Sukoharjonews.com – Beribadah merupakan salah satu bentuk komunikasi batin antara hamba dengan Tuhannya. Karena sejatinya. Semakin ia memperbanyak ibadahnya, maka semakin dekat pula ia dengan Tuhannya. Akan tetapi, terkadang banyak di kalangan mereka yang keliru di dalam memahami hakikat ibadah itu sendiri. sehingga tak jarang seseorang yang dikenal ahli ibadah justru terjerumus ke dalam tipu muslihat setan.
Dikutip dari Bincang Syariah, Jumat (13/2/2026), kesalahpahaman ini timbul lantaran minimnya pengetahuan tentang hakikat sejati dari ibadah itu sendiri. Betapa banyak orang yang mempercantik tampilan luar saja tapi mengabaikan apa yang ada di dalam, yaitu hati.
Padahal yang paling krusial dan rentan dipengaruhi oleh setan adalah hati manusia. Apabila organ inti ini rusak, maka akan berpengaruh pula pada organ yang lain.
Sebelum manusia terjerumus ke jurang setan yang lebih dalam, maka para ulama’ mengungkapkan kekeliruan yang sering terjadi pada diri manusia agar mereka berusaha menghindarinya.
Tulisan ini akan membahas mengenai kekeliruan seorang hamba dalam menjalani ibadah kepada Tuhannya, yang dikutip dari kitab “Uyub an-Nafsi” karya Abu Abdurrahman an-Naisaburi.
Beliau menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang terkadang menjadi penyakit yang bisa menjangkiti iman seorang hamba sehingga membuatnya kehilangan esensi ibadahnya (ruhul ibadah). Diantaranya penyakit-penyakit tersebut antara lain adalah:
1. Merasa lebih tinggi karena ibadah
banyak orang mengira bahwa dengan ibadah yang dilakukannya sudah menjadikannya dirinya lebih tinggi dari orang lain yang tidak beribadah sama sekali. Bahkan mereka cenderung merendahkan orang lain. Mereka menganggap bahwa ibadah adalah puncak tertinggi dalam perjalanan menuju Tuhan. Mereka lupa satu hal penting, yaitu keikhlasan dalam melaksanakan ketaatan.
Sesungguhnya tujuan beribadah yang sejati adalah mengharap ridha Allah. Karena, tidak ada yang benar-benar tahu apakah amaliyah manusia diterima atau tidak selain Allah. Dalam hal ini, salah satu ulama’ bernama Muhammad Jamil dalam kitabnya menyebutkan bahwa ada tiga tingkatan seseorang dalam beribadah, yaitu,
الاول ان يفعل ذلك خوفا من الله تعالى وهذه عبادة العبيد, الثانى ان يفعل ذلك لطلب الجنة والثواب وهذه عبادة التجار, الثالث ان يفعل ذلك حياء من الله تعالى وتأدية لحق العبودية وتأدية للشكر وهذه عبادة الاحرار
“1. Orang melakukan ibadah semata takut kepada Allah. Ini adalah ibadahnya hamba sahaya; 2.Orang melakukan ibadah untuk memperoleh kenikmatan surgawi serta pahala. Ini adalah ibadahnya pedagang; 3. Orang yang melakukan ibadah lantaran merasa malu ketika meninggalkannya dan berusaha memenuhi hak beribadah sekaligus syukur kepada Allah. Ini adalah ibadahnya orang merdeka.” (Majmu’ah Rasail al-Taujihat, 3/386)
Dalam pernyataan tersebut seolah memberi isyarat bahwa setiap orang memiliki tahapan tertentu untuk meningkatkan kualitas diri, khususnya dalam persoalan ibadah. Meskipun ibadah memiliki orientasi yang baik, yaitu bentuk penghambaan diri kepada Tuhan. Tapi, ibadah juga menjadi malapetaka bila dipahami tanpa menghayati makna hakikatnya.
2. Menjadikan ibadah sebagai kewajiban bukan kebutuhan
Ada perbedaan antara ibadah yang dijadikan kewajiban dengan ibadah yang dijadikan kebutuhan. Apabila orang shalat lantaran agar terlepas dari tanggung jawab meskipun berat hati melakukannya, berarti itu simbol dari kewajiban.
Sedangkan bila orang sholat lantaran menganggap shalat sebagai bagian dari dirinya, maka itu simbol dari kebutuhan. Orang yang menjadikan shalat sebagai kebutuhan tidak akan merasa berat hati melakukannya apalagi menjadi beban baginya. Bahkan ada keterangan menyatakan bahwa ada sebagian ulama’ yang menjadikan ibadah sebagai waktu istirahat yang paling haqiqi.
Disisi lain, ada pula yang beribadah dengan tujuan agar dipandang oleh orang lain. Padahal orang lain tidak memiliki hubungan dengan ibadahnya sendiri. Penyebabnya adalah penyakit hati yang bersemayam di tubuhnya. Sehingga boleh jadi orang semacam ini tidak akan merasakan nikmatnya ibadah sampai dirinya diperhatikan oleh orang.
Banyak dikalangan umat muslim tidak merasakan apapun dalam ibadahnya lantaran menghilangkan ruh ibadah itu sendiri, yaitu ketulusan menjalankan perintah Allah. Bukankah kita sebagai manusia dituntut ikhlas dalam menjalani ibadah? Sebagaimana diterangkan dalam alquran yang berbunyi,
وما امروا الا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء
“Mereka tidak diperintah kecuali semata untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama yang lurus”. (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
3. Tertipu bisikan hati
Banyak yang masih menganggap bahwa bisikan yang ada dihatinya adalah benar. Banyak orang meyakini bahwa apa yang terbesit di hatinya merupakan petunjuk dari Allah melalui malaikat. Padahal boleh jadi bisikan tersebut sebenarnya bisikan yang datang setan dengan menggunakan nafsu sebagai senjata pamungkas.
Setan selalu memiliki segala cara untuk menyesatkan umat manusia dari jalan Tuhan. Pertanyaan adalah apakah mungkin setan menggoda manusia melalui amal kebaikan. Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama dijawab oleh ulama’ terdahulu.
Salah satunya adalah Imam al-Ghazali yang mengungkapkan kejahatan-kejahatan setan dalam kitab populernya Ihya’ Ulumuddin. Beliau menjelaskan bahwa setan juga bisa membungkus kebaikan dengan keburukan. Sebab, mereka (setan) masih memiliki senjata andalan berupa nafsu yang terdapat dalam diri manusia.
Sebagai contoh cerita masyhur tentang syekh Barsishoh yang dikenal kuat beribadah dan berzikir kepada Allah. Di mana akhir cerita menjelaskan bahwa ia meninggal dalam kondisi bersujud kepada setan (dalam artian kafir).
Walhasil, dalam menjalani ibadah selayaknya kita harus waspada serta memohon perlindungan kepada Allah dari tipu muslihat yang bisa datang dari segala arah. Wallahu a’lam. (nano)
Tinggalkan Komentar