
Sukoharjonews.com (Tangerang) – Ancaman bom yang menimpa Bandara Jeddah dan Soekarno-Hatta menyisakan kisah tersendiri bagi jemaah haji. Seperti yang dialami jemaah asal Depok, Tahani yang tergabung dalam Kloter JKS-12. Pasalnya, penerbangan haji yang seharusnya mendarat di Jakarta terpaksa harus dialihkan ke Medan, Sumatera Utara.
Persinggahan dadakan tersebut terjadi setelah adanya sebuah insiden yang membuat banyak orang sempat cemas, yakni ancaman bom yang ditujukan ke Bandara Jeddah dan Soekarno-Hatta.
“Alhamdulillah kami semua baik-baik saja. Bahkan bisa dibilang berakhir bahagia. Kami pulang lewat Medan dan bisa bawa oleh-oleh bolu Meranti untuk keluarga,” ucap Tahani, saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta, diktip dari laman kemenag, Jumat (20/6/2025).
Perjalanan pulang Tahani dari tanah suci menggunakan maskapai Saudia Airlines dengan nomor penerbangan SV 5275 seharusnya langsung dari Jeddah menuju Jakarta. Namun pada Selasa pagi, pihak maskapai menerima email berisi ancaman bom. Situasi segera ditangani sesuai prosedur. Pesawat yang membawa 442 jemaah JKS-12 dialihkan ke Bandara Kualanamu, Medan, untuk evakuasi dan pemeriksaan menyeluruh.
“Ancaman ini berasal dari pihak eksternal, bukan dari jemaah. Tapi protokol keamanan tetap harus dijalankan. Semua barang dan pesawat kami periksa ulang,” jelas Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Hilman Latief.
Tak ditemukan benda mencurigakan. Namun demi kehati-hatian, jemaah diinapkan di tiga hotel sekitar bandara, didampingi petugas hingga waktu penerbangan ke Jakarta esok harinya.
Tahani memuji kesiapan dan kolaborasi antarlembaga dalam penanganan situasi tersebut. “Kami merasa sangat diperhatikan. Dari kesehatan, keamanan, sampai logistik selama di Medan. Semua berjalan rapi dan manusiawi,” ujar Tahani yang berangkat haji bersama dengan sang suami Fahrurozi.
Meski harus menunda pulang satu hari, para jemaah JKS-12 justru merasa mendapat tambahan cerita yang tak terlupakan. “Banyak dari kami belum pernah ke Medan. Jadi ini seperti bonus setelah haji,” tutur Fahrurozi.
Dan tentu saja, bolu Meranti menjadi buah tangan wajib yang menyertai kepulangan mereka. Meski diawali ujian, perjalanan ibadah ini ditutup dengan rasa syukur yang dalam. “Kami sudah diberikan pelayanan yang luar biasa dalam perjalanan haji ini. Saya mengucapkan terima kasih perjalanan haji ini berakhir bahagia,” ucap Tahani.
Bagi mereka, oleh-oleh terbaik bukan cuma yang bisa dimakan, tapi juga cerita yang bisa diwariskan—tentang iman, kesabaran, dan kebahagiaan yang datang di luar rencana. (nano)



Facebook Comments