Penjelasan akan Pertanyaan Kenapa Ada Kejahatan di Bumi Jika Allah Maha Pengasih,

Ilustrasi. (Foto: Bincang Syariah)

Sukoharjonews.com – Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: “Jika Allah Maha Pengasih, mengapa masih ada kejahatan di dunia ini?” Hal ini terjadi karena dunia yang kita tempati tidak pernah lepas dari berbagai ironi.

Dilansir dari Bincang Syariah, Rabu (6/5/2026), salah satu ironi terbesar adalah ketika manusia merenungkan sifat Allah yang Maha Pengasih, namun pada saat yang sama bertanya-tanya mengapa Allah membiarkan adanya kejahatan dan penderitaan bagi hamba-hamba-Nya.

Manusia diciptakan oleh Tuhan yang Maha segalanya. Di antara ke-maha-segalaan-Nya; Tuhan akan menciptakan segala hal di dunia ini; meliputi kebaikan, kejahatan, hujan yang membawa berkah, atau bahkan badai petaka. Sebagian orang memahami ke-maha kuasaan-Nya sebagai sebuah “kesempurnaan” Tuhan dalam menunjukkan eksistensinya sebagai Dzat yang sempurna secara absolut.

Namun, manusia yang lemah iman dan dangkal ilmunya akan mengatakan, “Jika Tuhan Maha segalanya, termasuk Maha pengasih, seharusnya Tuhan tidak pernah mentakdirkan manusia untuk miskin, atau tidak mati karena diperkosa, atau uangnya tidak pernah tercuri!”.

Apakah Allah Jahat?
Sebelum memasuki pembahasan apakah Allah pantas disebut sebagai penjahat, terlebih dahulu harus dipahami apa makna keadilan Allah, karena makna zalim dan kejahatan yang selama ini kita pahami biasanya timbul karena adanya kesewenang-wenangan dari pihak tertentu.

Makna adil secara bahasa adalah bertindak secara proposional. Namun Syekh Sa’id Faudah dalam salah satu fatwanya menyatakan bahwa makna adilnya Allah itu mencakup dua pemaknaan.

ويدور معنى العدل على أمرين اثنين: الأوّل من تنزّه عن النقائص الحاصلة في طرفي الإفراط والتفريطز والثاني أنّه لا يظلم ولا يجور.

“Pertama, Adil ialah terbebas dari sifat-sifat kekurangan yang terletak pada tindakan ekstrim atau terlalu menggampangkan. Kedua, makna adil adalah Allah tidak akan zalim terhadap hamba-Nya”. (Hal Allah Laisa bi ‘Adilin Au Mukhsin Sa’id Faudah, hlm. 3.)

Di sisi yang lain, Imam Qusyairi dalam kitab Syarh Asma al-Husna mengatakan bahwa;

والعدل من صفات ذاته بمعنى أنّ له أن يفعل في ملكه ما يريد.

Artinya; “Makna keadilan Allah itu menunjukkan kebebasan bagi Allah untuk melakukan apapun yang dikehendaki di kerajaan-Nya sendiri”. (Syarh Asma al Husna, hlm. 252.

Dari beberapa pemaknaan adil di atas, bisa kita simpulkan bahwa keadilan Allah itu terbebasnya Dzat Allah dari tindakan zalim dalam menetapkan hukum-Nya, dan hilangnya sesuatu yang mencegah kehendak-Nya.

Pertanyaanya, kenapa kemudian keadilan Allah berhubungan dengan kedaulatan-Nya?

Jawabannya, pertama, karena “sesuatu” yang bebas melakukan segala hal itu menunjukkan sesuatu tersebut adalah sesuatu yang sempurna secara Dzat dan sifat-Nya. Kedua, sesuatu yang sempurna secara Dzat dan sifat-Nya tidak akan zalim dalam tindakannya.

Jadi, makna adil Allah itu bukan dimaknai Allah itu harus melakukan sesuatu tertentu yang sesuai dengan keinginan manusia. Bahkan, Allah bisa saja tidak memberi pahala bagi orang yang taat kepada-Nya, atau bisa saja tidak menyiksa orang yang membangkan kepada-Nya. Dan itu tetap dikatakan sebagai keadilan Allah, karena Allah itu maha sempurna secara Dzat dan sifat-Nya.

Seandainya Allah berkeharusan melakukan sesuatu, artinya Allah tidak berdaulat terhadap dirinya sendiri, jika sudah tidak berdaulat, itu artinya Allah di bawah tekanan tertentu dan itu mustahil bagi-Nya.

Adanya kesengsaraan tidak menunjukkan Allah Zalim
Sejak awal tidak ada hubungan antara kesengsaraan yang dialami manusia dengan kezaliman Allah. Pernyataan ini hanya ada dibenak manusia yang beranggapan bahwa manusia yang tidak bermaksiat terhadap Allah tidak pantas mendapat kesengsaraan. Ini pernyataan yang fatal.

Fakta bahwa para Nabi diberi cobaan begitu berat, orang-orang saleh diuji dengan segala kesengsaraan, padahal mereka adalah orang-orang yang paling taat kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa orang-orang paling taat pun tetap mendapat kesengsaraan dari-Nya. Apakah mereka kemudian dengan segala cobaan yang diterimanya lalu menisbatkan sifat zalim kepada Allah?

Tentu saja jawabannya adalah “tidak”. Allah tidak menciptakan segala kesengsaraan di dunia ini semata hanya untuk menyiksa orang yang bermaksiat kepada-Nya saja. Alih-alih Allah mencipta segala cobaan ini untuk menguji manusia apakah ia akan sabar atau tidak terhadap ketetapan-Nya atau justru akan mengatakan “Ya Allah kenapa engkau menciptakan segala kesengsaarn ini, padahal kami beriman kepadamu?”.

Maka dari itu manusia harus selalu menghadirkan makna sejati keadilan Allah seperti yang sudah terpapar di atas, sehingga tidak lagi mempertanyakan Allah yang Maha pengasih kenapa masih ada kesengsaaran dan kejahatan di dunia ini. Selain itu, manusia juga harus ingat bahwa dunia ini diciptakan sekaligus sebagai bahan ujian manusia untuk kemudian akan dihisab nanti ketika di kehidupan berikutnya.

Jadi, jangan latah dengan segala fenomena yang menurut manusia itu tidak benar atau tidak baik, karena yang baik atau benar menurut manusia belun tentu baik atau benar menurut Allah atau sebaliknya.

Dalam kitab Jauhar at-Tauhid Imam Baijuri, (hlm. 87) tentang pernyataan Imam Ghazali yang relate dengan pembahasan ini ;

ليس في الإمكان أبدع ممّا كان

Artinya; “Tidak ada yang lebih sempurna dengan dunia yang sudah ada ini”. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar