Sukoharjonews.om – Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Saudaramu yang sebenarnya adalah yang menasihatimu, bukan yang selalu membenarkanmu.”
Dikutip dari Humayro, Minggu (10/8/2025), dalam kehidupan ini, manusia tidak bisa hidup sendiri. Setiap kita pasti membutuhkan teman, sahabat, dan lingkungan yang mendukung. Namun, tidak semua bentuk pertemanan membawa kebaikan. Sebagian hubungan justru menjauhkan kita dari tujuan hidup yang hakiki: keselamatan di akhirat.
Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitabnya Al-Fawaaid:
الاجتماع بالاخوان قسمان:
احدهما اجتماع علي مؤانسة الطبع وشغل الوقت فهذا مضرته أرجح من منفعته وأقل ما فيه انه يفسد القلب ويضيع الوقت
الثاني الاجتماع بهم علي التعاون علي أسباب النجاة والتواصى بالحق والصبر فهذا من أعظم الغنيمة وأنفعها
Artinya:
“Bergaul dengan teman ada dua macam:
1. Berkumpul untuk membiarkan tabiat dan menghabiskan waktu. Yang ini, mudhorotnya lebih besar daripada manfaatnya. Minimalnya hal ini akan merusak kalbu dan menyia-nyiakan waktu.
2. Berkumpul untuk saling menolong mencari sebab keselamatan serta saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran. Yang ini, termasuk di antara harta terbesar dan hal yang paling bermanfaat.”
Renungan dari perkataan beliau ini sangat dalam. Ia tidak hanya menyoroti pentingnya pergaulan, tetapi juga membedakan antara pertemanan yang menjebak dan pertemanan yang menyelamatkan.
Banyak orang menjalin hubungan hanya demi kesenangan sesaat: nongkrong, bergosip, bermain tanpa arah, atau diskusi tak bermakna. Hal ini bisa jadi menyenangkan sesaat, namun secara perlahan bisa melemahkan hati, melalaikan zikir, serta membuat waktu terbuang sia-sia. Dalam Islam, waktu adalah nikmat yang sangat besar dan akan dipertanggungjawabkan.
Rasulullah SAW bersabda: “Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412)
Ulama salaf juga mengingatkan hal serupa. Al-Fudhoil bin Iyadh rahimahullah berkata: “Aku mengenal orang-orang yang sangat menjaga waktunya lebih daripada menjaga dirham dan dinarnya.”
Sahabat semacam ini bukan hanya tidak memberi manfaat, tapi juga menjauhkan dari akhirat.
Sebaliknya, ada pertemanan yang menjadi jalan keselamatan. Yaitu ketika dua atau lebih orang berkumpul atas dasar iman, saling mengingatkan, saling menasihati dalam kesabaran, dan menolong dalam ketaatan. Pertemanan seperti ini bukan hanya menjadi pahala, tapi juga penopang dalam menghadapi ujian dunia.
Allah berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan: “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini (Al-‘Ashr), maka itu sudah cukup sebagai hujjah.”
Begitu pentingnya pertemanan yang membangun keimanan, hingga dalam akhirat nanti, hanya mereka yang bersahabat karena Allah-lah yang akan mendapat naungan.
Rasullulah SAW bersabda: “Tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya… (di antaranya) dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul karena Allah dan berpisah karena-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pertemanan bukan sekadar kebersamaan, tapi juga cermin dari kualitas hati dan iman. Sahabat dunia bisa jadi membawa tawa, tapi sahabat akhirat membawa keselamatan.
Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Saudaramu yang sebenarnya adalah yang menasihatimu, bukan yang selalu membenarkanmu.”
Maka, marilah kita koreksi kembali lingkaran sosial kita. Apakah kita dikelilingi oleh sahabat yang membantu kita menuju surga, atau hanya menemani kita menghabiskan waktu dalam kelalaian?
Bersahabatlah karena Allah, dan pilihlah teman yang tak hanya menemanimu di dunia, tapi juga akan mencari dan menolongmu di akhirat. (nano)
Tinggalkan Komentar