Sukoharjonews – Desa Jatisobo terletak di Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo. Terkait nama Jatisobo, selama ini banyak sekali cerita yang menyebutkan jika nama Desa Jatisobo bermula dari kisah Pohon Jati yang tumbuh begitu besar ukurannya dan menjulang tinggi dengan dahan dan ranting yang besar.
Pohon jati yang sangat besar tersebut ketika terkena angin, daunnya beterbangan sampai jauh. Bahkan, disebutkan pula bayangan pohon jati tesebut dapat menjangkau lokasi wilayah Keraton Kasunanan Surakarta sehingga tempat pohon jati tersebut tumbuh kemudian dinami Desa Jatisobo oleh Raja Kasunanan Surakarta saat itu.
Terkait cerita turun temurun tersebut, salah satu putra asli Desa Jatisobo, Danang Tri M mengaku pernah melakukan penelusuran ke Direktorat Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah. Saat itu, dirinya menemukan sebuah dokumen tentang kumpulan legenda dari beberawa wilayah seperti Wonogiri, Grobogan, Jatisobo, Sukoharjo, dan Lain sebagainya.
“Dari bukti tersebut saya mengambil kisah Jatisobo. Dokumen ini dibuat tahun 1995 dimana narasumber yang menceritakan kisah Desa Jatisobo pada tahun itu ialah Bapak Mohammad Ilham yang merupakan kakeknya sendiri,” ujar Danang, Selasa (26/12/2023).
Dalam dokumen tersebut diterangkan jika terdapat tokoh agama atau Alim Ulama yang bertempat di daerah Gumpang, Kartasura. Tokoh ini bernama Moh Imam yang dikenal sebagai pemuka agama Islam yang terkenal pada saat itu. Nama Moh Imam kemudian Raja Kartasura yang kemudian tertarik dengan kecerdasannya dalam menyiarkan agama Islam dan mengutus seorang prajurit untuk mencari tokoh Alim Ulama yang berada di Gumpang tersebut.
“Nah, akhirnya raja memberikan mandapt kepada Alim Ulama Moh Imam untuk berdakwah menyebarkan agama Islam ke daerah Solo Raya. Hingga suatu saat Alim Ulama ini datang di dusun sini yang dahulunya hutan belantara yang dahulu disebut sebagai “wingit gawat”,” terangnya.
Disebut “wingit gawat” karena diceritakan banyaknya pemuka agama dan masyarakat sekitar ketika masuk ke hutan belantara tidak bisa keluar dan kembali ke asalnya. Saat itu, hutan disebutkan terdapat pohon-pohon besar yang dihuni oleh makhluk astral. Namun, alim ulama Moh Imam dapat menaklukkan misteri makhluk astral tersebut. Diceritakan pohon besar yang ada kemudian ditebang untuk membangun masjid yang di namai Masjid Agung.
“Masjid Agung saat ini dalam proses status Cagar Budaya. Beberapa bulan yang lalu Tim Purbakala Sukoharjo menyatakan saat ini sedang proses pembuatan SK sebagai cagar budaya,” terang Danang.
Danang juga bercerita, selain dokumen dari Direktorat Sejarah dan Purbakala JawaTengah, dirinya juga mendapat dokumen dari seorang dosen yang menempuh progam S2 di Univet Bantara Sukuharjo bernama Adi.
Menurutnya, dosen tersebut menemukan dokumen atau arsip semasa Paku Buwana (PB) IV, Kasunanan Surakarta dimana dokumen dengan tulisan Jawa yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
“Jadi, bermula dari Legenda atas tingginya pohon Jati sehingga bayangannya terlihat di wilayah Keraton Kasunanan Surakarta. Cerita ini apakah logis dan dapat diterima logika? Jika ada sumber lain bercerita bahwa Jatisobo berasal dari kata Sunan Gunung Jati dan Kyai Wirosebo, sumber ini ada,” ujar Danang.
Ketika dokumen diterjemahkan dapat disimpulkan bahwa di Desa Jatisobo ini terdapat sebuah Petilasan, Canden, serta peninggalan lainnya. Logikanya, Sunan Gunung Jati ini riwayatnya ada, Kiai Wirosebo ini memiliki peninggalan kereta yang saat ini berada di garasi Keraton Kasunanan Surakarta.
“Saya juga pernah berdiskusi dengan Bapak Adi yang menuturkan bahwa Jatisobo itu berasal dari 2 kata potongan nama Sunan Gunung Jati dan Kyai Wirosebo. Pertemuan dua tokoh ini guna untuk menyebarkan dakwah Islam sehingga mengambil padanan 2 nama tokoh ini yakni Jatisebo yang kemudian menjadi Jatisobo,” pungkasnya. (khofifah-mg4/nano)
Tinggalkan Komentar