
Sukoharjonews.com (Boyolali) – Kabupaten Boyolal dikenal sebagai sentra perajin tembaga. Para perajin tembaga tersebut ada di Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Selama masa pandemi corona, para perajin tetap bertahan bahkan semakin bergeliat. Seperti menjelang bulan puasa saat ini, meski masih pandemi, pesanan kerajinan tembaga masih mengalir.
Dikutip dari laman resmi Pemkab Boyolali, menjelang bulan Ramadan saat ini, pesanan yang datang berupa pembuatan ornamen masjid, lampu replika Masjif Nabawi, pintu, dan juga kubah. Hal itu disampaikan salah satu perajin tembaga Dukuh Tumang, Sidik Murdoko yang mengaku mendapat pesanan dari Magetan dan Aceh.
Sidik mengaku, selama pandemi corona mengalami penurunan pesanan secara umum, namun menjelang puasa ini pesanan untuk ornamen masjid justru mengalami peningkatan. “Selama pandemi ini pesanan memang masih ada, tapi hanya satu atau dua,” ujarnya, Rabu (16/3/2022).
Selama ini, dalam proses pembuata kerajinan tembaga, Sidik mendapat pasokan bahan baku dari Surabaya. Untuk nilai pesanan sendiri, Sidik mengaku untuk pintu Rp89 juta, replika lampu Rp96 juta, kubah diameter dua meter senilai Rp23 juta, dan kubah diameter 1,5 meter seharga Rp21 juta.
Sementara itu, Kepala Desa Cepogo, Mawardi, mengungkapkan jika Dukuh Tumang sudah lama dikenal sebagai penghasil kerajinan berbahan dasar tembaga dan kuningan yang bervariasi dan tahan lama. Menurutnya, semenjak pandemi corona merebak, para perajin mengalami penurunan pesanan. Namun kini, menjelang Ramadaan sudah ada peningkatan pesanan sekitar 50%.
“Memasuki tahun 2022 sudah mulai bagus ada kenaikan sekitar 50% dari pada saat awal awal pandemi. Perajin tembaha di Dukuh Tumang sudah bergeliat lagi,” ujarnya.
Mawardi menyampaikan, dari 2.000 perajin tembaga terdapat 200 orang mampu membuka showroom dan mampu menghidupi serta memutar roda perekenomian. Sebanyak 50% dari total penduduk Kecamatan Cepogo sekitar 9.000 ini memilih kerajinan tembaga sebagai sumber penghasilan.
Terlebih lagi, kerajinan tembaga Dukuh, Desa Cepogo telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI. Artinya, perlu upaya perlindungan, pengembangan, pembinaan dan pemanfaatan seni kriya logam Tumang. (nano)



Facebook Comments