para pengisi suara film ini juga luar biasa: Kikunosuke Toya memerankan Denji sebagai seorang anak laki-laki yang terpecah antara Makima (Tomori Kusunoki) dan Reze, dan kemudian sebagai Chainsaw Man dengan sempurna. Natsuki Hanae bersinar sebagai Beam, iblis hiu eksentrik yang mengidolakan Denji. Reina Ueda dengan mulus mengubah Reze dari kepolosan yang dilanda cinta menjadi sosok yang lebih tangguh, sementara Fairouz Ai’s Power menghadirkan ledakan energi egois dan kacau.

Chainsaw Man lebih dari sekadar tontonan anime penuh aksi. Film ini merupakan perpaduan visual yang tajam, penceritaan yang emosional, dan kegelapan yang tak tergoyahkan. Bagi mereka yang mendambakan animasi yang memukau, pertarungan yang intens, dan narasi yang mendalam, film ini wajib ditonton, terutama di layar lebar untuk mendapatkan dampak yang maksimal. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar