Sukoharjonews.com – Berdasarkan studi yang dilakukan oleh University of Technology Sydney Australia menyatakan aspek-aspek kunci dari paparan lingkungan di masa kanak-kanak yang mempengaruhi pertumbuhan, seperti paparan atmosfer, bahan kimia, dan logam.
Dikutip dari Hindustan Times, Kamis, (28/12/2023) polusi udara dan suara, kepadatan penduduk, dan terbatasnya ruang hijau merupakan beberapa faktor utama paparan lingkungan pada awal kehidupan yang dapat berdampak pada pembangunan, demikian temuan penelitian baru.
Penelitian oleh University of Technology Sydney menganalisis 235 artikel penelitian dari 41 negara, telah menyoroti aspek-aspek penting dari paparan lingkungan pada masa kanak-kanak yang mempengaruhi pertumbuhan. Pada 2000 hari pertama kehidupan (0-5 tahun) dianggap sebagai periode kritis yang berdampak pada kesehatan fisik, kognitif, sosial, dan emosional di kemudian hari.
Faktor paparan lain yang penting bagi perkembangan anak termasuk atmosfer, paparan bahan kimia dan logam, fitur lingkungan yang dibangun, dukungan masyarakat, dan lingkungan tempat tinggal, kata para peneliti dalam penelitian mereka yang diterbitkan dalam jurnal Public Health Research and Practice.
Temuan ini membantu memahami risiko kesehatan dari kehidupan perkotaan, yang selanjutnya dapat memberikan masukan bagi perancangan dan perencanaan lingkungan perkotaan untuk meningkatkan hasil-hasil tersebut, karena diperkirakan pada tahun 2030, lebih dari 60 persen populasi dunia akan tinggal di wilayah perkotaan, kata tim.
“Perencana kota dan pembuat kebijakan perlu menyadari peran lingkungan perkotaan sehari-hari sebagai landasan bagi kesehatan dan kesejahteraan,” kata Ketua Peneliti, Erica McIntyre dari Institute for Sustainable Futures, University of Technology Sydney.
Salah satu kekhawatiran seputar kehidupan perkotaan yang paling banyak diselidiki oleh studi ini adalah polusi udara. Para peneliti menemukan bahwa paparan polutan seperti partikel dan racun yang dikeluarkan dari kendaraan dan industri dapat berdampak jangka panjang pada perkembangan saraf, selain menyebabkan masalah pernapasan seperti asma.
Mereka juga menemukan bahwa kurangnya akses terhadap taman, kebun, dan alam sekitar dapat membuat anak-anak kehilangan pengalaman sensorik penting dan kesempatan untuk bereksplorasi, sehingga berdampak pada perkembangan fisik dan kognitif.
Tim tersebut mengatakan bahwa temuan ini menyoroti perlunya untuk lebih memahami aspek desain perkotaan – seperti akses terhadap ruang hijau – yang dapat meningkatkan kesehatan mental, mengingat prevalensi masalah ini semakin meningkat pada anak-anak dan remaja.
“Menggabungkan desain yang ramah anak, menganjurkan lebih banyak ruang hijau, langkah-langkah pengurangan kebisingan dan polusi, serta lingkungan yang dapat dilalui dengan berjalan kaki yang mendorong aktivitas fisik hanyalah beberapa langkah yang membantu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak yang sehat,” ujar McIntyre.
Selain itu, kehidupan kota yang serba cepat sering kali membuat orang tua dan pengasuh merasa terputus dan kewalahan, serta tidak memiliki jaringan dukungan penting yang penting untuk perkembangan bayi yang sehat. Oleh karena itu, para keluarga menghadapi tantangan seperti isolasi sosial dan terbatasnya dukungan masyarakat, kata para peneliti.
“Program yang menyediakan kelas parenting, kelompok bermain, dan pusat komunitas dapat menumbuhkan koneksi dan jaringan dukungan yang penting untuk menghadapi tantangan dalam mengasuh anak,” ujar McIntyre.
Ia juga menekankan perlunya penelitian lebih lanjut, advokasi kebijakan, dan keterlibatan masyarakat untuk mengatasi tantangan membesarkan anak di perkotaan. (khofifah-mg4/nano)
Tinggalkan Komentar