Sukoharjonews.com – Perusahaan Daerah (PD) Percada Sukoharjo diserang terkait pengadaan kalender yang dijual di sekolah-sekolah. Bahkan, Direktur Percada, Maryono didesak untuk mundur dari jabatannya.
Kepada wartawan, Maryono membantah Percada memaksa atau menekan sekolah, baik SD maupun SMP negeri untuk membeli kalender. Baik itu di tahun 2022 maupun di tahun 2023. “Kami sifatnya menawarkan ke sekolah, dan bukan paksaaan. Buktinya, tidak semua sekolah memesan kalenda ke Percada,” tandas Maryono, Kamis (10/8/2023).
Dikatakan Maryono, untuk SD, jumlah siswa mencapai 48 ribuandan siswa SMP 36 ribuan. Namun, sesuai data pesanan dari sekolah, jumlah yang pesan tidak mencapai jumlah siswa yang ada. Maryono mencontohkan, data untuk 2021 jumpah pesanan untuk jenjang SD hanya 19.379 kalender, sedangkan SMP hanya 24.530 kalender.
“Yang perlu digarisbawahi, ini bukan kalender biasa seperti kebanyakan, tapi kalender akademik. Terdiri dari tujuh halaman, full colour, menggunakan art paper 150 gram dengan harga hanya Rp20 ribu,” jelasnya.
Maryono juga menyampaikan, sebagai BUMD, Percada dituntut untuk memberikan kontribusi Pendapatan Ali Daerah (PAD). Nah, salah satu yang diproduksi adalah kalender akademik yang ditawarkan ke sekolah-sekolah.
“Kalau dibilang tidak koordinasi dengan Dinas Pendidikan, lha Percada itu memproduksi kalender sudah sejak lama hingga sekarang. Mungkin karena kepala dinasnya baru sehingga belum tahu. Yang pasti, kami sudah koordinasi dengan dinas,” ujarnya.
“Intinya Percada tidak mamaksa sekolah untuk pesan kalender. Kalau memaksa tentun semua harus pesan. Buktinya tidak semua sekolah yang pesan kalender di Percada,” sambungnya. (nano)
Tinggalkan Komentar