Jaga Ketahanan Energi Nasional di Tengah Ketidakpastian Global, Pertamina Percepat Energi Terbarukan

Pertamina percepat pengembangan energi terbarukan untuk ketahanan energi nasional, dukung transisi energi, serta capai target Net Zero Emission 2060. (Foto: Dok Pertamina)

Sukoharjonews.com (Jakarta) – Sebagai bagian dari strategi menuju ketahanan energi nasional yang berkelanjutan, PT Pertamina (Persero) memperkuat langkah pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Langkah tersebut menjadi solusi jangka panjang di tengah dinamika geopolitik global yang memicu ketidakstabilan pasokan serta fluktuasi harga energi dunia.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyampaikan bahwa pengembangan energi baru terbarukan merupakan strategi penting untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) pemerintah menuju masa depan berkelanjutan.

“Dinamika geopolitik global mempengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi fossil. Oleh karena itu, Pertamina terus memperkuat bauran energi melalui pengembangan energi baru terbarukan.”

“Upaya ini tidak hanya meningkatkan independensi energi nasional, tetapi juga menjadi bagian untuk energi yang lebih bersih bagi lingkungan,” ujar Baron, dikutip dari laman KabarBUMN, Minggu (5/4/2026).

Sampai akhir 2025, Pertamina telah memproduksi energi bersih sebesar 8.743 Giga watt per jam (GWh) dari berbagai sumber energi rendah karbon. Energi tersebut, termasuk panas bumi (geothermal), dimanfaatkan untuk berbagai pembangkit dengan total kapasitas terpasang mencapai 3.271 Mega Watt (MW).

Kontribusi kapasitas tersebut berasal dari beberapa sumber, antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) sebesar 2,4 MW, Gas to Power dari Jawa Satu Power sebesar 1.760 MW, Gas to Power dari Pertamina Power Indonesia sebesar 12,9 MW, solar dari Pertamina Power Indonesia sebesar 55,3 MW, serta energi panas bumi sebesar 772,5 MW.

Selain pengembangan internal, subholding Pertamina New & Renewable Energy juga memiliki saham pada perusahaan Filipina Citicore Renewable Energy Corporation (CREC) yang menghasilkan pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 669,3 MW.

Pengembangan energi bersih ini tidak hanya difokuskan pada sektor komersial, tetapi juga diarahkan untuk mendorong pemanfaatannya di tingkat masyarakat. Saat ini, Pertamina telah membangun 252 Desa Energi Berdikari (DEB) di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari pengembangan energi transisi. Program tersebut mencakup pemanfaatan panel surya, mikrohidro, biogas, dan sumber energi terbarukan lainnya.

“Kami berharap dengan pemanfaatan energi transisi, masyarakat desa tak hanya memiliki ketahanan energi, tapi juga penggerak aktivitas ekonomi,” ungkap Baron.

Dari total tersebut, sebanyak 156 lokasi DEB terbukti mampu menghasilkan 15,8 ribu ton bahan pangan beras dan 890,4 ton bahan pangan non beras guna mendukung ketahanan pangan nasional. Ke depan, Pertamina menegaskan komitmennya untuk memperluas inisiatif berbasis energi bersih sekaligus pemberdayaan masyarakat.

Harapannya, Indonesia tidak hanya mampu menghadapi gejolak ekonomi dan perubahan iklim, tetapi juga berkembang sebagai pusat kemandirian energi serta ekonomi baru.

Pemanfaatan energi baru terbarukan tersebut juga selaras dengan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) pemerintah di masa mendatang. Pertamina terus mendorong transisi energi, tidak hanya sebagai penyedia energi tetapi juga sebagai langkah menurunkan emisi karbon di Indonesia. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar