Sukoharjonews.com (Sukoharjo) – Kabupaten Sukoharjo dikenal sebagai daerah sentra kerajinan tatah sungging. Kerajinan tatah sungging merupakan kerajinan berbahan baku kulit untuk wayang, hiasan dinding, kipas, kap lampu, dan benda-benda kerajinan lainnya. Wilayan yang dikenal dengan kerajinan ini adalah Kelurahan Sonorejo, Kecamatan Sukoharjo.
Sesuai namanya, seni tatah sungging merupakan dua kegiatan yang terdiri dari menatah (memahat) dan menyungging (mewarnai). Para perajin tatah sungging di Sonorejo tergabung dalam sebuah Kelompok Usaha Kerajinan Kulit dan Tatah Sungging (Kopkralit) Pandawa.
Produk utama yang dihasilkan berupa wayang kulit, kipas tangan, hiasan dinding, miniatur wayang, kaligrafi, pembatas buku, kap lampu, tempat tisu, tempat lilin, gantungan kunci, dan barang-barang lain sebagai suvenir.
Salah satu perajin tatah sungging Sonorejo, Rujiatin, 59 menyampaikan, saat ini muncul inovasi baru untuk membuat hiasan dinding dari kulit yang dipadu dengan pigura, antara lain wayang, kaligrafi, dan gambar-gambar lukisan hewan, gambar pahlawan China, perlengkapan tari atau perlengkapan pementasan wayang orang.
Menurutnya, untuk kerajinan tatah sungging terutama wayang kulit memerlukan teknis tersendiri, yakni harus memadukan seni dan sejarah wayang kulit. Keahlian ini tidak mudah dikerjakan atau ditiru sehingga diperlukan kemauan belajar yang tinggi dan keuletan serta rasa kecintaan yang tinggi terhadap cerita pewayangan.
“Saat ini Komunitas Kopkralit juga berpartisipasi dalam Sukoharjo Hybrid Expo 2022 dengan menampilkan berbagai kerajinan tatah sungging yang sudah diekspor hingga ke mancanegara seperti China, Malaysia, dan Timur Tengah,” ujarnya.
Rujiatin menyampaikan, meski produk telah telah merambah mancanegara, nasib keberlangsungan kerajinan tatah sungging di Sonorejo diperkirakan akan gulung tikar atau mengalami kepunahan. Hal itu dikarenakan pekerjaan tatah sungging kini kurang diminati generasi penerus. Akibatnya, dari waktu ke waktu jumlah perajin tatah sungging khususnya wayang kulit terus berkurang atau beralih profesi. Hal itu menjadi kekhawatiran generasi tua perajin tatah sungging di Kelurahan Sonorejo.
“Saat ini kebanyakan perajin tatah sungging di Sonorejo sudah tua. Hal itu terjadi karena regenerasi kerajinan wayang makin minim. Untuk itu perlu dipikirkan bersama agar kelangsungan kerajinan wayang kulit tetap terjaga,” ujarnya.
Dia juga mengatakan, saat ini usia perajin rata-rata memasuki senja atau banyak yang sudah tua. Dirinya dan perajin lain khawatir tidak ada generasi muda yang meneruskan menggeluti tatah sungging. Untuk itu, dia berharap pemerintah ikut memperhatikan hal tersebut agar kelangsungan tatah sungging wayang kulit tetap terjaga.
Rujiatin menyadari untuk mengatasi masalah regenerasi perajin tatah sungging di Sonorejo tidaklah mudah. Diperlukan upaya baru yang lebih terstruktur dan komprehensif untuk mengatasi macetnya proses regenerasi. (sapta nugraha/mg)
Tinggalkan Komentar