Amankah Mencukur Bulu Kemaluan saat Hamil? Berikut Ini Penjelasannya

Mencukur bulu kemaluan saat hamil mungkin bukan ide yang baik. (Foto: Freepik)

Sukoharjonews.com – Kebersihan area intim tidak boleh diabaikan, bahkan jika Anda sedang hamil. Namun, perlukah mencukur bulu kemaluan saat hamil?

Mencukur bulu kemaluan merupakan salah satu cara untuk menjaga kebersihan area intim, tetapi apakah aman selama kehamilan? Meskipun mencukur bulu kemaluan atau perineum merupakan praktik umum saat calon ibu bersiap melahirkan, mencukur bulu kemaluan sendiri mungkin tidak selalu disarankan.

Dikutip dari Healthshots, Sabtu (2/8/2025), setelah beberapa minggu kehamilan, wanita tidak dapat melihat bagian bawah perut mereka dan mungkin mengalami efek samping jika terjadi masalah. Apakah itu berarti wanita tidak boleh mencukur bulu kemaluan saat hamil?

Apa itu bulu kemaluan?
Bulu kemaluan adalah rambut yang tumbuh di area genital, menutupi area kemaluan. Ini adalah karakteristik seksual sekunder yang muncul selama masa pubertas dan bervariasi dalam ketebalan, warna, dan tekstur di antara setiap individu, kata Dr. Mridula Devi, pakar kedokteran ibu-janin, kebidanan, dan ginekologi.

Bolehkah wanita mencukur rambut kemaluan selama kehamilan?
Mencukur rambut kemaluan dapat memudahkan menjaga kebersihan pribadi selama kehamilan, tetapi mungkin ada beberapa efek samping.

1. Iritasi kulit
Mencukur rambut kemaluan dapat menyebabkan iritasi kulit, kemerahan, atau gatal. Efek samping ini mungkin lebih terasa selama kehamilan karena peningkatan sensitivitas, kata pakar tersebut.

2. Rambut tumbuh ke dalam
Mencukur meningkatkan risiko rambut tumbuh ke dalam, yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. Hal ini juga dapat menyebabkan infeksi jika tidak ditangani dengan benar.

3. Risiko luka
Kehamilan dapat mengubah pusat gravitasi wanita. Hal ini membuat bercukur menjadi lebih sulit dan meningkatkan risiko luka yang tidak disengaja.

4. Risiko infeksi
Luka terbuka atau goresan akibat mencukur rambut kemaluan berpotensi menimbulkan risiko infeksi yang lebih tinggi selama kehamilan.

Memilih untuk mencukur atau memangkas bulu kemaluan, daripada mencukurnya, seringkali dianggap sebagai pilihan yang lebih baik, kata Dr. Devi. Memangkas dapat memperpendek bulu kemaluan Anda tanpa memotong terlalu dekat dengan kulit. Abrasi mikroskopis yang terkait dengan pencukuran dapat meningkatkan kemungkinan infeksi. Jadi, memilih pendekatan yang lebih lembut seperti mencukur membantu menjaga kebersihan tanpa potensi kerugian yang terkait dengan pencukuran, sehingga memberikan pengalaman yang lebih nyaman.

Apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat mencukur bulu kemaluan selama kehamilan?
Jika Anda tetap ingin menghilangkan bulu kemaluan selama kehamilan, pastikan Anda memperhatikan beberapa hal.

Yang boleh:
• Gunakan krim atau gel cukur yang lembut untuk membantu mengurangi iritasi kulit.
• Gunakan pisau cukur yang bersih dan tajam, karena pisau cukur yang tumpul dapat meningkatkan risiko luka dan iritasi.
• Bercukurlah di area yang terang untuk meminimalkan risiko kecelakaan.
• Selama kehamilan, Anda bisa pusing dan jatuh saat mencoba melihat ke bawah, jadi bersandarlah di kursi atau toilet duduk saat bercukur.
• Gunakan cermin genggam untuk melihat vulva Anda dengan lebih baik. Mengamati diri sendiri saat mencukur bulu kemaluan dapat membantu.
• Bilas dengan air dingin untuk mengurangi kemerahan atau menenangkan kulit Anda.
• Tepuk-tepuk area pribadi Anda dengan lembut menggunakan handuk lembut, karena melakukannya dengan kasar dapat menyebabkan iritasi.

Yang Tidak Boleh Dilakukan:
• Hindari produk dengan pewangi yang kuat atau bahan kimia keras yang dapat mengiritasi kulit.
• Hindari mandi air panas segera setelah bercukur, karena air panas dapat memperparah iritasi kulit. Jadi, sebaiknya tunggu sebentar sebelum mandi air panas.
• Cukurlah searah pertumbuhan rambut Anda untuk mengurangi risiko rambut tumbuh ke dalam.

Mencukur bulu kemaluan selama kehamilan adalah pilihan pribadi. Dan jika Anda ingin melakukannya, pastikan Anda mengikuti aturannya. (nano)

Nano Sumarno:
Tinggalkan Komentar