Ini Penjelasan tentang Rezeki Sudah Dijamin

Ilustrasi. (Freepik)

Sukoharjonews.com – Ketakutan manusia terhadap masa depan hampir selalu bermuara pada satu hal: rezeki. Menariknya, kegelisahan ini tidak mengenal batas kelas sosial. Ia menghampiri mereka yang hidup dalam kekurangan, sekaligus mereka yang bergelimang harta.

Dilansir dari Bincang Syariah, Sabtu (3/10/2026), di satu sisi, ada orang yang setiap hari dihantui pertanyaan sederhana: Apakah besok dapur masih bisa mengepul? Di sisi lain, ada mereka yang memiliki kekayaan berlimpah, tetapi hidup dalam kecemasan yang tak pernah selesai karena takut hartanya berkurang, usahanya merugi, atau suatu saat jatuh miskin.

Sekilas kedua kelompok ini tampak bertolak belakang. Namun, jika ditelisik lebih dalam, keduanya mengidap penyakit batin yang sama. Mereka memandang rezeki semata-mata sebagai hasil perhitungan matematis. Mereka lupa bahwa angka-angka di atas kertas sering kali kehilangan kuasanya ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan.

Dalam Islam, pembahasan tentang rezeki selalu bermuara pada takdir yang telah ditetapkan bahkan sebelum manusia lahir. Rasulullah SAW bersabda:

إنَّ أحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ في بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذلكَ ثُمَّ يُرْسَلُ المَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بأرْبَعِ كَلِماتٍ: بِكَتْب رِزْقِهِ وَأجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٍّ أَوْ سَعِيدٍ

Artinya; “Sesungguhnya setiap dari kalian dikumpulkan penciptaannya di rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Setelah itu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh dan diperintahkan menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia termasuk orang yang bahagia atau celaka.”

Hadis ini menunjukkan bahwa ruh, rezeki, dan ajal ditetapkan dalam satu paket takdir. Selama ruh masih berada di dalam jasad, rezeki tidak akan pernah berhenti mengalir. Seseorang yang ditakdirkan hidup hingga usia enam puluh tahun, niscaya telah ditetapkan pula kadar rezeki yang mencukupi kehidupannya hingga batas usia tersebut. Kematianlah yang menjadi penanda berakhirnya jatah rezeki manusia di dunia.

Karena itu, selama napas masih berembus, kecemasan berlebihan terhadap rezeki sejatinya lahir dari keyakinan yang belum sempurna kepada Allah. Rasulullah SAW kembali menegaskan:

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

Artinya;“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah cara yang baik dalam mencari rezeki. Tidaklah seseorang meninggal hingga ia menyempurnakan seluruh rezekinya, sekalipun rezeki itu datang terlambat. Maka bertakwalah kepada Allah, carilah rezeki yang halal, dan tinggalkan yang haram.”

Hadis ini bukan mengajarkan manusia untuk berpangku tangan, melainkan menenangkan hati agar tidak menghalalkan segala cara karena takut tidak kebagian rezeki.

Anomali Kehidupan: Logika Beasiswa dan Rahasia Kecukupan

Kehidupan sering menghadirkan kenyataan yang menertawakan logika matematika manusia. Salah satu contohnya adalah seleksi beasiswa.

Ketika pengumuman keluar dan nama kita tidak tercantum, dunia seolah runtuh. Sebagian merasa kecewa, sebagian lagi mulai mencurigai proses seleksi. Padahal, sebelum kabar beasiswa itu ada, kita sudah berniat membayar biaya pendidikan secara mandiri dan merasa sanggup menjalaninya.

Aneh rasanya. Sesuatu yang sebelumnya bukan kebutuhan mendesak, tiba-tiba berubah menjadi sumber kecemasan hanya karena gagal mendapatkannya.

Logika kita berkata bahwa tanpa beasiswa, pendidikan akan menjadi sangat berat, bahkan mustahil diselesaikan. Namun kenyataan sering berbicara sebaliknya. Bertahun-tahun kemudian, mereka yang memperoleh beasiswa maupun yang gagal mendapatkannya sama-sama berdiri di panggung wisuda.

Jalannya memang berbeda. Ada yang membayar kuliah melalui dana beasiswa, ada pula yang Allah cukupkan melalui rezeki orang tua, pekerjaan sampingan, bantuan keluarga, atau jalan-jalan lain yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Bahkan tidak jarang muncul ironi yang menarik. Ada penerima beasiswa yang justru harus meminjam uang kepada temannya yang kuliah dengan biaya mandiri. Tentu ini bukan untuk menggeneralisasi, melainkan sekadar ilustrasi bahwa besarnya fasilitas tidak selalu identik dengan rasa cukup.

Dari sini kita belajar satu pelajaran penting. Rezeki tidak selalu datang melalui pintu yang kita inginkan. Ketika satu pintu tertutup, Allah sering kali membuka pintu lain yang tidak pernah kita perhitungkan. Yang berubah hanyalah jalur distribusinya, bukan kadar kecukupannya.

Kaya dan Miskin Berakhir pada Titik yang Sama

Perhitungan manusia kembali runtuh ketika kita membahas hubungan antara kekayaan dan kebutuhan.

Banyak orang mengira semakin besar penghasilan, semakin besar pula sisa uang yang dimiliki. Padahal, tidak selalu demikian. Sering kali semakin besar pendapatan seseorang, semakin besar pula biaya hidup yang harus ia tanggung.

Bayangkan dua orang

Orang pertama memiliki penghasilan Rp10.000.000 setiap bulan. Namun ia mengidap penyakit kronis sehingga harus mengeluarkan biaya pengobatan sebesar Rp7.000.000.

Sementara itu, tetangganya hanya berpenghasilan Rp3.000.000 setiap bulan. Ia hidup sederhana, tetapi Allah menganugerahinya kesehatan yang prima sehingga tidak mengeluarkan biaya pengobatan sedikit pun.

Pada akhirnya, keduanya memiliki ruang ekonomi yang hampir sama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Ilustrasi sederhana ini menunjukkan bahwa kecukupan tidak ditentukan oleh besarnya pemasukan semata, melainkan oleh keseimbangan antara rezeki dan kebutuhan.

Di sinilah kesombongan orang kaya dipatahkan, sekaligus kesedihan orang miskin dihibur. Sebab yang menentukan kualitas hidup bukan hanya banyaknya harta, tetapi juga sedikit atau banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi.

Mana yang Datang Lebih Dahulu: Rezeki atau Kebutuhan?

Dari sini muncul pertanyaan menarik. Apakah Allah terlebih dahulu menciptakan kebutuhan, lalu menurunkan rezeki untuk memenuhinya? Ataukah Allah lebih dahulu melimpahkan rezeki, kemudian menghadirkan kebutuhan yang sesuai dengannya?

Barangkali keduanya sama-sama terjadi. Ada saat ketika seseorang memiliki kebutuhan, tetapi belum memiliki biaya untuk memenuhinya. Namun tidak lama kemudian, Allah membukakan jalan yang sama sekali tidak disangka-sangka. Ketika seorang anak lahir, ketika diterima di perguruan tinggi, atau ketika mendapatkan amanah baru, sering kali pada saat yang sama Allah membuka keran rezeki yang sebelumnya tidak pernah ada.

Sebaliknya, ada pula keadaan ketika Allah lebih dahulu melapangkan rezeki seseorang. Setelah itu barulah hadir kebutuhan-kebutuhan baru yang memerlukan biaya besar. Rezeki datang lebih dahulu, kemudian manusia diarahkan untuk mengalokasikannya sesuai kehendak-Nya.

Karena itu, kekayaan dan kebutuhan adalah dua variabel yang selalu bergerak bersama. Jarang sekali seseorang memiliki harta yang sangat banyak sekaligus kebutuhan yang sangat sedikit. Sebaliknya, jarang pula orang hidup dalam kekurangan tetapi dibebani kebutuhan yang tidak pernah diberi jalan keluarnya.

Allah menyeimbangkan keduanya dengan cara yang sering kali tidak mampu dipahami oleh logika manusia.

Pada akhirnya, semua manusia berjalan menuju satu titik yang sama: kecukupan yang telah Allah tetapkan bagi masing-masing.

Karena itu, mencemaskan hari esok—baik karena penghasilan yang terasa sempit maupun karena takut kehilangan kekayaan—sesungguhnya lahir dari kegagalan memercayai salah satu nama Allah yang paling agung, Al-Razzāq, Sang Maha Pemberi Rezeki.

Selama manusia masih diberi napas, selama itu pula rezekinya masih berjalan. Tugas kita bukan memastikan dari mana rezeki akan datang, melainkan menjemputnya dengan cara yang halal, ikhtiar yang terbaik, dan hati yang penuh tawakal.

Sebab pada akhirnya, bukan matematika manusia yang menentukan kecukupan, melainkan matematika Tuhan yang bekerja dengan cara-cara yang sering kali tidak pernah kita duga. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar