Penting untuk Diketahui, Memahami Makna Iman Terhadap Hari Akhir

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Sukoharjonews.com – Kita ketahui bahwa salah satu dari rukun iman yang enam adalah iman kepada hari akhir, tapi tak sedikit dari kita hanya ada pada taraf menghafal setiap satu persatu dari rukun iman yang enam itu, tanpa memahami maknanya. Dengan begitu maka menjadi penting memahami setiap rukun itu.

Dikutip dari Bincang Syariah, Jumat (27/2/2026), Allah Swt mengingatkan di dalam Al-Qur`an surat Al-Ahzab ayat 63 bahwa hari akhir benar nyatanya dan hanya Ia yang tau kapan waktunya.

يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِۗ وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا

Artinya; “Orang-orang bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah bahwa pengetahuan tentang hal itu hanya ada di sisi Allah.” Tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat.” (QS. Al-Ahzab; 63).

Dikatakan dalam sebuah hadist bahwa Nabi pernah didatangi oleh Jibril dan malaikat jibril menanyakan perihal rukun Iman.

قَالَ: فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِيمَانِ؟ قَالَ: ” أَنْ تُؤمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: صَدَقْتَ.

Artinya; “Jibril berkata: ‘beritahu aku Muhammad tentang iman, Rasulullah bersabda, ‘Beriman kepada Allah, kepada Malaikat Allah, kepada kitab-kitab Allah, beriman kepada Utusan Allah, beriman kepada hari akhir, dan beriman pada takdir baik dan buruk Allah.’ Jibril berkata; “Engkau benar Muhammad”.”. (HR. Imam Muslim)

Nah, apa sih kira-kira makna dari hadist tentang iman kepada hari akhir itu?. Mari kita bahas.

Memahami Makna Iman Terhadap Hari Akhir
Iman kepada hari akhir merupakan salah satu dari enam rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Dalam kitab Jawahirul Lu’lu’iyah fi Syarh Arba’in An-Nawawiyah, Syaikh Abdullah Al-Jurdani memberikan definisi iman kepada hari akhir dengan sangat rinci dan jelas.

وَالْيوْمِ الآخِرِ أي : وأن تؤمن باليوم الأخر وهو يوم القيامة, وسمي اخرا لأنه لا ليل بعده, ومعنى الإيمان به التصديق بوجوده وبجميع ما اشتمل عليه, من بعث المخلوقات, وحسابهم, ووزن أعمالهم, ومرورهم على الصراط, وإدخال بعضهم النار بالعدل, و بعضهم الجنة بالفضل.

Artinya; “Hari akhir adalah hari kiamat, dinamakan hari akhir karena setelah itu sudah tidak ada malam hari lagi, adapun makna iman kepada hari akhir adalah membenarkan akan datangnya hari akhir tersebut serta membenarkan segala sesuatu yang berkaitan dengan hari akhir itu, di antaranya, bangkitnya para makhluk, hisabnya mereka, ditimbangnya amal, meniti jembatan shiratal muataqim, masuknya sebagian makhluk ke neraka dengan penuh keadilan, dan masuknya sebagian makhluk yang lain ke surga dengan penuh keutamaan.”

Penamaan “hari akhir” (اليوم الآخر) bukan tanpa alasan. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Al-Jurdani, hari ini dinamakan demikian karena setelahnya tidak ada lagi malam atau pergantian waktu seperti di dunia. Waktu berhenti, dan manusia memasuki fase kekekalan.

Iman kepada hari akhir tidak cukup hanya membenarkan bahwa kiamat akan datang. Iman tersebut harus meliputi keyakinan terhadap semua peristiwa yang akan terjadi setelahnya: kebangkitan (البعث), pengumpulan (الحشر), perhitungan amal (الحساب), penimbangan (الميزان), jembatan shirat (الصراط), dan pembalasan akhir berupa surga atau neraka.

Selain keterangan di atas, juga dijumpai penjelasan yang selaras di dalam syarah hadist yang lain yaitu dari Syaikh Ibnu Daqiq dalam kitab Syarh Al-Arba`in li Ibni Daqiq menjelaskan.

والإيمان باليوم الآخر: هو التصديق بيوم القيامة وما اشتمل عليه من الإعادة بعد الموت والحشر والنشر والحساب والميزان والصراط والجنة والنار وأنهما دار ثوابه وجزائه للمحسنين والمسيئين إلى غير ذلك مما صح من النقل.

Artinya; “Iman kepada hari akhir, yaitu membenarkan adanya hari kiamat dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hari kiamat, berupa adanya kebangkitan setelah mati, berkumpul di padang mahsyar, hisab amal, timbangan amal, melalui jembatan shirat, surga dan neraka yang mana keduanya adalah tempat balasan untuk orang yang berbuat baik dan buruk, dan lain sebagainya.”

Penjelasan Ibnu Daqiq menekankan pentingnya iman terhadap seluruh rincian hari kiamat yang telah disebutkan dalam nas-nas syariat. Ini menunjukkan bahwa iman kepada hari akhir bukan sekadar membenarkan “kiamat akan datang”, tetapi juga meyakini seluruh proses yang terjadi setelah kematian.

Kemudian keterangan yang sama juga disampaikan oleh Syaikh Abdul Haq dalam kitab Lum`atu at-Tanqih.

وقوله: (واليوم الآخر) وهو من الموت إلى دخول الجنة، والمراد الإيمان به وبما أخبر الشارع بوقوعه فيه، وإنما سمي اليوم الآخر لأنه لا ليل بعده، كذا قيل.

Artinya; “Perkataan yaumil akhir adalah berupa kematian sampai masuk ke surga, dan yang dimaksud dengan iman kepada hari akhir adalah iman akan datangnya hari akhir dan apa saja yang diinformasikan Allah perihal datangnya hari kiamat, dan dinamai hari akhir karena sudah tidak ada pergantian hari lagi setelah itu.”

Syaikh Abdul Haq mengingatkan bahwa hari akhir bukan hanya hari kiamat itu sendiri, tapi dimulai dari kematian hingga masuknya manusia ke surga atau neraka. Ini memperluas pemahaman kita bahwa fase kubur pun termasuk dalam rangkaian hari akhir.

Ketiga ulama di atas: Syaikh Abdullah Al-Jurdani, Ibnu Daqiq, dan Syaikh Abdul Haq sepakat bahwa iman kepada hari akhir mencakup keyakinan terhadap semua detail yang diinformasikan oleh syariat, dari kematian hingga pembalasan akhir.

Dari penjelasan tersebut, kita memahami bahwa iman kepada hari akhir bukanlah perkara kecil. Ia adalah keyakinan mendasar yang membentuk perilaku dan pandangan hidup seorang mukmin. Keyakinan akan adanya hisab, surga, dan neraka seharusnya menjadi motivasi kuat untuk hidup lurus, jujur, dan penuh tanggung jawab di dunia ini. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar