Sukoharjonews.com (Grogol) – Yayasan Kepedulian untuk Anak Surakarta (Yayasan Kakak) bekerja sama dengan “Search for Common Ground Indonesia” (SFCG) mengadakan diskusi melibatkan media massa dan tokoh agama. Acara digelar di Hotel Tosan Solo Baru, Grogol, Rabu (9/11/2022). Diskusi ini diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman peran pemimpin agama dan media dalam mendorong kerukunan antar umat beragama.
Ketua Yayasan Kakak, Shoim Sahriyati, mengungkapkan bahwa dengan semakin berkembangnya teknologi dan media, masyarakat menjadi lebih mudah untuk mendapatkan segala informasi. Untuk itu, ia berharap agar masyarakat dan media dapat saling menghargai dan menghormati khususnya dalam hal keagamaan dan keyakinan.
“Melalui acara ini, kita bisa tahu pandangan dari masyarakat, dan media. Apa yang diberitakan oleh media, apa yang dibaca oleh masyarakat itu juga sangat mempengaruhi bagaimana kita bisa saling menghormati dan menghargai khususnya dalam isu beragama” ungkapnya.
Dalam acara tersebut juga disinggung tentang kurangnya toleransi antar agama di zaman ini. Meskipun di Indonesia menanamkan Bhineka Tunggal Ika, namun nyatanya di lapangan masyarakat masih kurang memiliki toleransi terhadap umat agama lain.
Perwakilan dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sukoharjo, Fajar, mengatakan pada zaman sekarang meskipun semua sudah tau bahwa Indonesia mempunyai kebhinekaan, tetapi nyatanya praktiknya masih kurang. Ia menegaskan di dalam lingkungannya masih sering ia jumpai masyarakat yang tidak menghormati dan menghargai keyakinan orang lain.
“Dilingkungan, saya mendapat kecaman yang luar biasa dari masyarakat lingkungan saya. Bahkan sampai orang tua saya juga terkena dampaknya. Orang tua saya dicemooh oleh masyarakat hanya karena saya pindah keyakinan,” ujarnya.
Perwakilan media, Ayu Prawitasari, menganggap bahwa media memandang konflik dalam beragama menggunakan dua cara. Kompetitif atau bersaing. Secara kolaboratif, yang dipandang dari segala sisi seperti mencari penyebabnya dan mencari solusinya.
“Kalau dari pandangan media, saya memandangnya dari kompetitif atau kolaboratif. Jadi kalau kompetitif kita bersaing. Sedangkan jika kolaboratif, kita mencari apa penyebabnya, bagaimana solusinya” ucap Ayu.
Dalam diskusi ini diharapkan masyarakat dapat menekan dan mengantisipasi berbagai hal seperti ujaran kebencian, diskriminasi, bahkan persekusi terhadap kelompok tertentu. Untuk media sendiri, diharapkan mereka dapat memberi informasi sesuai fakta yang ada, dan isi berita tidak menimbulkan polemik. (cita septa/mg)
Tinggalkan Komentar