Mengenal Lebih Dalam Tradisi Memasang Pohon Natal

Tradisi memasang pohon natal.(Foto:Halodoc)

Sukoharjonews.com – Salah satu tradisi Natal adalah memasang pohon Natal. Menjelang hari raya umat Nasrani ini, pohon Natal dipasang di rumah, tempat ibadah, dan tempat-tempat umum lainnya seperti mal.

Pohon Natal merupakan fitur ikonik dari musim liburan. Simbol ini dapat ditemukan di kartu ucapan, iklan, kue, kertas kado, dan di rumah jutaan orang di seluruh dunia.

Dilansir dari nationalgeographic, Jum’at, (27/12/2024), perayaan Natal dikaitkan dengan kelahiran Yesus, namun pohon Natal tidak memiliki tempat dalam Kekristenan awal. Pohon Natal bahkan tidak muncul sampai tahun 1605.

Tradisi ini pertama kali muncul di Jerman, dipopulerkan oleh Martin Luther. Ia adalah tokoh yang berpengaruh dalam reformasi Protestan. Luther konon terinspirasi oleh keindahan langit malam berbintang pada malam Natal.

Ia pun kemudian memutuskan untuk meniru keindahan langit di malam hari. Luther menebang pohon cemara dan meletakkan lilin menyala di atasnya sebagai simbol bintang. Tidak butuh waktu lama sampai rumah-rumah di Jerman didekorasi dengan permen, buah-buahan, dan mawar kertas setiap Natal. Kini lilin digantikan dengan lampu dekorasi yang bisa berkelap-kelip.

Meskipun hubungan antara pohon cemara dan Natal relatif baru, pohon ini dianggap penting sekitar 600 SM. Ketertarikan pada pohon cemara dapat ditelusuri kembali ke pemujaan dewa Matahari Mithras sekitar 600 SM. Dewa ini sering digambarkan di dalam atau di samping pohon yang selalu hijau.

Di Eropa Utara, pohon cemara menjadi simbol penting. Tumbuhan dan pepohonan yang tetap hijau sepanjang tahun memiliki tempat khusus bagi orang-orang kuno yang tinggal di ujung utara. Tumbuhan hijau ini dianggap penting di pada hari tergelap di sepanjang tahun, yaitu titik balik matahari musim dingin. Momen ini jatuh pada setiap tanggal 21 Desember di belahan bumi utara.

“Tumbuhan hijau abadi di festival pertengahan musim dingin adalah tradisi sejak zaman kuno. Ini menandakan kemenangan kehidupan dan cahaya atas kematian dan kegelapan,” tutur Carole Cusack, profesor studi agama di Universitas Sydney.

Maka tidak mengherankan jika mereka yang menyembah matahari sebagai dewa memiliki minat khusus pada pepohonan. Mereka percaya bahwa matahari telah menjadi sakit dan lemah selama musim dingin dan perlu dihidupkan kembali. Praktik menggantung dahan hijau di dalam dan di sekitar rumah mereka dipercaya membantu menghidupkan kembali matahari.

Orang-orang zaman dahulu menggantungkan dahan-dahan hijau di atas pintu dan jendela mereka. Di banyak negara diyakini bahwa pohon cemara akan mengusir penyihir, hantu, roh jahat, dan penyakit.(patrisia argi)

Tinggalkan Komentar