Sukoharjonews.com – Pelaksana tugas (Plt) Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo mendampingi Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi panen raya jagung di lahan Gapoktan Krido Dharmo, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kamis (1/10/2026). Jagung menjadi salah satu komoditas yang memberikan harapan baru bagi sektor pertanian di Kabupaten Sukoharjo.
Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo menyampaikan, pertanian jagung adalah harapan baru di Kabupaten Sukoharjo. Untuk panen jagung Januari-September luasan lahan yang telah panen 747 hektare dengan perkiraan produksi 6.449 ton, atau produktivitas 86,33 persen. Capaian tersebut tidak terlepas dari kerja bersama Pemkab Sukoharjo melalui Dinas Pertanian serta dukungan berbagai pemangku kepentingan.
“Mohon dukungan yang sudah luar biasa dari pemangku kepentingan termasuk dari Gubernur Jawa Tengah, dan Dinas Pertanian Provinsi kemudian seluruh stakeholder. Kita berusaha terus mendorong peningkatan luas tanam,” ujarnya.
Sedangkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan produksi jagung di Jawa Tengah pada 2025 mencapai sekitar 3,7 juta ton. Sedangkan hingga September 2026, produksi jagung Jawa Tengah telah mencapai 2,68 juta ton.
“Di Jawa Tengah tetap meneguhkan sebagai lumbung pangan nasional, tidak hanya padi tetapi juga jagung,” kata Ahmad Luthfi.
Besarnya produksi tersebut menjadikan Jawa Tengah salah satu daerah penting dalam memasok kebutuhan jagung nasional. Berdasarkan Angka Tetap BPS 2025, produksi jagung Jawa Tengah mencapai 3,7 juta ton pipilan kering dengan kadar air 28 persen atau sekitar 17,02 persen dari produksi nasional.
Angka tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai produsen jagung terbesar kedua secara nasional. Menurut Luthfi, menjaga capaian tersebut tidak hanya dilakukan dengan meningkatkan produksi. Pemerintah juga harus memastikan petani mendapatkan dukungan dari sisi lahan, air, pupuk, benih hingga alat dan mesin pertanian.
Persoalan air menjadi salah satu perhatian karena produktivitas lahan sangat bergantung pada kepastian pasokan air, terutama ketika petani harus berproduksi di tengah perubahan musim.
“Masyarakat petani itu tidak akan bertanya tersier, sekunder, primer punya siapa. Prinsipnya airnya harus sampai (lahan pertanian),” tegasnya.
Luthfi mengatakan sumber air untuk pertanian dapat diperkuat melalui berbagai skema, mulai dari sumur dalam, sumur dangkal, jaringan irigasi hingga embung. Pemerintah juga memastikan ketersediaan pupuk agar petani tidak mengalami kendala ketika memasuki musim tanam.
Ia optimistis produksi pangan Jawa Tengah masih dapat ditingkatkan. Salah satu indikasinya, panen jagung masih berlangsung meski sebagian wilayah memasuki musim kemarau. (nano)
Tinggalkan Komentar