Sukoharjonews.com – Nisfu Syaban adalah malam kelima belas dalam bulan Syaban yang sangat dinantikan oleh umat Muslim. Pasalnya, pada momen tersebut, pintu rahmat dan pengampunan dosa dibuka lebar oleh Allah SWT. Nisfu Syaban juga sering dimaknai sebagai malam ketika rahmat Allah SWT turun atas umat manusia. Dengan begitu, umat yang percaya kepada-Nya dapat melakukan introspeksi diri dan meningkatkan keimanan dengan memperbanyak doa.
Malam Nisfu Sya’ban juga dipercaya sebagai saat yang istimewa, di mana Allah SWT membuka 300 pintu rahmat dan ampunan bagi umat manusia. Hal ini ditegaskan dalam hadits Abu Hurairah RA, di mana Rasulullah SAW menerima wahyu dari Jibril.
Dikutip dari Bincang Syariah, pada Minggu (25/2/2024), Ikrimah sebagai mana dijelaskan dalam kitab Tafsir Thabari, Jilid XXII, halaman 10 bahwa malam nisfu Sya’ban merupakan malam yang istimewa di mana Allah SWT menentukan berbagai peristiwa penting untuk setahun ke depan. Di malam ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan doa agar mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah SWT.
قال: في ليلة النصف من شعبان، يبرم فيه أمر السنة، وتنسخ الأحياء من الأموات، ويكتب الحاج فلا يزاد فيهم أحد، ولا ينقص منهم أحد
Artinya; Dia berkata: “Pada malam Nisfu Sya’ban, urusan tahun ditetapkan, kehidupan diubah dari yang hidup kepada yang telah meninggal, dan catatan Haji ditulis tanpa ada yang ditambahkan atau dikurangi darinya.”
Imam Ali bin Thalib, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Fakihi dalam kitab Akhbaru Makkah, bahwa menjelaskan bahwa keutamaan malam pertengahan bulan Sya’ban. Di malam itu, Allah turun ke langit dunia dan memberikan berbagai kemurahan kepada hamba-Nya yang memohon ampunan, rezeki, kesembuhan, dan berbagai kebutuhan lainnya.
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا، فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ؟ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ؟ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ؟ أَلَا كَذَا؟ أَلَا كَذَا؟ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ»
Artinya; Jika tiba malam pertengahan bulan Sya’ban, maka bangkitlah kalian pada malamnya dan berpuasalah di siangnya. Sungguh, Allah turun pada malam itu saat matahari terbenam ke langit dunia, dan Dia berfirman: “Adakah orang yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku ampuni dia? Adakah orang yang memohon rezeki, maka Aku beri dia rezeki? Adakah orang yang sedang diuji, maka Aku sembuhkan dia? Adakah begini? Adakah begitu?” – demikianlah Allah terus berfirman hingga fajar menyingsing.
Abu Manshur dalam kitab Syarah al-Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah wal Jama’ah, Jilid III, halaman 499 bahwa seyogianya untuk memanfaatkan malam nisfu Sya’ban dengan sebaik-baiknya. Kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Kita juga dianjurkan untuk menghindari perbuatan dosa, seperti syirik, bertengkar, dan memutuskan tali persaudaraan.
مَا مِنْ لَيْلَةٍ بَعْدَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفْضَلُ مِنْهَا -يَعْنِي لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ-؛ يَنْزِلُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ أَوْ قَاطَعِ رَحِمٍ
Artinya; “Tidak ada malam yang lebih mulia setelah Lailatul Qadr selain malam ini (maksudnya malam nisfu Sya’ban). Allah Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia dan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya kecuali orang musyrik, orang yang suka bertengkar, dan orang yang memutuskan tali persaudaraan.”(cita septa)
Tinggalkan Komentar