Tak Berkategori  

Pernyataan PT RUM Terbaru Soal Limbau Bau, Cek Disini

banner 468x60
Pabrik pembuat serat rayon PT Rayon Utama makmur (RUM) di Desa Plesan, Kecamatan Nguter, Sukoharjo masih mengeluarkan bau busuk menyengat yang dikeluhkan warga.

Sukoharjonews.com (Sukoharjo) – Kasus limbau bau PT Rayon Utama Makmur (PT RUM) kembali mengemuka dalam beberapa waktu terakhir. Warga terdampak bau pun sudah melaporkan soal bau PT RUM ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) hingga menggelar aksi di depan rumah dinas bupati. Pemkab kemudian melayangkan surat pada PT RUM untuk mengurangi produksi dan mengatasi bau. Jika masalah bau belum bisa diatasi, PT RUM diminta untuk menghentikan produksi sementara sampai masalah bau teratasi.



Terkait masalah bau tersebut, Juru Bicara PT RUM, Bintoro Dibyoseputro menegaskan PT RUM telah mematuhi Surat Sekda Sukoharjo Nomor 660.1/4091 /X/2019 tertanggal 26 Oktober 2019 terkait pengurangan produksi dan perbaikan alat penyaring bau. Menurutnya, upaya PT RUM sesuai rekomendasi Surat dari DLH Sukoharjo dimana salah satunya menambah alat penyedot uap H2S agar bisa diolah dengan sempurna di pengolah H2S yang disebut Wet Scrubber.

“Selain itu, kami juga mengoperasikan “extra blower” sejak minggu lalu secara On-Off karena bangunan penampung uap H2S berupa beton cor belum selesai seluruhnya. Selain itu kami juga mengurangi produksi,” klaim Bintoro.

Menurutnya, tingkat produksi PT RUM sudah lama berada di kisaran yang amat rendah sekali. Normalnya, ujar Bintoro, produksi dilakukan menggunakan dua line yang masing-masing menghasilkan 40 ribu ton pertahun. Namun, saat ini yang beroperasi hanya satu line sehingga produksi hanya 10% saja. Terkait salah satu point isi Surat Sekda untuk pemberhentian sementara jika bau PT RUM masih bermasalah, Bintoro mengaku ada beberapa pertimbangan. Bintoro mengaku produksi rayon harus dilakukan untuk mempertahankan agar mesin tetap hidup.

Pasalnya, jika mesin mati maka secara teknis hampir tidak mungkin dinyalakan lagi akibat bekunya bahan baku dalam pipa-pipa. Karenanya mesin harus hidup. Bintoro menerangkan bau muncul dari uap H2S yang keluar karena proses penambahan blower. Sebab bangunan pengumpul uap H2S sedang di cor beton dan belum kering sempurna. Dan kondisi blower tetap berjalan meski belum sempurna. (erlano putra)



How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *