Penggemar Roti Harus Tahu, Ini Sejarah Croissant

Sejarah roti croisant.(Foto: fumac)

Sukoharjonews.com – Bukan Prancis, croissant adalah pastry bergaya viennoiserie. Ditilik dari namanya jelas bahwa sejarah croissant berkaitan dengan kota Vienna atau Wina di Austria.

Dilansir dari Nibble, Kamis (16/1/2025), Kipferl disebut-sebut sebagai nenek moyang croissant masa kini. Legenda menyebutkan, kipferl merupakan simbol perayaan kemenangan Wina atas upaya pengepungan bangsa Ottoman pada 1683. Bentuk bulan sabit konon mengadopsi simbol bendera Turki, sedangkan nama “kipferl” bermakna bulan sabit dalam bahasa Jerman.

Namun, sebagian kalangan meyakini kipferl telah ada sejak abad ke-13 dengan berbagai jenis ukuran, bentuk, dan isian. Teksturnya pun cenderung lebih padat dan manis ketimbang croissant yang kita kenal sekarang.

Ada yang meyakini campur tangan Marie Antoinette dalam memperkenalkan croissant ke tanah Prancis. Kerinduan pada makanan tempat kelahirannya, Vienna, membuat Antoinette meminta juru masak istana membuat kue kesukaannya itu. Sayangnya, belum ditemukan bukti sahih yang menyatakan kebenaran cerita tersebut.

Akan tetapi, bukti tercatat pertama tentang keberadaan croissant di Prancis berkaitan dengan August Zang dan Ernest Schwartzer. Pada 1837 Zang – kelahiran Austria, membuka toko roti bernama La Boulangerie Viennoise yang menyajikan berbagai jenis kue dan roti khas Austria, termasuk kipferl.

Warga Paris pun jatuh hati pada kipferl dan semua roti ala viennoiserie. Mereka meniru roti-roti tersebut untuk dijual di tokonya. Nama croissant juga mulai tercatat dalam berbagai arsip, mengacu pada bentuk bulan sabit roti tersebut, termasuk dalam buku Charles Dickens “All the Year Round” pada 1872.

Croissant Autentik ala Prancis
Meski croissant versi Austria punya bentuk bulan sabit, adonannya justru berbeda. Adonan kipferl lebih mirip adonan brioche. Zang mengembangkan resep ini dengan memanggang adonan dalam oven steam pertama di Prancis. Popularitas kipferl terus meningkat hingga sebutan roti itu diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, yakni croissant yang juga berarti bulan sabit.

Baru pada 1915 Sylvain Claudius Goy mencatatkan resep croissant pertama Prancis. Alih-alih menggunakan adonan brioche seperti yang dipakai Zang, Goy mengubah resep menjadi adonan ragi berlapis.
Adonan croissant jadi lebih ringan sehingga teksturnya lebih lembut dan isinya berongga. Untuk mempercantik tampilannya, croissant juga dilapisi egg wash sebelum dipanggang.

Dari mana tekstur croissant ringan itu didapat? Nah, Goy memanfaatkan teknik laminasi, yaitu melipat adonan dan mentega berulang-ulang guna menciptakan lapisan kue yang tipis dan flaky. Resep Goy inilah yang kita kenal sebagai resep croissant modern. (patrisia argi)

Tinggalkan Komentar