Penting untuk Diketahui, Hutang adalah Beban Dunia dan Akhirat

Ilustrasi. (Foto: Freepik)

Sukoharjonews.com – Jangan pernah meremehkannya, karena di hadapan Allah dan di hadapan manusia, ia tetap wajib diselesaikan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas mengingkari.” (HR. Al-Bukhari)

Dikutip dari Humayro, Sabtu (9/8/2025), hadis ini bukan sekadar peringatan biasa, tetapi isyarat betapa dahsyatnya dampak hutang terhadap kejujuran, kehormatan, bahkan keselamatan iman seseorang. Hutang bukan hanya masalah ekonomi, melainkan ujian yang dapat menggiring seseorang pada dosa-dosa besar.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, dalam Fathul Bari, menjelaskan bahwa orang yang terbiasa berhutang, sering kali akan terbawa untuk berdusta demi mengulur waktu atau agar terbebas dari tuntutan. Inilah yang membuat dosa hutang begitu berbahaya: ia menyeret kepada dosa-dosa lain.

Hutang Merampas Kehormatan
Lebih dari sekadar kesulitan membayar, hutang menyebabkan kesedihan di malam hari—karena gelisah memikirkan tanggungan—dan kehinaan di siang hari—karena harus menghindar atau berbohong kepada pemberi hutang.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah enggan menyalatkan jenazah seseorang yang masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk melunasinya. Ini adalah isyarat betapa seriusnya dosa tersebut. Sahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan:

“Pernah didatangkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jenazah seseorang yang meninggal dalam keadaan berhutang. Lalu beliau bertanya: ‘Apakah dia meninggalkan sesuatu untuk melunasi hutangnya?’ Jika dijawab ‘tidak’, beliau bersabda: ‘Shalatkanlah teman kalian ini.’” (HR. Muslim)

Perhatikan, Rasulullah tidak serta-merta memaafkan hutang tersebut meskipun almarhum adalah seorang muslim. Karena hutang adalah hak manusia yang tak terhapus kecuali dengan pelunasan atau pemaafan dari yang memberi hutang.

Dosa yang Tak Gugur Walau Mati Syahid
Bahkan orang yang mati syahid, yang seluruh dosanya diampuni, tetap tidak terlepas dari kewajiban membayar hutang. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Akan diampuni seluruh dosa orang yang mati syahid kecuali hutang.” (HR. Muslim)

Hal ini ditegaskan pula oleh ulama salaf. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata: “Orang yang mati syahid dosanya diampuni kecuali hutangnya, karena hutang adalah hak hamba dan tidak gugur kecuali dengan pelunasan.”

Ibnu Qudamah rahimahullah juga berkata: “Hutang tetap wajib dibayarkan meskipun pewarisnya tidak sanggup, dan orang mati pun tetap terbebani sampai hutangnya lunas atau dimaafkan.”

Hati-Hati Dalam Berhutang
Dari sinilah para ulama menasihati agar tidak mudah berhutang kecuali dalam keadaan benar-benar mendesak. Imam Nawawi rahimahullah berkata:

“Hendaknya seseorang tidak berhutang kecuali untuk kebutuhan yang sangat penting. Dan jika sudah berhutang, wajib berniat sungguh-sungguh untuk melunasi.”

Rasulullah sendiri memberikan kabar gembira bagi mereka yang jujur dan berusaha melunasi hutang. Beliau bersabda:

“Barang siapa yang berhutang, lalu berniat untuk melunasinya, maka Allah akan memudahkan baginya pelunasan itu.” (HR. Al-Bukhari)

Sebaliknya, orang yang sengaja mengingkari atau menunda tanpa alasan syar’i, mendapat ancaman keras. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Penundaan pembayaran hutang oleh orang yang mampu adalah kezaliman.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bekal Menghadapi Hutang
Apa yang harus kita lakukan? Pertama, tanamkan niat kuat untuk melunasi dan hindari dusta. Kedua, berdoa memohon pertolongan Allah, karena hanya Dia yang Maha Memberi Rezeki. Rasulullah mengajarkan doa:

“Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghram.” “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dosa dan beban hutang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ketiga, jika mampu, segeralah melunasi. Dan keempat, hindari gaya hidup berlebihan yang seringkali memaksa kita berhutang hanya demi keinginan, bukan kebutuhan.

Penutup
Hutang adalah urusan besar dalam Islam. Ia bukan hanya soal angka, tetapi juga soal amanah, kejujuran, dan kehormatan. Jangan pernah meremehkannya, karena di hadapan Allah dan di hadapan manusia, ia tetap wajib diselesaikan. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk terhindar dari lilitan hutang, atau setidaknya memudahkan jalan kita untuk melunasinya. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar