
Sukoharjonews.com (Jakarta) – Pembangunan Jakarta Mass Rapid Transit Project (Phase 2) (I) Contract Package CP203 (MRT Fase 2A CP203) terus dikerjakan oleh PT Hutama Karya (Persero). Pembangunan tersebut meliputi Stasiun Glodok dan Stasiun Kota, serta terowongan sepanjang kurang lebih 1,459 kilometer.
Karena berada di kawasan bersejarah yang padat aktivitas, proyek ini dikembangkan dengan desain yang kontekstual terhadap Kota Tua, terintegrasi antar moda, sekaligus mengedepankan keselamatan, kualitas, dan kenyamanan pengguna.
Proyek milik MRT Jakarta (Perseroda) ini ditandatangani pada 19 April 2021, dan setelah ditemukannya cagar budaya berupa rel trem serta drainase terracotta, jadwal penyelesaian diubah menjadi pertengahan tahun 2027.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim menyampaikan bahwa arsitektur menjadi pembeda utama di CP203. Stasiun Glodok mengusung konsep “Layers of History: Chinatown Heritage & Commercial Area”. Eksterior monokrom yang formal sengaja dirancang agar menjadi penanda navigasi baru di tengah semarak kawasan Pecinan.
“Di dalam ruang, narasi Glodok dituturkan melalui permainan ‘layer’ pada dinding dan plafon serta aksen merah yang menegaskan identitas Pecinan sehingga pengguna akan merasakan transisi dari hiruk-pikuk jalan ke interior yang lapang, efisien, dan berkesan,” terang Adjib, dikutip dari laman KabarBUMN, Kamis (28/8/2025).
Adapun Stasiun Kota mengangkat tema “Dwara Batavia: The Gate of Batavia” dengan penerapan bentuk lengkung dan garis pada kolom, lantai, hingga plafon. Hal ini menjadi simbol dialog antara warisan arsitektur kolonial Beos dengan ritme mobilitas modern.
“Kedua stasiun dirancang sebagai simpul Transit Oriented Development (TOD): trotoar lebar dan ramah pejalan kaki, aksesibilitas penuh bagi penyandang disabilitas dari pedestrian hingga peron, serta konektivitas langsung seluruh stasiun Fase 2A dengan Transjakarta; khusus Stasiun Kota, integrasi dilakukan langsung dengan Commuter Line untuk memudahkan perpindahan moda,” tambah Adjib.
Penataan kawasan mengikuti Panduan Rancang Kota (Urban Design Guidelines/UDGL) Kota Tua, mencakup pelebaran trotoar, penguatan konektivitas moda, serta mendukung Low Emission Zone di Jl. Pintu Besar Selatan.
Proyek ini juga menyediakan detention tank sesuai rekomendasi Dinas Sumber Daya Air, menggunakan material finishing non-combustible dan non-toxic, serta dilengkapi sistem proteksi kebakaran berupa fire shutter yang terkoneksi dengan Building Automation System (BAS) dan mampu menahan api hingga dua jam. Adjib menekankan CP203 tidak hanya berorientasi pada struktur, tetapi juga pengalaman ruang.
“Kami bekerja di pusat sejarah Jakarta dengan standar keselamatan yang ketat dan sensitivitas heritage yang tinggi, sambil menghadirkan desain stasiun yang berakar pada identitas Glodok dan Kota Tua.”
“Tujuannya bukan sekadar menghadirkan transportasi massal yang andal, tetapi juga memperkaya ruang kota dan memudahkan perpindahan antarmoda,” jelasnya.
Saat ini, proyek memasuki tahap menengah menuju akhir, difokuskan pada penggalian dan penyiapan pintu masuk stasiun, penyelesaian desain interior dan eksterior, pemasangan sistem listrik, air, dan ventilasi, hingga perbaikan permukaan agar fungsi kota tetap berjalan normal.
Metode top-down digunakan untuk struktur bawah tanah, sementara pembuatan terowongan dilakukan dengan Tunnel Boring Machine (TBM). Untuk pekerjaan dinding diafragma, digunakan alat hidrolik dengan getaran rendah serta penguatan sistem kedap air, bahkan di titik tertentu dibuat dinding ganda demi menahan tekanan air tanah dan menjamin konstruksi tahan lama.
Semua pekerjaan dilakukan dengan standar keselamatan tinggi demi melindungi pekerja maupun lingkungan. Lebih jauh, Adjib menjelaskan bahwa pembangunan di area Kota Tua yang padat permukiman menuntut pendekatan konstruksi ekstra hati-hati, berbasis data, dan komunikatif.
Survei awal kondisi bangunan warga dilakukan sebelum pelaksanaan, disertai pemasangan instrumen pemantau untuk mendeteksi pergerakan tanah dan perubahan bangunan. Cagar budaya mendapat perlindungan tambahan berupa sensor getaran otomatis, sementara kebisingan lingkungan dipantau secara rutin. Uji coba galian dilakukan untuk memetakan jaringan utilitas sebelum penataan ulang.
“Selama konstruksi, tim humas proyek melakukan sosialisasi rutin dengan warga yang salah satunya di Stasiun Jakarta Kota dibangun Community Center yang menampilkan miniatur CP203 agar publik dapat melihat tahapan dan teknologi yang digunakan,” ujarnya.
Stasiun Glodok dibangun dengan dimensi 240 meter panjang, 23,1 meter lebar, memiliki dua lantai, serta kedalaman 19,7 meter dari permukaan. Sementara itu, Stasiun Kota berukuran lebih besar dengan panjang 411 meter, lebar 21,1 meter, tiga lantai, dan kedalaman 23,45 meter.
Untuk memastikan integrasi sistem berjalan lancar, teknologi perencanaan digital digunakan sehingga desain arsitektur tidak bertabrakan dengan sistem listrik, air, maupun ventilasi.
Hingga Juli 2025, proyek ini menyerap 879 pekerja dengan 97,3% tenaga kerja lokal. Selain itu, tim proyek juga melaksanakan program sosial seperti dukungan untuk panti asuhan dan partisipasi dalam kegiatan keagamaan bersama masyarakat sekitar.
“Ketika beroperasi, lintasan Glodok–Kota diharapkan mengurangi kemacetan pada koridor wisata dan perdagangan padat, memperlancar arus pengunjung Kota Tua, serta menghubungkan titik-titik strategis Jakarta melalui jalur yang cepat dan teratur.”
“Dengan pendekatan konstruksi yang presisi, desain yang berakar pada narasi heritage, dan integrasi antarmoda yang kuat, CP203 disiapkan menjadi simpul penting yang memudahkan pergerakan masyarakat sekaligus memperkaya pengalaman berkunjung ke kawasan bersejarah Kota Tua,” tambah Adjib. (nano)















Facebook Comments