Motorola Mematenkan Jam Tangan Pintar yang Bisa Berubah Menjadi Ponsel Lipat

Paten smartwatch Motorola. (Foto: Gizmochina)

Sukoharjonews.com – Motorola sedang menjajaki faktor bentuk (form factor) baru yang cukup radikal yang dapat mengaburkan batas antara ponsel pintar dan perangkat yang dapat dikenakan (wearable).

Dilansir dari Gizmochina, Rabu (12/8/2026), sebuah paten yang baru terungkap mendeskripsikan perangkat fleksibel yang dirancang untuk beralih secara mulus antara penggunaan di pergelangan tangan sehari-hari dan pengalaman menggenggam perangkat yang lebih konvensional, dengan tujuan mengatasi beberapa keterbatasan ponsel lipat saat ini maupun jam tangan pintar tradisional.

Ditemukan oleh Burnplate dan pembocor informasi @xleaks7, paten tersebut menguraikan perangkat dengan layar lipat yang dapat berfungsi baik sebagai ponsel pintar maupun jam tangan pintar. Dalam mode jam tangan pintar, perangkat ini melingkari pergelangan tangan dengan layar menghadap ke luar.

Magnet menyatukan kedua ujungnya dan juga memungkinkan ukuran “gelang” disesuaikan untuk berbagai pengguna. Jika dilepas dari pergelangan tangan dan diluruskan, perangkat ini berubah menjadi ponsel. Untuk mendapatkan rasio aspek ponsel pintar yang lebih tradisional, kedua bagian tersebut dapat dipisahkan dan disatukan kembali secara berdampingan.

Konsep ini berupaya memecahkan masalah nyata. Ponsel lipat seperti seri Razr 70 terbaru dari Motorola memang menjadi lebih kecil saat ditutup, namun pengguna tetap membutuhkan saku untuk menyimpannya. Jam tangan pintar memberikan akses yang konstan, namun layarnya kecil dan pengalaman penggunaan aplikasinya terbatas. Ide hibrida Motorola bertujuan untuk mengambil kelebihan dari keduanya dengan membiarkan satu perangkat keras menjalankan fungsi ganda tanpa perlu memiliki dua perangkat terpisah.

Meski demikian, tantangan praktisnya masih besar. Dengan teknologi saat ini, perangkat semacam ini kemungkinan akan terasa tebal dan berat saat dikenakan sebagai jam tangan. Layar ponsel pintar multi-panel juga bisa jadi kurang nyaman atau kurang tahan lama dibandingkan ponsel lipat layar tunggal biasa. Paten pada dasarnya menunjukkan apa yang sedang diteliti perusahaan secara internal, bukan rencana produk yang sudah pasti; jadi, belum jelas apakah Motorola benar-benar berencana mewujudkannya menjadi produk nyata atau kapan hal itu mungkin terjadi.

Pengajuan paten ini melanjutkan minat Motorola terhadap layar yang dapat diubah bentuknya (reconfigurable displays), menyusul konsep-konsep sebelumnya yang mengeksplorasi faktor bentuk yang dapat ditekuk dan dililitkan. Meskipun konsep hibrida jam tangan pintar dan ponsel ini masih bersifat spekulatif, hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan sedang memikirkan bagaimana perangkat pribadi dapat berperan dalam kehidupan sehari-hari dengan cara-cara baru. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar