Penanganan Longsor Brebes, Langkah Ini yang Diambil Gubernur Ahmad Luthfi

Penanganan longsor di Kabupaten Brebes. (Foto: Dok Pemprov Jateng)

Sukoharjonews.com (Brebes) — Bencana tanah longsor melanda Desa Cilibur, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Tak menunggu lama, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi langsung meninjau lokasi dan memastikan penanganan dampak bencana berjalan cepat, sehingga tidak meluas ke pemukiman warga.

Sebagai informasi, longsor di daerah tersebut terjadi disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi, sehingga mengakitkan debit sungai Longkrang meningkat pada 1 Maret 2026. Tak pelak, arus sungai menggerus tebing yang memicu kejenuhan tanah dan longsor.

Kejadian semakin parah saat hujan deras kembali mengguyur daerah tersebut pada 8 Maret 2026. Tebing sungai kembali tergerus air sehingga terjadi longsor yang menghilangkan badan jalan, dan merobohkan bangunan di SMP Muhammadiyah 3 Paguyangan. Tidak ada korban jiwa dalam dua insiden tersebut.

“Jalan harus segera dibikin. Teknisnya nanti didiskusikan dulu karena ini jalan kabupaten, nanti kita (provinsi) intervensi saja. Kabupaten menyiapkan alternatif apa, provinsi melakukan apa,” kata Luthfi, dikutip dari laman Pemprov Jateng, Sabtu (14/3/2026).

Dalam penanganan itu, Luthfi juga meminta percepatan pembenahan SMP Muhammadiyah 3 Paguyangan, yang terdampak bencana tersebut. Sebab, bencana itu berdampak pada robohnya bangunan kamar mandi, dan bangunan lain terancam roboh. Tak ayal, kegiatan belajar-mengajar dipindahkan ke tempat sementara di Gedung Madrasah Diniyah Muhammadiyah Desa Cilibur, yang berjarak 200-300 meter dari titik longsor.

“Jadi anak-anak sekolah tidak boleh berhenti. Kepala sekolah segera lapor ke dinas mengenai kurangnya apa. Meskipun SMP kewajiban bupati, nanti provinsi akan ikut bantu,” katanya.

Begitu halnya dengan rencana relokasi SMP Muhammadiyah 3 juga harus dilakukan dengan cepat, mengingat kegiatan belajar mengajar tidak bisa menunggu waktu. Karenanya, kegiatan sekolah harus tetap jalan.

Kepala DPUPR Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro mengatakan, untuk penanganan jalan sudah ada dua alternatif. Pertama, merelokasi jalan dengan memanfaatkan tanah bengkok. Kedua, tetap menggunakan jalan exsisting, dengan membuat talud atau traping tebing sungai yang longsor.

“Untuk alternatif kedua, kita akan membongkar gedung paling depan guna membuka akses jalan, setelah itu tinggal menangani di tikungan jalan. Nanti akan dikoordinasikan lagi dengan dinas kabupaten,” terangnya.

Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah 3 Paguyangan, Ahmad Najib mengatakan, kegiatan belajar mengajar saat ini berjalan normal. Untuk sementara menggunakan gedung Madrasah Diniyah milik Muhammadiyah, sekitar 200 meter dari lokasi.

“Jumlah siswa kami ada 108 siswa. Kegiatan belajar masih berlangsung dengan baik,” urai Najib.

Terkait rencana relokasi SMP Muhammadiyah 3, pihak sekolah dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sudah mencari tempat alternatif. Lokasi tersebut sudah didiskusikan dengan ketua ranting Muhammadiyah, tinggal dilakukan pengecekan oleh dinas terkait.

“Sudah mengajukan laporan ke dinas, dan memang harus direlokasi. Tempat sudah diskusi dengan ketua ranting, tinggal pengecekan,” ujarnya. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar