Sarung Goyor, Produk ATBM Yang Masih Diminati

Produksi Sarung Goyor menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di Desa Pojok, Tawangsari, Sukoharjo masih bertahan hingga kini

Sukoharjonews.com – Sebagian besar produk tekstil saat ini diproduksi menggunakan mesin modern. Namun, saat ini masih ada perajin kain tradisional yang tetap setia menggunakan mesin manual. Salah satunya adalah Sarung Goyor di Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo. Meski diproduksi secara manual, Sarung Goyor daei Tawangsari masih banyak diminati, bahkan oleh masyarakat internasional.

Sarung Goyor sendiri diproduksi oleh sejumlah perajin salah satunya di Dukuh Kentheng RT 03/5, Desa Pojok, Tawangsari, Sukoharjo. Pedukuhan yang terletak sekitar 6,5 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Sukoharjo tersebut dikenal sebagai sentra kerajinan Sarung Goyor. Dengan sepeda motor, lokasi tersebut dapat ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit dari pusat kota. Salah satu perajinnya adalah Bambang Suroso.

Saat ini, meski banyak kain sarung yang diproduksi menggunakan mesin modern, Bambang tetap setia menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) untuk memproduksi kain sarung. Bambang setia menggunakan ATBM karena usaha tersebut merupakan usaha turun temurun sejak tahun 1950-an. Ya, usaha tersebut merupakan usaha warisan kedua orang tuanya.



Meski hannya diproduksi dengan ATBM, produk Sarung Goyor masih diminati oleh masyarakat mancanegara. Khususnya warga negara Timur Tengah dan Afrika. Sebagai salah satu produk Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) tersebut selama ini memang menjadi salah satu unggulan Kabupaten Sukoharjo. Produknya pun sudah diekspor ke Timur Tengah.

“Untuk produksi kain Sarung Goyor, saya dibantuk sekitar 60 mitra usaha. Jadi, produksinya bisa dilakukan di rumah masing-masing,” ungkap Bambang.

Selama ini, lanjutnya, bahan baku berupa benang rayon bisa dibawa ke rumah masing-masing warga. Khususnya untuk proses penggulungan benang maupun penenunan. Untuk bahan baku benang sendiri, Bambang mengaku tidak ada masalah. Dengan ATBM, selama ini karyawannya bisa menyelesaikan satu buah sarung setiap harinya, bahkan lebih. Tiap perajin, mendapatkan imbalan ongkos tenaga sebesar Rp40.000 hingga Rp50.000 per satu kain sarung.

Diakui Bambang, produk Sarung Goyor masih banyak diminati karena memiliki keunikan. Yakni, jika musim dingin sarung terasa hangat, tapi saat musim panas sarung terasa dingin. Keunikan itulah yang menjadikan Sarung Goyor produksi Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo masih diminati.

Disinggung soal harga sendiri, Bambang mengaku sebagai produk tradisional menggunakan ATBM, satu buah Sarung Goyor tikdak mahal. Pasalnya, dari perajin seperti dirinya, satu sarung hanya dihargai Rp150.000 hingga Rp170.000. Selama ini, dirinya bisa mengirim 300 potong sarung ke “buyer” di Solo yang kemudian mengekspornya ke luar negeri.

“Hanya saja, saat ini produksi Sarung Goyor tengah lesu. Kondisi tersebut mulai terjadi sejak tahun 2015 lalu. Lesunya permintaan sarung dari Timur Tengah terjadi sejak merebaknya isu “Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) beberapa waktu lalu. Karena permintaan turun, otomatis juga menyebabkan produksi kain sarung juga ikut turun.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM (Disperkop dan UKM) Sukoharjo Sutarmo menyampaikan, selama ini produk Sarung Goyor dari Kecamatan Tawangsari merupakan salah satu produk UMKM unggulan dari Kabupaten Sukoharjo. Untuk itu, Pemkab Sukoharjo selalu memberikan pendampingan pada perajin termasuk membantu melakukan promosi. Promosi yang dilakukan dengan selalu mengikutkan produk UMKM unggulan dalan sejumlah pameran atau promosi di luar daerah.

“Jadi, tidak hanya kain Sarung Goyor saja, tapi produk UMKM unggulan lain juga kami bantu untuk promosinya,” ujarnya.

Dengan promosi melalui berbagai lini diharapkan pruduk UMKN Sukoharjo makin dikenal luas masyarakat. Baik masyarakat nasional maupun internasional. Tidak hanya kain sarung saja, dinas berharap semua produk UMKM dari Kabupaten Sukoharjo semakin diminati masyarakat. (nano sumarno)

Share: