Sukoharjonews.com (Sukoharjo) – Industri tekstil di Kabupaten Sukoharjo tengah mengalami masalah. Kondisi tersebut memicu terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Dari data Forum Peduli Buruh (FPB) Sukoharjo, sebanyak 3.000 orang buruh industri tekstil telah mengalami PHK sejak September hinggaawal November 2022 ini.
“Informasinya pabrik tekstil terkena imbas resesi global. Kami terus pantau masalah ini khususnya terkait hak-hak butuh,” ujar Ketua FPB Sukoharjo yang juga Ketua Serikat Pekerja Republik Indonesia (SPRI) Sukoharjo, Sukarno, Senin (7/11/2022).
Menurutnya, selain karena resesi global, perusahaan tekstil juga terimbas perang Rusia dengan Ukraina. Informasinya, ujar Sukarno, pesanan yang masuk industri tekstil berkurang drastis dan juga mengalami kesulitan bahan baku kapas. Kondisi tersebut memicu PHK dan juga buruh yang dirumahkan.
“Jumlah buruh yang akan terkena status dirumahkan dan PHK kami perkiraan akan terus bertambah mmengingat resesi global sangat berpengaruh,” kata Sukarno.
“Sesuai data kami, ada 3.000 orang buruh. Paling banyak terkena PHK dan sedikitnya yang berstatus dirumahkan. Mereka bekerja di industri tekstil dengan berbagai bidang pekerjaan atau bagian,” sambungnya.
FPB Sukoharjo sendiri melakukan pendataan terhadap para buruh yang terkena PHK. Hal itu terkait dengan pemenuhan hak para buruh. Para buruh tersebut juga diminta memberikan informasi untuk mempermudah pendataan.
Adanya PHK membuat angka pengangguran di Kabupaten Sukoharjo juga ikut naik. FPB Sukoharjo berharap keterserapan tenaga kerja bisa meningkat seiring banyaknya industri dan pelaku usaha.
“Sebanyak 3.000 orang buruh ini berusaha mencari pekerjaan di industri lain. Khusus untuk yang dirumahkan juga menunggu kejelasan dari tempat kerja semula sampai ada panggilan kerja lagi,” tambahnya. (nano)
Tinggalkan Komentar