Penting untuk Diketahui, Optimis Beramal di Balik Rahasia Malam Lailatul Qadar

Ilustrasi. (Foto: Bincang Syariah)

Sukoharjonews.com – Ramadhan adalah salah satu bulan yang dimuliakan diantara bulan-bulan yang ada dalam perhitungan Qamariyah. Ramadhan begitu dinanti-nantikan kehadirannya oleh seluruh umat muslim di dunia, tak terkecuali antusias yang begitu tinggi kerap ditampilkan oleh pemeluk islam di Indonesia, apalagi pada malam Lailatul Qadar.

Dikutip dari Bincang Syariah, Jumat (13/3/2026), dalam bulan suci Ramadhan ini, malam itu menjadi lebih agung dan lebih baik daripada seribu bulan. Hal ini berdasar atas Q.S. al Qadr ayat 1-5, yang berbunyi

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ٢ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ ٥

Artinya:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

Namun, selanjutnya kita akan dibayangi oleh pertanyaan mengenai kapan waktu Lailatur Qadr ini?. Setidaknya, memang banyak ulama yang memperselisihkan tentang waktu fenomena malam ini. Akan tetapi, apabila merujuk hadis riwayat Ahmad no. 21702, keterangan tentang kejadian Lailatul Qadar ini berlangsung pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, khususnya pada malam ganjil seperti malam kesembilan, ketujuh, kelima, atau ketiga.

Dalam Kanz an Najah as Surur karya Syaikh Abdul Hamid al Quds al Makkiy (w. 1334 H), seorang ulama asal Kudus yang menjadi pengajar di Masjidil Haram, menyatakan bahwa memang ada ikhtilaf para ulama dalam menyikapi tentang waktu Lailatul Qadar ini.

Kebanyakan dari para Ulama sependapat bahwa malam Lailatul Qadar memang berada pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan. Syaikh Abdul Hamid menyatakan bahwa hikmah dari tersembunyinya malam ini, adalah supaya umat islam senantiasa mengagungkan dan bersungguh-sungguh dalam beramal khususnya pada sepuluh hari tersebut.

Lalu, bolehkah kita optimis untuk bisa mendapatkan keutamaan di malam Lailatul Qadar ini? Tentu sangat diperbolehkan. Dalam hal ini, dalam kitab Taarikh (155/ 19) karya Ibn Asakir (w. 571 H) menyebutkan sebuah riwayat yang artinya,

Dari Zuhri, dari Ibn Abbas bahwa Rasulullah SAW.bersabda, “Barangsiapa yang membaca: “Laa Ilaaha Illallah, al Haliimul Kariim, Subhanallahi Rabbus Samaawaatis Sab’i wa Rabbul Arsyil Adhiim”, sebanyak tiga kali, maka ia seperti menjumpai malam Lailatul Qadar.

Riwayat diatas mempunyai catatan bahwa seseorang membacanya serta beramal baik dan juga menduga Lailatul Qadar bisa dijumpainya pada malam itu (diantara 10 hari terakhir), walaupun saat itu Allah tidak menurunkannya pada malam yang diduga Lailatul Qadar tersebut turun. Akan tetapi Allah tetap memberikan ganjaran seperti diturunkannya Lailatul Qadar pada orang tersebut.

Substansi yang sekiranya kita bisa petik dari riwayat tersebut adalah sebagai umat islam, kita harus percaya dan optimis untuk bisa mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar ini, khususnya meningkatkan amal saleh pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Mengenai persoalan kapan waktu malam ini tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Namun, kita harus berharap penuh untuk dapat menjumpainya, sehingga Allah menaruh ridho-Nya kepada hamba yang selalu mendekatkan diri dan mengidam-idamkan malam agung ini. Wallahu A’lam bi as Showaab. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar