Sukoharjonews.com – Untuk mengatasi miopia akibat rabun jauh dan mendapatkan penglihatan prima, ada beberapa jenis terapi mata minus yang bisa Anda pilih. Masing-masing pilihan terapi tersebut juga tidak lepas dari berbagai risiko, mulai dari yang ringan, sedang, atau berat.
Dikutip dari optikmelawai Kamis, (25/1/2024), umumnya kondisi ini ditangani dengan menggunakan lensa kontak atau kacamata. Meski begitu, berikut beberapa terapi yang bisa dijadikan pilihan bagi Anda yang menderita mata minus atau miopia:
1. Berbantuan Laser Dalam Situ Keratomileusis (LASIK)
LASIK merupakan pilihan bedah paling umum untuk mengatasi rabun jauh atau rabun jauh. Dalam melakukan prosedur ini, dokter bedah mata akan menggunakan laser atau alat untuk membuat lipatan tipis pada lapisan atas kornea. Setelah itu, dokter akan mengikis kornea dengan laser lain dan mengembalikan kelopak mata ke tempat semula. Risiko efek samping yang mungkin terjadi pada terapi mata minus yang satu ini, yaitu penglihatan menjadi buta sementara dan mata menjadi kering. Kondisi ini biasanya hilang setelah beberapa minggu atau bulan. Komplikasi yang mengakibatkan hilangnya penglihatan sangat jarang terjadi. Faktanya, efek samping ringan seperti yang disebutkan di atas, umumnya sangat jarang menjadi masalah jangka panjang. Namun, individu dengan kondisi tertentu tidak disarankan untuk melakukan LASIK. Misalnya saja penderita kelainan autoimun seperti rheumatoid arthritis, mata kering berkepanjangan, peradangan pada kornea, perubahan penglihatan karena hormon atau obat-obatan, dan lemahnya sistem kekebalan tubuh
2. Keratektomi fotorefraksi (PRK)
Prosedur ini menggunakan laser untuk mengubah bentuk kornea. Tujuannya adalah untuk meratakan kelengkungan kornea dan memungkinkan sinar cahaya jatuh lebih dekat ke retina mata Anda. Terapi mata minus ini sangat akurat dalam mengoreksi banyak kasus rabun jauh. Meski begitu, efek samping PRK sedikit, yakni Anda akan merasa sedikit tidak nyaman pada 24-72 jam pertama pasca operasi. Anda mungkin juga lebih sensitif terhadap cahaya untuk sementara waktu. Jika Anda mempunyai masalah mata kering atau kornea yang terlalu tipis untuk LASIK maka PRK menjadi salah satu alternatif pengobatan miopia jika ingin terbebas dari kacamata atau lensa kontak.
3. Keratomileusis epitel laser (LASEK)
Prosedur LASEK sedikit menggabungkan prosedur LASIK dan PRK. Namun terapi mata minus ini menggunakan alkohol untuk mengendurkan permukaan kornea sehingga lipatan jaringan dapat terangkat keluar. Sedangkan laser digunakan untuk mengubah bentuk kornea. Dalam prosedur LASEK, berbagai teknik digunakan untuk mempertahankan lapisan sel permukaan kornea yang sangat tipis, yang digunakan untuk memulihkan kornea setelah operasi. Hal inilah yang menjadikan prosedur LASEK memiliki beberapa keunggulan dibandingkan terapi miopia. Hal lain, seperti efek samping mata kering cenderung lebih jarang terjadi dibandingkan LASIK, dan komplikasi terkait pembuatan dan pemasangan kembali penutup kornea dapat dihindari.
4. Ortokeratologi (Orto-K)
Prosedur ortokeratologi non-bedah ini merupakan program untuk membentuk kembali kelengkungan kornea. Untuk melakukannya, Anda perlu memakai lensa kontak khusus (RGP atau GP) yang biasa disebut lensa Ortho-K di malam hari, yang tujuannya untuk membentuk kembali kornea Anda saat tidur. Saat Anda melepas lensa di pagi hari, kornea akan mempertahankan bentuk barunya untuk sementara. sehingga Anda dapat melihat dengan jelas di siang hari tanpa kacamata. Cara ini terbukti efektif dalam mengoreksi rabun jauh ringan hingga sedang untuk sementara. Terapi ini juga dapat menjadi alternatif pembedahan bagi pasien yang masih terlalu muda atau tidak dianjurkan untuk melakukan LASIK.
Itulah beberapa jenis terapi mata minus yang bisa Anda pilih untuk mengatasi rabun jauh. Setiap prosedur memiliki efek sampingnya sendiri. Oleh karena itu, cobalah konsultasikan pilihan Anda pada dokter spesialis mata. Jangan malu untuk menanyakan sedetail mungkin untuk memastikan keamanan prosedur.(Fadila-Mg1/cita)
Tinggalkan Komentar