Dampak Judi Online dalam Islam

Dampak judi online dalam islam.(Foto : Goodstats)

Sukoharjonews.com – Fenomena judi online menjadi salah satu masalah sosial yang sangat meresahkan. Kegiatan ini telah menjangkiti berbagai lapisan masyarakat, termasuk kalangan usia muda yang masih produktif. Dalam pandangan Islam, perjudian termasuk dalam kategori haram. Ini bukan sekadar pendapat pribadi, melainkan telah dinyatakan dalam Fatwa Tarjih.


Dikutip dari Nu Online, pada Minggu (23/6/2024), dampak judi online dalam Islam antara lain:

1. Dampaknya pada akal pelaku
Syukri Ali Abdurrahman At-Thawil dalam tesisnya menukil penelitian Peter Karlson dosen kedokteran jiwa dari kampus New Jersey di Amerika pada sejumlah pelaku judi. Hasilnya, kecanduan pada judi menyebabkan tidak seimbangnya zat-zat kimia pada otak penikmatnya. Kemudian juga ditemukan zat dari otak pecandu judi yang serupa dengan pecandu minuman keras. (Syukri Ali Abdurrahman At-Thawil, Al-Qimar wa Anwa’uhu fi Dhauis Syariatil Islamiah, [Jordan, Al-Jamiah Al-Urduniah Kuliatus Syariah Ad-Dirasatul Ulya Qismul Fikhi wat Tasyri’: 1988 M], halaman 159- 160)

2. Dampaknya pada jiwa dan fisik penjudi

Dikutip dari halaman halodoc dalam Hati-Hati, Bahaya Kecanduan Judi Bisa Berdampak pada Kondisi Mental (halodoc.com), bahwa diantara efek negatif dari judi online adalah dapat memicu depresi. Pecandunya akan merasakan sedih, rendah diri, murung dan tidak bahagia. Hal ini jika terus dibiarkan maka akan berakibat fatal pada kesehatan fisik seseorang semisal dapat merusak urat syaraf dan peredaran darah. Akibatnya, akan berimbas pada serangan jantung, pembekuan darah dan penyakit-penyakit semacamnya yang dapat membunuh. (Syukri Ali Abdurrahman At-Thawil, Al-Qimar wa Anwa’uhu fi Dhauis Syariatil Islamiah, [Jordan, Al-Jamiah Al-Urduniah Kuliatus Syariah Ad-Dirasatul Ulya Qismul Fikhi wat Tasyri’: 1988 M], halaman 160).


3. Dampak pada agama si penjudi Allah swt berfirman:

اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui minuman keras dan judi serta (bermaksud) menghalangi kamu dari mengingat Allah dan (melaksanakan) shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (Al-Maidah: 91)

Ayat ini menyebutkan dua efek buruk dari perjudian bagi agama pelakunya, yaitu menghalangi dari mengingat Allah dan juga lalai menunaikan shalat. Penyebutan shalat dalam ayat di atas adalah sebagai informasi bahwa yang dimaksud ialah agama secara utuh karena shalat merupakan tonggak agama.

وخص الصلاة من الذكر بالإفراد للتعظيم، والإشعار بأن الصاد عنها كالصاد عن الإيمان من حيث أنها عماده

Artinya: “Dan pengkhususan kata shalat kala disebutkan dalam ayat, menunjukkan kemuliaan ibadah tersebut, dan juga sebagai informasi bahwa orang yang enggan menunaikan shalat sama dengan orang yang enggan menegakkan agamanya, karena shalat adalah tiang agama.” (Al-Baidhawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, [Beirut, Daru Ihyait Turats Al-‘Arabi:1418 H], jilid II, halaman 142.

Hal ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, seseorang bila menang dalam judi, maka pikirannya akan selalu tertuju pada nikmatnya kemenangan. Begitupun jika kalah maka ia akan selalu berpikir cara agar ia menang, yang mana semua itu ialah sebagai penghalang dari mengingat Allah.


4. Dampaknya pada harta pelaku
Salah satu maqhasidus syariah yang harus dijaga dan dilindungi oleh seorang Muslim adalah harta. Maka Islam sangat melarang israf dan tabzir, yaitu praktik menghambur-hamburkan harta pada perkara-perkara yang tidak berfaidah, dan judi diantaranya.

Penjudi apabila ia kalah, maka ia akan kembali mengajak rekannya untuk berjudi dengan harapan ia akan menuai kemenangan nantinya. Ketika ia menang, maka ia semakin penasaran hingga mengakibatkan ia miskin tak memiliki harta.

Fakhruddin Ar-Razi berkata:

ولا شك أنه بعد هذا يبقى فقيرا مسكينا

Artinya: “Dan tak diragukan lagi seorang penjudi setelah melakukannya maka akan menjadi fakir dan miskin.” (Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut, Daru Ihyait Turats Al-’Arabi: 1420 H], jilid XII, halaman 424).(cita septa)


How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *