
Sukoharjonews.com (Jakarta) – Pembangunan Pilot Plant Green Hydrogen resmi dimulai oleh PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE). Pembangunan dilakukan di Ulubelu, Lampung. Fasilitas ini menjadi yang pertama di dunia yang memadukan teknologi Anion Exchange Membrane (AEM) electrolyzer dengan pemanfaatan energi panas bumi sebagai sumber listrik bersih.
Kehadiran pilot plant ini menandai langkah besar Pertamina dalam mendukung transisi energi, mempercepat penggunaan energi terbarukan, sekaligus memperkuat komitmen mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, memberikan apresiasi kepada Pertamina dan PGE yang telah melakukan transformasi bisnis dengan mengintegrasikan investasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) bersama industri Green Hydrogen.
Menurut Yuliot, Green Hydrogen merupakan salah satu energi rendah emisi yang ramah lingkungan. Ia menekankan bahwa cepat atau lambat, energi terbarukan akan menggantikan dominasi energi fosil yang saat ini masih menjadi bisnis utama Pertamina. Pengembangan Green Hydrogen akan menambah variasi energi hijau yang dapat berinteraksi satu sama lain.
“Dengan semakin banyak alternatif pilihan, masyarakat tentu akan membandingkan mana yang lebih efektif dan lebih efisien.”
“Pilihan energi terbarukan yang lebih bervariatif akan memberikan keuntungan bagi konsumen dalam memilih kebutuhan sumber energi yang jauh lebih berkualitas namun tidak berdampak negatif terhadap lingkungan,” jelas Yuliot, dikutip dari laman KabarBUMN, Kamis (11/9/2025).
Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan, menyebut bahwa Ulubelu kembali menorehkan sejarah penting bagi bangsa. Ia menegaskan sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, Pertamina memikul tanggung jawab besar dalam mewujudkan kemandirian energi sekaligus mendukung transisi menuju energi bersih.
“Ulubelu adalah kawasan energi panas bumi yang selama ini telah memberi manfaat bagi negeri. Dan Ulubelu kembali menorehkan catatan penting sebagai pionir melalui Groundbreaking Pilot Plant Green Hydrogen.”
“Ke depan, Pilot Plant Ulubelu lebih dari persoalan teknologi atau investasi. Ini adalah tentang warisan berharga yang akan kita titipkan kepada generasi mendatang,” terang Mochamad Iriawan.
Sedangkan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menambahkan groundbreaking bukan hanya pencapaian bersejarah, melainkan bukti nyata langkah Pertamina Group dalam mewujudkan visi menjadi perusahaan energi bersih kelas dunia.
“Pengembangan green hydrogen selaras dengan dual growth strategy Pertamina Group, yaitu dalam hal mengembangkan portofolio bisnis rendah karbon untuk masa depan berkelanjutan,” jelas Simon.
Simon juga menegaskan bahwa melalui inisiatif ini, Pertamina menunjukkan penerapan nyata teknologi green hydrogen berbasis panas bumi. Proyek ini akan menjadi dasar pengembangan regulasi, standar, serta model bisnis hidrogen di Indonesia, sekaligus membuka peluang ekosistem energi baru yang dapat diterapkan di berbagai daerah.
Pilot Plant Green Hydrogen Ulubelu dirancang menjadi pusat pembelajaran teknologi sekaligus lokasi uji coba kelayakan komersial. Fasilitas ini akan melakukan studi terkait permintaan pasar dan kualitas produk untuk pengembangan tahap berikutnya. Dengan mengintegrasikan energi panas bumi dan teknologi AEM electrolyzer, Ulubelu menjadi pionir dunia yang menegaskan arah transformasi energi bersih.
Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 dengan nilai investasi mencapai sekitar USD3 juta. Hidrogen hijau yang dihasilkan akan digunakan untuk uji pasar, termasuk dalam sektor transportasi maupun industri. (nano)















Facebook Comments