Sukoharjonews.com – Keutamaan menjaga shalat lima waktu. Di tengah kesibukan yang semakin padat, banyak orang rela meluangkan waktu berjam-jam untuk bekerja, belajar, atau mengejar berbagai urusan dunia. Anehnya, ketika azan berkumandang, tidak sedikit yang justru merasa lima atau sepuluh menit untuk menghadap Allah terasa begitu berat.
Dilansir dari Bincang Syariah, Jumat (25/9/2026), padahal, shalat bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan penopang utama kehidupan seorang mukmin. Ketika shalat mulai ditinggalkan, sesungguhnya bukan hanya kewajiban yang terabaikan, tetapi juga hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya perlahan mulai renggang.
Lalu, mengapa Islam memberikan perhatian yang begitu besar terhadap shalat? Pun, kenapa Islam menganjurkan untuk menjaga keutamaan shalat wajib?
Al-Qur’an menjelaskan bahwa shalat merupakan kewajiban yang telah ditetapkan waktunya bagi setiap orang yang beriman. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ ٱلصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا
Artinya; “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisā’ [4]: 103).
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat bukan ibadah yang boleh dikerjakan sesuka hati atau ditunda tanpa alasan. Allah sendiri menetapkan waktu-waktunya sebagai bentuk endidikan kedisiplinan sekaligus pengingat agar manusia tidak tenggelam dalam urusan dunia.
Lima kali sehari, seorang mukmin dipanggil untuk berhenti sejenak, mengingat Penciptanya, lalu kembali menjalani kehidupan dengan hati yang lebih bersih.
Karena itulah, Allah kembali menegaskan pentingnya menjaga seluruh shalat, terutama dengan penuh kekhusyukan. Firman-Nya:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ٢٣٨
Artinya; “Peliharalah semua salat (fardu) dan salat Wusṭā. Berdirilah karena Allah (dalam salat) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 238).
Perintah ḥāfiẓū (peliharalah) bukan hanya bermakna melaksanakan shalat, tetapi juga menjaga waktunya, syaratnya, rukunnya, kekhusyukannya, serta menjadikannya sebagai prioritas dalam kehidupan. Seorang mukmin tidak sekadar “sempat shalat”, melainkan berusaha agar hidupnya tersusun mengikuti waktu-waktu shalat.
Rasulullah saw. Bahkan menempatkan shalat sebagai ukuran pertama dalam penilaian amal seorang hamba pada Hari Kiamat. Beliau bersabda:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ
Artinya; “Perkara pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Namun jika shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Ath-Ṭabarānī ).
Dalam riwayat lain Rasulullah saw. Bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
Artinya; “Sesungguhnya amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, sungguh ia beruntung dan selamat. Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka ia benar-benar merugi dan celaka.” (HR. At-Tirmidzi).
Dua hadis tersebut menunjukkan bahwa shalat bukan hanya salah satu amal di antara sekian banyak amal saleh. Ia adalah fondasi yang menentukan kualitas amal-amal lainnya. Karena itu, para ulama sering mengibaratkan shalat sebagai tiang sebuah bangunan. Selama tiangnya kokoh, bangunan akan tetap berdiri. Namun apabila tiangnya roboh, bagian-bagian lain pun sulit dipertahankan.
Oleh sebab itu, menjaga shalat tidak semata-mata berarti memenuhi kewajiban agama. Ia merupakan ikhtiar menjaga iman, membangun kedisiplinan, membersihkan hati, sekaligus memperkokoh hubungan seorang hamba dengan Allah Swt.
Tidak mengherankan jika Al-Qur’an berulang kali memerintahkan orang-orang beriman untuk menegakkan shalat, sebab dari sanalah lahir kekuatan spiritual yang membimbing manusia dalam menjalani kehidupan.
Maka, sudah selayaknya shalat ditempatkan sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas. Kesibukan tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkannya, karena justru melalui shalat seorang mukmin memperoleh ketenangan, keberkahan, dan pertolongan Allah.
Barang siapa menjaga shalatnya, ia sedang menjaga agamanya. Sebaliknya, ketika shalat mulai diabaikan, sesungguhnya ia sedang membiarkan fondasi kehidupannya rapuh sedikit demi sedikit. (nano)
Tinggalkan Komentar