
Sukoharjonews.com (Grogol) – Upaya pemerintah untuk mewujudkan internet positif terus dilakukan. Website atau situs bermuatan pornografi terus dipelototi dan diblokir. Meski begitu, masih ada celah untuk mengakses konten-konten porno sehingga Kementerian Komunikasi dan Informatika harus bekerja optimal. Terlebih lagi, pengakses konten porno didominasi oleh generasi milenial.
“Sepanjang tahun 2019 ini sudah ada 1 juta lebih situs bermuatan pornografi yang kami blokir dan terus akan dilakukan pemblokiran ini,” ujar Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kemenkominfo, Widodo Muktiyo usai jadi keynote speaker “Seminar dan Lokakarya Nasional Literasi Digital dan Etika Dunia Siber” di Best Western Hotel Solo Baru, Grogol, Jumat (13/12).
Dikatakan Widodo, konsumsi situs pronografi masih cukup tinggi dan mayoritas dari kalangan milenial. Upaya yang dilakukan Kemenkominfo adalah memblokir situs pornografi agar tidak mudah diakses masyarakat. Menurutnya, konten porno membuat pengaksesnya menjadi kecanduan. “Perlu adanya literasi media. Di mana bermedia kita juga harus mengonsumsi yang halal dan menyehatkan. Apalagi hampir 50% warga Indonesia sudah bisa menggunakan gadget,” ujarnya.
Mantan Wakil Rektor UNS tersebut juga mengatakan, selain pornografi penyebaran berita hoak juga menjadi perhatian. Pada tahun 2019 ini, berita hoak terkait dunia kesehatan masih mendominasi. Penyebaran berita hoak di era bebas informasi ini akan berimbas pada ketahanan komunikasi masyarakat. Jika tidak ada kesadaran serta etika dalam bermedia masyarakat akan rawan di adu domba.
Dalam membangun literasi digital dan etika bermedia, Widodo mengaku menyasar generasi muda. Selain itu perlu ada kesadaran bermedia sosial. Dan bisa membangun era bermedia yang cerdas, santun dan beretika. “Sasarannya adalah generasi Z yang cenderung independen yang mudah terpengaruh. Apalagi saat ini sudah masuk era Post Truth,” tambahnya.
Sedangkan Ketua Umum Generasi Gerakan Nasional Literasi Digital Sibermedia, Herman Josis Molaku mengakui jika konten negatif secara angka menurun. Namun, ada momentum tertentu yang muncul seperti situasi menjelang Pemilihan Umum (Pemilu). “Generasi muda harus cerdas dan kritis dalam menyikapi informasi yang beredar sehingga tidak mudah menyebarkan berita. Tak jarang hoak disebar atas dasar rasa kuatir dan rasa kepedulian. Karenanya harus berhati-hati,” ujarnya. (erlano putra)



Facebook Comments