Sukoharjonews.com (Sukoharjo) – Sedikitnya 28 desa di enam kecamatan Sukoharjo masuk dalam wilayah rawan kekeringan. Pemetaan mulai dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo karena saat ini sudah memasuki musim kemarau. Biasanya, kekeringan yang terjadi menyebabkan masyarakat di 28 desa tersebut kesulitan mendapatkan air bersih.
“Pemetaan sudah kami lakukan begitu memasuki musim kemarau. Wilayah rawan kekeringan kami petakan dan selanjutnya dilakukan alternatif solusinya,” jelas Plt Kepala BPBD Sukoharjo Sisyadi, Jumat (18/5/2018).
Dikatakan Sisyadi, jika warga sudah mulai mengalami kesulitan air bersih, warga akan melayangkan permintaan droping air bersih ke Pemkab dengan tembusan BPBD. Saat ini, belum ada satupun desa yang melayangkan surat permintaan pengiriman air bersih.
Sisyadi melanjutkan, dari pemetaan yang dilakukan, ada enam kecamatan ?yang masuk wilayah rawan kekeringan, yakni Kecamatan Bulu, Tawangsari, Nguter, Weru, Bendosari, dan Polokarto. Untuk itu, BPBD intensif memantau wilayah rawan kekeringan. Sehingga, ketika warga mulai mengalami kesulitan air bersih, Pemkab juga siap melakukan pengiriman air bersih ke lokasi.
Untuk Kecamatan Weru, terdiri dari Desa Karangmojo, Alasombo, Karanganyar, Krajan, Karangwuni. Kecamatan Bulu terdiri dari Desa Sanggang, Kamal, Kunden, Puron. Kecamatan Nguter yakni Desa Pengkol, Jangglengan, Serut, dan Juron. Kecamatan Tawangsari di Desa Watubonang, Desa Lorog dan Desa Kedungjambal.
Sedangkan Kecamatan Bendosari meliputi Desa Puhgogor, Paluhombo, Bendosari, Mertan, Mojorejo, dan Cabeyan. Untuk Kecamatan Polokarto yakni Kemasan, Kenokorejo, Tepisari, Bulu, Rejosari, Mranggen. “Guna menanggapi wilayah kekeringan ini, BPBD berencana membuat study pendugaan potensi sumber air dengan metode geolistik. Pengadaan sumur dalam yg membuat koordinasi dengan DPU?,” ujarnya. (erlano putra)
Tinggalkan Komentar