
Sukoharjonews.com – Bulan Rajab merupakan momentum yang tepat bagi kita untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ini adalah waktu yang baik untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan memperkuat hubungan kita dengan-Nya.
Dikutip dari Nu Online, pada Kamis (23/1/2025), pada bulan Rajab, kita diperintahkan untuk memperbanyak amal saleh, bahkan salah satu ulama terkemuka pada zamannya, Syekh Dzunnun Al-Mishri, mengatakan sebagaimana yang dinukil oleh Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dalam kitabnya Al-Ghunyah jilid 1 halaman 326 :
وَقَالَ ذُو النُّوْنِ المِصْرِي رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ: رَجَبُ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَعْبَانُ شَهْرُ السَّقْيِ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ الحَصَادِ، وَكُلٌّ يَحْصُدُ مَا زَرَعَ، وَيُجْزَي مَا صَنَعَ، وَمَنْ ضَيَّعَ الزِّرَاعَةَ نَدِمَ يَوْمَ حَصَادِهِ، وَأَخْلَفَ ظَنُّهُ مَعَ سُوْءِ مَعَادِهِ
Artinya, “Dan berkata Syekh Dzunnun Al-Mishri radhiyallahu ‘anhu, ‘Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk menyiram, dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen. Setiap orang akan memanen apa yang telah dia tanam dan akan dibalas sesuai dengan apa yang telah dia perbuat. Barangsiapa yang menyia-nyiakan waktu menanam, dia akan menyesal pada hari pemanenannya, dan harapannya akan sia-sia dengan akibat yang buruk’.”
Dari keterangan tersebut, kita dapat mengetahui bahwa Rajab merupakan bulan yang menjadi tolak ukur kesalehan seorang hamba.
Bulan Rajab dipandang oleh para ulama sebagai bulan untuk menanam amal kebaikan. Oleh karena itu, jika seseorang tidak mau menanam amal kebaikan, maka jangan harap ia dapat memanen buah berupa rahmat Allah dan ganjaran-Nya.
Dalam kitab yang sama, Al-Ghunyah jilid 1 halaman 326 karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, beliau mengatakan:
رَجَبُ شَهْرُ التَّوْبَةِ، شَعْبَانُ شَهْرُ المَحَبَّةِ، رَمَضَانُ شَهْرُ القُرْبَةِ
Artinya, “Rajab adalah bulan tobat, Sya’ban adalah bulan kasih sayang, dan Ramadhan adalah bulan untuk mendekatkan diri kepada Allah.”
Maknanya adalah bahwa Rajab merupakan bulan tobat, yaitu bulan untuk membersihkan diri dari segala kotoran maksiat guna mempersiapkan diri menyambut cinta di bulan Sya’ban, yang merupakan bulan kasih sayang. Hingga nanti, di bulan Ramadhan, kita bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan bekal kepantasan sebagai seorang hamba.
Selain tobat, di bulan Rajab kita juga sangat dianjurkan untuk berpuasa. Bahkan, dikatakan bahwa puasa sunnah satu hari di bulan Rajab setara dengan pahala puasa sunnah tiga puluh hari. Maka tidak heran jika ulama kita, KH Maimoen Zubair, pernah mengatakan, “Seseorang terlihat saleh atau tidaknya bisa dilihat dari bagaimana ia beramal di bulan Rajab.” Puasa itu memiliki keutamaan yang luar biasa dibandingkan dengan amal ibadah lainnya, karena dalam puasa terkandung hikmah yang agung yang dapat mengokohkan kesalehan seorang mukmin. Hal ini juga dijelaskan dalam kitab I’anatuth Thalibin jilid 2 halaman 299 :
وَالصَّوْمُ مِنْ أَبْلَغِ الأَشْيَاءِ فِي رِيَاضَةِ النَّفْسِ، وَكَسْرِ الشَّهْوَةِ، وَاسْتَنَارَةِ القَلْبِ، وَتَأْدِيْبِ الجَوَارِحِ وَتَقْوِيْمِهَا وَتَنْشِيْطِهَا لِلْعِبَادَةِ. وَفِيْهِ الثَّوَابُ العَظِيْمُ، وَالجَزَاءُ الكَرِيْمُ الَّذِي لَا نِهَايَةَ لَهُ
Artinya, “Puasa adalah salah satu cara yang paling efektif dalam melatih jiwa, mematahkan nafsu, menerangi hati, mendidik anggota tubuh, serta memperbaiki dan menguatkannya untuk beribadah. Dalam puasa terdapat pahala yang sangat besar dan balasan yang mulia, yang tidak ada akhirnya.”
Semoga dengan mengisi bulan Rajab dan bulan-bulan lainnya dengan memperbanyak tobat dan puasa, kita dapat menguatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, sehingga kita layak mendapatkan rahmat-Nya. Aamiin, ya rabbal alamin.(cita septa)



Facebook Comments