Sukoharjonews.com – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono berkunjung ke Kabupaten Sukoharjo untuk panen raya padi di Desa Joho, Kecamatan Mojolaban, Senin (1/12/2025). Dalam kesempatan itu, Bupati Etik Suryani bersama Forkopimda turut mendampingi Wamentan.
Dalam kesempatan itu Bupati mengatakan, kehadiran Wamentan ke Sukoharjo merupakan bukti nyata komitmen pemerintah pusat dalam mendukung program pembangunan pertanian serta memperkuat sinergi antara pusat dan daerah demi kemajuan pertanian nasional. Panen raya tersebut bukan hanya seremoni, tetapi momentum untuk mensyukuri hasil kerja keras para petani.
“Keberhasilan sektor pertanian di Sukoharjo berkat kolaborasi harmonis antara petani, pemerintah daerah, dan seluruh stakeholder.
“Panen raya ini merupakan hasil dari kerja keras, kesabaran, dan dedikasi petani dalam mengelola lahan. Ini bukti sinergi yang kuat, demi mewujudkan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” sambung Etik.
Etik juga mengatakan, Kabupaten Sukoharjo menjadi penyangga beras di Jawa Tengah (Jateng). Pada tahun 2024, Sukoharjo mencatat surplus beras sebanyak 142.553 ton.
“Produk padi Sukoharjo premium, selalu dilirik daerah lain. Namun komitmen kami jelas. Prioritas utama adalah pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat Kabupaten Sukoharjo,” tegasnya.
Etik memaparkan produksi pertanian di Sukoharjo ditopang lahan sawah seluas 20.475 hektare. Rinciannya sawah irigasi teknis 14.464 hektare, irigasi setengah teknis 2.361 hektare, irigasi sederhana 1.728 hektare, dan sawah tadah hujan 1.948 hektare.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga September 2024, produktivitas padi mencapai 70,45 ton per hektare gabah kering giling (GKG). Sedangkan estimasi produksinya 345.341 ton GKG. Meski begitu, Etik menegaskan pemerintah daerah menyadari kebutuhan percepatan pembangunan sarana pendukung pertanian.
Tahun ini, Pemkab Sukoharjo mengalokasikan pembangunan berbagai infrastruktur pertanian. Seperti satu unit embung, dua sumur dangkal, 37 sumur dalam, 16 jalan usaha tani, serta 49 titik rehabilitasi jaringan irigasi tersier.
Sedangkan Wamentan Sudaryono menjelaskan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menetapkan suasembada pangan sebagai prioritas nasional. Dalam kurun setahun terakhir, presiden menerbitkan 19 regulasi untuk memperkuat sektor pertanian. Mulai dari kebijakan pupuk, benih, hingga irigasi.
“Yang kita inginkan adalah mengelola negara dengan cara Presiden Prabowo. Menempatkan pertanian sebagai prioritas utama. Pangan harus diproduksi dalam negeri, tidak boleh bergantung pada impor,” tegasnya.
Ia mencontohkan pembenahan distribusi pupuk, yang kini lebih sederhana dan tepat sasaran. Pemerintah juga menurunkan harga pupuk dan memperbaiki regulasi, agar langsung diterima petani tanpa perantara distributor.
“Pemerintah memastikan pupuk cukup, terjangkau, dan cepat sampai ke petani. Banyak keluhan tentang pupuk terlambat, itu semua mulai diselesaikan,” ujarnya.
Sudaryono juga menyoroti pembenahan besar-besaran di sektor irigasi melalui instruksi presiden. Seluruh irigasi, baik kewenangan pusat, provinsi, maupun kabupaten bisa diperbaiki langsung oleh pemerintah pusat jika dibutuhkan.
“Tahun ini presiden memperbaiki lebih dari 80 ribu titik irigasi se Indonesia. Sukoharjo termasuk yang mendapat perhatian, karena semangat petaninya luar biasa dan pemerintah daerahnya sangat serius,” tambah Sudaryono. (nano)
Tinggalkan Komentar