Sukoharjonews.com – Mulai dari mengonsumsi makanan pedas hingga tingkat stres yang tinggi, banyak faktor yang dapat memicu sindrom iritasi usus besar (IBS). Ketahui cara mengelola gejala-gejala ini dan mencegahnya.
Meskipun sering ke kamar mandi atau masalah seperti gas dan kembung mungkin tampak sepele, hal-hal ini seringkali dapat menyebabkan kekacauan dalam kehidupan sehari-hari kita jika diabaikan. Ini adalah gejala Sindrom Iritasi Usus Besar (IBS) dan dapat terjadi pada siapa saja.
Dikutip dari Healthshots, Minggu (14/9/2025), meskipun tidak ada obat permanen untuk kondisi ini, memahami apa yang memicu gejala IBS dapat sangat membantu dalam mengelola kondisi tersebut. Pilihan gaya hidup tertentu, seperti memeriksa tingkat stres Anda dan menghindari makanan pedas dan olahan, dapat membantu mencegah gejala IBS.
Apa itu IBS?
IBS (sindrom iritasi usus besar) adalah gangguan gastrointestinal fungsional yang memengaruhi sistem pencernaan, yang menyebabkan gejala seperti kembung, gas, ketidaknyamanan perut, dan buang air besar tidak teratur. Sebagian besar gejala IBS muncul sebagai diare, konstipasi, atau kombinasi keduanya. “Meskipun IBS tidak diklasifikasikan sebagai penyakit, kondisi ini dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup seseorang. Meskipun tidak ada obat permanen, kondisi ini dapat dikelola secara efektif dengan mengidentifikasi dan menghindari pemicu, yang mungkin termasuk stres, makanan tertentu, dan konsumsi kafein berlebihan,” kata spesialis penyakit dalam, Dr. Basavaraj S. Kumbar.
Apa saja gejala utama IBS?
Gejala umum IBS meliputi sakit perut, kembung, buang air besar tidak teratur—mulai dari diare hingga konstipasi—dan, dalam beberapa kasus, adanya lendir dalam tinja. “Tingkat keparahan dan frekuensi gejala berbeda pada setiap orang, tetapi kondisi ini bisa sangat menantang, seringkali mengganggu kehidupan sehari-hari dan aktivitas rutin seseorang,” kata Dr. Kumbar.
Apa pemicu gejala IBS?
Ada beberapa hal yang dapat memicu gejala IBS. Berikut hal-hal yang perlu diwaspadai:
1. Makanan pedas dan junk food
Pola makan tinggi lemak dan makanan pedas diduga memicu gejala GI, demikian menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Gut and Liver. Oleh karena itu, mengonsumsi makanan yang sangat pedas, berminyak, dan olahan dapat memicu gejala IBS dan menyebabkan ketidaknyamanan. Hal ini dapat menyebabkan sakit perut dan diare.
2. Stres dan kecemasan
Otak dan usus Anda saling terkait sehingga stres dapat memperburuk IBS dengan mengganggu pencernaan dan membuat perut Anda sangat sensitif. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Medicine menyatakan bahwa sebagian besar pasien IBS (33–90%) memiliki hipersensitivitas viseral, yaitu rasa sakit atau ketidaknyamanan pada organ viseral. Kondisi ini diperparah oleh stres dan kecemasan. Stres psikologis juga menyebabkan perubahan motilitas usus; sehingga menjadikan IBS sebagai gangguan yang sensitif terhadap stres.
3. Laktosa dan produk susu
Bagi orang yang menderita intoleransi laktosa, mengonsumsi produk susu seperti keju, susu, paneer, dan es krim dapat menyebabkan gejala IBS. Gejala ini dapat meliputi ketidaknyamanan pencernaan, kembung, dan gas. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Cureus mendukung klaim ini. Studi tersebut menyatakan bahwa risiko intoleransi laktosa berkaitan dengan dosis laktosa yang dikonsumsi dan produksi gas usus.
4. Konsumsi kafein dan alkohol berlebihan
Minuman yang mengandung kafein seperti teh, kopi, minuman berenergi, dan alkohol dapat mengiritasi sistem pencernaan. Hal ini berpotensi memperburuk gejala IBS. Kafein merupakan stimulan yang meningkatkan motilitas usus, sehingga menyebabkan diare, kram, dan kembung. Alkohol dapat mengiritasi lapisan usus dan mengganggu keseimbangan bakteri usus. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi, yang dapat memicu gejala IBS seperti kembung, gas, dan buang air besar tidak teratur.
5. Pola makan tidak teratur
Melewatkan makan, makan larut malam, atau tidak makan dalam waktu lama dapat mengganggu pencernaan dan memicu ketidaknyamanan akibat IBS. Kembung dan gas dapat terjadi karena pencernaan yang tertunda, sementara asupan makanan yang tiba-tiba dapat menyebabkan kram dan nyeri. Peningkatan sensitivitas usus juga dapat disebabkan oleh siklus pencernaan yang tidak teratur.
Bagaimana cara mengatasi pemicu IBS?
Setelah kita mengetahui pemicu dan bagaimana pemicu tersebut dapat menyebabkan gejala IBS, berikut cara mencegahnya.
– Perhatikan apa yang Anda makan: Kurangi makanan pedas, berminyak, dan olahan. Sebagai gantinya, makanlah makanan rumahan, makanan kaya serat, dan probiotik seperti dadih untuk menjaga kesehatan usus Anda.
– Kelola stres: Cobalah meditasi, bernapas dalam-dalam, atau beristirahat sejenak ketika keadaan terasa berat. Stres memperburuk IBS, jadi carilah cara untuk rileks.
– Tetap terhidrasi: Minumlah air yang cukup, tetapi hindari minuman bersoda. Air kelapa adalah pilihan yang bagus untuk menjaga kesehatan usus Anda.
– Berolahraga secara teratur: Sedikit gerakan sangat bermanfaat. Berjalan kaki, yoga, atau bahkan menari mengikuti lagu dapat melancarkan pencernaan dan mengurangi kembung.
– Perbaiki jadwal makan Anda: Makanlah dengan interval yang tepat, jangan makan berlebihan, dan hindari makan berat sebelum tidur. Usus Anda menyukai rutinitas, jadi jagalah agar tetap sehat.
Mengelola gejala IBS memerlukan pendekatan yang sehat yang mencakup mengidentifikasi pemicu, membuat perubahan pola makan selanjutnya, dan mempertahankan gaya hidup sehat. Menghindari makanan pedas dan olahan, membatasi asupan kafein dan alkohol, serta mengikuti jadwal makan yang teratur, dapat membantu orang mengelola gejala IBS. Namun, jika Anda terus mengalaminya, pastikan untuk menghubungi profesional perawatan kesehatan. (nano)
Tinggalkan Komentar