Berikut Ini Amalan Istimewa di Hari Asyura – 10 Muharram

Ilustrasi. (Foto: Bincang Syariah)

Sukoharjonews.com – Selain puasa, ada beberapa kesunahan yang ada berkat hari Asyura atau 10 Muharram. Misal, zikir dan membaca Al-Quran. Tetapi Kesunahan yang paling utama di hari Asyura adalah membahagiakan keluarga.

Dilansir dari Bincang Syariah, Selasa (2/5/2026), hal ini sebagaimana ungkapan Syekh Ali Jum’ah.

ومن أهم هذه الوظائف: اجتماع الأسرة ، واجعلوها فرصة للقاء العائلة

“Yang paling urgen dari kesunnahan yaitu berkumpulnya keluarga dan menjadikan hari Asyura sebagai kesempatan untuk pertemuan keluarga”.

Keistimewaan yang terperoleh karena membahagiakan keluarga di hari Asyura ini berlandaskan hadis Nabi Muhammad, yang walau lemah, tetapi banyak jalan periwayatannya yang menopang satu sama lain.

Adapun hadisnya semisal diriwayatkan oleh Jabir sebagaimana tercatat dalam kitab Syarah Shahih al-Bukhari Ibnu Batthal juz 4 halaman 145.

عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ وَسَّعَ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Dari Abi Zubair, dari Jabir. Ia berkata bahwa pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang membahagiakan dirinya dan keluarganya di hari Asyura maka Allah akan melapangkan hidupnya di sisa tahun tersebut”.

Adapun yang dimaksud dengan melapangkan adalah membahagiakan. Oleh sebab itu, ulama salaf acap kali menafsiri memberi nafkah dengan lebih sebagai wujud membahagiakan keluarga.

Tetapi jika kita pahami, maka yang dimaksudkan melapangkan adalah membahagiakannya dengan bentuk apapun. Syekh Ali Jum’ah berkata.

, وتكون التوسعة بإدخال السرور على أهلك

“Dan ada apa melapangkan itu dengan cara memasukkan kebahagiaan atas keluarganya”.

Terlepas dari itu, membahagiakan keluarga di hari Asyura menjadi istimewa juga dikarenakan ditopang dengan bukti-bukti empiris berupa eksperimen-eksperimen dari kalangan ulama – selain karena landasan Nabi.

Sebut saja, Jabir yang meriwayatkan hadis tersebut telah membuktikannya. Abu Zubair, Abdullah bin Mas’ud, Syu’bah, Yahya bin Sa’id dan juga Imam Sufyan. Alasan inilah yang kemudian membawa mantan Mufti Dar al-Ifta, Syekh Ali Jum’ah menandaskan bahwa kesunahan yang paling istimewa di hari Asyura adalah membahagiakan keluarga.

Selain itu, beliau juga mengisahkan bagaimana ulama Abdullah bin Mubarak berulang-ulang melakukan eksperimen terkait hadis Nabi tersebut. Beliau menyebutkan.

فسيدنا عبد الله بن المبارك -وهو من السلف الصالح- كان يقول : جربته ستين عاما فوجدته صحيحا. يعني يوسع في عام على أولاده فيوسع الله عليه , ثم يتركه عاما فيجد أن الأمر قد تغير وهناك تضييق ، فيكرر الأمر ليتأكد فيظل الحال كما هو ، ثم يعود فيوسع على أهله وعياله فيجد من الخير والبركة ما الله به عليم

“Tuan kami, Abdullah bin al-Mubarak – termasuk kalangan salafus salih – bertutur. Saya melakukan eksperimen selama bertahun-tahun (kebenaran dari hadis Nabi yang mengatakan bahwa membahagiakan keluarga di hari Asyura bisa membuat bahagia di sisa tahunnya). Maka aku mengalami kebenaran dari hadis itu. Artinya, ia melapangkan kepada anak-anaknya di hari Asyura pada suatu tahun maka Allah Pun melangapangkan dirinya di sisa tahun tersebut.

Di tahun berikutnya, aku tidak melakukannya maka aku mengalami kesulitan ketimbang tahun sebelumnya. Ia pun melakukan secara berulang-ulang untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang kuat dan kondisinya terus demikian. Maka, Abdullah bin Mubarak terus melakukan kebaikan kepada keluarganya sehingga ia senantiasa mendapat kebaikan dan keberkatan”.

Selain kisah tersebut, Syekh Ali Jum’ah bertambah yakin karena beliau rupanya melakukan hal yang sama selama 43 tahun sebagaimana pengakuan beliau.

وأنا شخصيا جربته 43 سنة فوجدته صحيحا والحمد لله رب العالمين

“Saya sendiri telah membuktikan selama 43 tahun yang mana aku merasakan kebenarannya. Alhamdulillah”. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar