Tak Berkategori  

IDI Atambua Aktif Sosialisasikan Penyakit Reproduksi dan Pemeriksaan Dini Bagi Perempuan

banner 468x60
IIlustrasi. (Foto: Dok IDI)

Sukoharjonews.com – Kesehatan reproduksi adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan setiap perempuan, namun seringkali kurang mendapatkan perhatian yang memadai. Di Indonesia, berbagai penyakit reproduksi masih menjadi tantangan besar, baik karena kurangnya kesadaran maupun stigma yang melekat di masyarakat.

Hal itulah yang membuat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Atambua aktif memberikan sosialsiasi tentang penyakit-penyakit seperti infeksi saluran reproduksi, dismenore, dan endometriosis tidak hanya mempengaruhi kualitas hidup perempuan, akan tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah serius seperti infertilitas.

IDI Atambua memahami dan mengenali gejala-gejala awal dari penyakit-penyakit ini sangatlah penting agar perempuan dapat mengambil langkah-langkah pencegahan dan mendapatkan penanganan medis yang tepat waktu.

Dilansir dari IDI Atambua dari https://idiatambua.org, dengan gencar sosialisasi, IDI Atambua berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya para perempuan, tentang pentingnya kesehatan reproduksi. Menurutnya, beberapa penyakit reproduksi yang paling umum di Indonesia adalah infeksi saluran reproduksi, dismenore, dan endometriosis. Penyakit-penyakit ini sering kali menyebabkan infertilitas, yang merupakan masalah serius bagi banyak perempuan.

Endometriosis, misalnya, merupakan kondisi di mana jaringan yang biasanya melapisi bagian dalam rahim tumbuh di luar rahim. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri hebat, gangguan menstruasi, dan masalah kesuburan. Dr. Ridwan juga menyoroti varian endometriosis, seperti endometrioma, yang sering kali tidak disadari oleh para penderitanya.

Pentingnya Pemeriksaan Dini dan Rutin untuk Kesehatan Reproduksi
IDI Atambua menekankan pentingnya pemeriksaan dini dan rutin untuk menjaga kesehatan reproduksi. Deteksi dini sangat penting, terutama bagi perempuan yang berisiko tinggi, seperti mereka yang berusia di atas 35 tahun. Pada usia ini, risiko terkena kanker mulut rahim, kanker nomor dua terbanyak setelah kanker payudara, meningkat secara signifikan.

Kanker mulut rahim, atau kanker serviks, adalah salah satu penyakit yang sebenarnya dapat dideteksi sedini mungkin melalui pemeriksaan rutin seperti pap smear.

IDI Atambau merekomendasikan agar setiap perempuan melakukan pap smear setidaknya sekali dalam setahun, terutama bagi mereka yang telah memasuki usia rawan.

Ia juga menyarankan agar perempuan yang memiliki keluhan tertentu melakukan pemeriksaan lebih sering, misalnya setiap enam bulan sekali, agar potensi penyakit dapat dideteksi dan diatasi dengan cepat. (*)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *