Sukoharjonews.com – Pola asuh orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan kesehatan mental anak. Namun, tidak semua pendekatan yang diterapkan membawa dampak positif. Dalam beberapa kasus, pola asuh bisa menjadi “toxic” atau beracun, yang secara emosional, psikologis, atau bahkan fisik, merugikan perkembangan anak. Fenomena ini, dikenal sebagai toxic parenting, telah menjadi perhatian banyak penelitian dalam psikologi modern.
Apa itu toxic parents?
Dikutip dari Journal of Family Psychology, Kamis (28/11/2024), toxic parents adalah orang tua yang secara konsisten menunjukkan perilaku yang merusak hubungan dengan anak-anak mereka, baik melalui kontrol berlebihan, manipulasi emosional, kritik berlebihan, atau pengabaian. Pola perilaku ini tidak hanya memengaruhi hubungan anak dengan orang tua tetapi juga berdampak jangka panjang pada kesehatan mental anak.
Ciri-ciri toxic parents meliputi:
Overkontrol: Orang tua yang terlalu mengatur setiap aspek kehidupan anak tanpa memberi ruang untuk eksplorasi atau pengambilan keputusan.
Manipulasi emosional: Membuat anak merasa bersalah untuk memenuhi kebutuhan orang tua.
Pengabaian atau pelecehan verbal: Menggunakan kata-kata yang merendahkan atau tidak memberi perhatian emosional yang cukup.
Ketergantungan berlebihan: Orang tua yang bergantung secara emosional pada anak, membebani mereka dengan tanggung jawab yang tidak sesuai usia.
Dampak toxic parenting pada anak
Toxic parenting dapat meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Studi dalam Child Development Journal menyebutkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan toxic parenting lebih rentan mengalami:
Rendahnya harga diri: Kritik konstan dapat membuat anak merasa tidak pernah cukup baik.
Kesulitan membangun hubungan sehat: Anak mungkin membawa pola hubungan yang tidak sehat ke dalam kehidupan mereka.
Stres dan kecemasan kronis: Tekanan emosional yang terus-menerus dapat memicu gangguan kesehatan mental.
Depresi dan trauma: Perilaku toxic yang berulang, seperti pelecehan verbal atau emosional, dapat menyebabkan trauma jangka panjang.
Mengapa Pola Asuh Bisa Menjadi Toxic?
Banyak faktor yang dapat menyebabkan orang tua menjadi toxic, termasuk:
Pengalaman masa lalu: Orang tua yang pernah mengalami toxic parenting dari generasi sebelumnya cenderung meneruskan pola tersebut.
Stres dan tekanan hidup: Kesulitan finansial, masalah pernikahan, atau kesehatan mental yang tidak teratasi dapat memicu perilaku toxic.
Kurangnya pemahaman tentang pola asuh sehat: Tidak semua orang tua memiliki pengetahuan tentang cara membangun hubungan yang positif dengan anak.
Cara Mengatasi Dampak Toxic Parenting
Menghadapi dampak dari toxic parents membutuhkan kesadaran dan usaha aktif. Berikut beberapa langkah yang dapat diambil:
Mengenali pola yang merugikan
Langkah pertama adalah menyadari pola toxic tersebut. Studi dalam Journal of Adolescent Health menyarankan pentingnya refleksi diri untuk memahami pengaruh orang tua terhadap kehidupan individu.
Membangun batasan yang sehat
Batasan emosional penting untuk melindungi diri dari perilaku toxic. Berani mengatakan “tidak” dan menjaga jarak jika diperlukan adalah langkah awal.
Mencari dukungan profesional
Terapi atau konseling dapat membantu individu memproses pengalaman buruk dan membangun strategi untuk menghadapi orang tua toxic.
Belajar mengelola emosi
Meditasi, jurnal refleksi, atau aktivitas relaksasi dapat membantu mengelola stres dan emosi negatif.
Menciptakan lingkungan positif
Mengelilingi diri dengan orang-orang yang mendukung dan membangun dapat membantu memulihkan dampak buruk dari toxic parenting.
Toxic parents adalah tantangan besar yang dapat meninggalkan dampak mendalam pada anak. Penting bagi individu yang pernah mengalami pola asuh seperti ini untuk menyadari dampaknya dan mencari cara untuk menyembuhkan diri. Bagi para orang tua, memahami pentingnya pola asuh yang sehat dapat membantu membangun hubungan yang lebih positif dengan anak-anak mereka. (mg-02/nano)
Tinggalkan Komentar