
Sukoharjonews.com (Jakarta) – Transisi energi berkelanjutan melalui pengembangan berbagai produk inovatif rendah karbon yang ramah lingkungan dan efisien menjadi komitmen PT Pertamina (Persero). Hal itu disampaikan oleh Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza.
Menurut Oki, sejumlah inovasi energi hijau yang telah diluncurkan perusahaan, di antaranya Pertamax Green, Sustainable Aviation Fuel (SAF), dan Renewable Diesel (RD).
“Pertamina tidak hanya berfokus pada ketahanan energi nasional, tetapi juga berperan aktif menurunkan emisi dan menciptakan ekosistem energi yang lebih hijau,” ujar Oki, dikutip dari KabarBUMN, Minggu (12/10/2025).
Oki menjelaskan, inovasi pertama yakni Pertamax Green 95 yang kini telah beredar secara nasional. Bahan bakar ini memiliki RON 95 dengan kandungan sulfur di bawah 50 ppm (Euro IV).
Menggunakan bioetanol sebagai bahan campuran, Pertamax Green 95 tidak hanya membantu menekan ketergantungan terhadap impor bensin, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal berbasis energi terbarukan.
“Pertamina mencatat, penggunaan bioetanol dalam negeri dapat mensubstitusi bensin impor sehingga mampu mengurangi defisit neraca perdagangan impor bensin yang saat ini setara USD 12,4 miliar (Rp200 triliun), menurunkan emisi karbon sektor transportasi, serta menggerakkan ekonomi untuk para petani,” terang Oki.
Inovasi berikutnya adalah Sustainable Aviation Fuel (SAF), bahan bakar pesawat ramah lingkungan berbasis minyak jelantah. Pertamina sukses memproduksi SAF yang telah digunakan dalam penerbangan Pelita Air rute Jakarta–Bali pada 20 Agustus 2025.
Pencapaian ini menempatkan Pertamina sebagai satu-satunya produsen SAF co-processing di ASEAN, dengan rantai pasok terintegrasi mulai dari pengumpulan minyak jelantah hingga pemanfaatan oleh maskapai nasional.
Produk SAF tersebut juga telah memperoleh sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) dan terbukti mampu menurunkan emisi karbon penerbangan hingga 84%.
“Teknologi SAF ini sepenuhnya dikembangkan oleh insinyur dalam negeri, membuktikan kapasitas Indonesia sebagai regional champion energi hijau,” tegas Oki.
Di sektor bahan bakar diesel, Pertamina juga terus memimpin inovasi melalui penerapan B40, yakni program biodiesel dengan campuran 40% bahan nabati, yang saat ini merupakan tingkat tertinggi di dunia.
“Program Biodiesel B40 Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia, sehingga Indonesia dapat sepenuhnya mandiri dalam pemenuhan kebutuhan solar domestik,” tambah Oki.
Selain itu, Pertamina turut mengembangkan Renewable Diesel (RD), bahan bakar nabati hasil hidrogenasi minyak sawit. Produk ini memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan biodiesel konvensional, seperti stabilitas oksidasi yang lebih baik, tidak mudah menyerap air, serta efisiensi pembakaran yang lebih optimal.
Dengan berbagai inovasi tersebut, Pertamina menegaskan posisinya sebagai motor penggerak transisi energi nasional, sekaligus membuktikan peran penting BUMN energi dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. (nano)















Facebook Comments